Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ubah Sampah Jadi Berkah: 90 Siswa Kelas 4 SDMM Berguru Langsung ke DLH Gresik

Iklan Landscape Smamda
Ubah Sampah Jadi Berkah: 90 Siswa Kelas 4 SDMM Berguru Langsung ke DLH Gresik
Narasumber menyampaikan materi tentang sampah kepada siswa (Achmad Nazarudin/PWMU.CO)
pwmu.co -

Berada di dalam kelas tak membatasi semangat 90 siswa jenjang kelas 4 SD Muhammadiyah Manyar (SDMM). Pada Jumat, 9 Oktober 2026, suasana Aula SDMM mendadak riuh dan penuh antusias saat kedatangan guru tamu spesial dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik bersama tim Bank Sampah Giri.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Math (STEM) dengan mengusung tema “Paper to Nature”. Sekolah menerapkan Metode Pembelajaran Bybee yang kaya akan karakteristik inkuiri.

Koordinator kegiatan, Ria Eka Lestari, S.Si., M.Pd., menjelaskan bahwa kedatangan guru tamu ini berada pada tahap Exploration (Eksplorasi). Sebelumnya, pada tahap Engage (Keterikatan), para siswa telah diminta melakukan wawancara kepada warga sekolah terkait sampah yang paling banyak dihasilkan untuk menggali pengetahuan awal mereka.

“Metode ini dipakai karena karakteristik inkuirinya yang kuat dan sangat sesuai dengan pendekatan STEM,” ungkap Ria Eka Lestari yang juga pengajar Science.

Pengolahan Limbah

Dalam sesi pembelajaran tersebut, Nurul Fadlilah, S.T., selaku penyuluh lingkungan hidup dari DLH Gresik, membawakan materi menarik bertajuk Pengolahan Limbah Berdaya Jual. Para siswa diajak menonton video edukatif tentang pengelolaan sampah di Kabupaten Gresik.

Anak-anak tampak terpukau saat menyimak proses pengolahan sampah menjadi cacahan kecil menggunakan mesin Crusher melalui teknik Refuse Derived Fuel (RDF). Salah satu lokasi pengolahan RDF ini berada di Kedamean, di mana hasil cacahannya dibeli oleh PT Semen Indonesia sebagai bahan bakar alternatif.

Nurul memaparkan bahwa dengan jumlah penduduk Kabupaten Gresik yang mencapai 1,3 juta jiwa, volume timbulan sampah yang dihasilkan dapat menyentuh angka 402 ton per hari. Saat ini, pusat penumpukan sampah berada di TPA Ngipik. Penggunaan teknologi RDF menjadi solusi krusial untuk mengurangi beban timbunan sampah yang kian menggunung.

Tak hanya RDF, gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah di TPA Ngipik juga dimanfaatkan menjadi gas siap pakai yang disalurkan melalui pipa keĀ  rumah-rumah warga untuk kebutuhan memasak. Fungsinya sama seperti gas elpiji, namun dengan biaya yang jauh lebih ramah di kantong.

SMPM 5 Pucang SBY

Pemilahan Sampah

Interaksi aktif terpancar dari para siswa sepanjang acara. Mikaila Raquel Al Ghaniy Diharja dari kelas IV Paris menceritakan pengalamannya memilah sampah di rumah agar tidak tercampur. Hal ini seirama dengan pembiasaan di SDMM yang telah memisahkan sampah organik dan anorganik.

Sementara itu, Keisha Shakila Sakti (IV Paris) dan Nandana Akhdan Madani (IV Kyoto) tampil percaya diri saat menjawab tantangan narasumber. Dengan suara lantang, mereka menjelaskan tiga jenis sampah, yaitu organik, anorganik, dan residu.

Rasa ingin tahu yang tinggi juga ditunjukkan oleh Muhammad Farid Huwaidi Siswanto. Siswa yang akrab disapa Farid ini bertanya mengapa sampah di rumah atau sekolah tidak boleh dibakar maupun dibuang sembarangan. Para siswa pun dibuat terkejut saat narasumber menjelaskan adanya Peraturan Daerah (Perda) yang melarang pembakaran sampah karena mengganggu kenyamanan lingkungan, bahkan pelakunya dapat dikenakan sanksi pidana.

Pertanyaan kritis lainnya datang dari Aisyah Ayudia Inara dari kelas IV Sydney mengenai masalah utama limbah di Gresik. Narasumber menegaskan bahwa kapasitas TPA Ngipik cepat penuh akibat masih banyaknya masyarakat yang belum memilah sampah dari rumah.

Melalui wawasan langsung dari para ahli lingkungan ini, siswa diharapkan dapat memahami teori secara mendalam pada tahap exploration, sehingga mereka siap melangkah dan berkreasi secara maksimal pada tahap explanation berikutnya.

Perubahan besar untuk bumi tidak selalu dimulai dari langkah raksasa, melainkan dari kepedulian kecil di sekitar kita. Memilah sampah dari rumah dan membuangnya pada tempatnya mungkin terlihat sederhana, namun aksi kecil inilah yang menjadi benteng utama dalam menyelamatkan lingkungan. Mari jadikan pengetahuan sebagai pemantik aksi, karena masa depan bumi yang bersih dan hijau berada di tangan generasi yang peduli hari ini. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 10/10/2026 21:28
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu