Dalam beberapa waktu terakhir berkembang wacana bahwa Presiden Soekarno lahir di Ploso, Jombang. Para pegiat sejarah menolak klaim itu, dengan menyebut 3 alasan kuat Soekarno benar-benar lahir di Surabaya.
Seperti biasa. Siang itu (7/6/2026), setelah berkeliling mengunjungi bangunan heritage bernuansa Muhammadiyah. Saya mampir ke Lodji Besar, Jl Makam Peneleh 46 Surabaya. Ditemani Pemred PWMU.CO Agus Wahyudi dan Sekretaris Redaksi PWMU.CO Wildan Nanda Rahmatullah.
Menyusul kemudian Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah Genteng Surabaya, Azmi Izuddin, serta aktivis Abdul Kholiq. Pertemuan makin seru ketika para pegiat Begandring Soerabaia mulai berdatangan. Formasi mereka hampir lengkap secara jumlah.
Setelah ngobrol sana-sini, tibalah diskusi sangat serius terkait salah satu tokoh Muhammadiyah. Ir. Soekarno, sosok yang pernah menjabat sebagai Presiden RI 1945-1967. Yaitu tentang tempat lahirnya, Surabaya atau Jombang.
Maklum saja, akhir-akhir ini, muncul wacana bahwa Soekarno lahir di Ploso, Jombang. Klaim ini bertumpu pada dokumen Buku Induk Mahasiswa Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS), kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB), tahun 1921. Disebutkan dokumen itu, nama Raden Soekarno tercatat lahir pada 6 Juni 1902.
Disebutkan juga dalam dokumen itu bahwa Soekarno dilahirkan di Surabaya. Kata “Surabaya” dalam dokumen itu lantas ditafsirkan merujuk pada wilayah administratif Karesidenan Surabaya yang saat itu mencakup Ploso, Jombang.

Argumentasi ini ditambahi dengan data tugas sang ayah Soekarno. Beslit atau surat keputusan berbahasa Belanda tertanggal 28 Desember 1901, berisi mutasi Raden Soekeni dari Surabaya ke Ploso sebagai mantri guru. Karena diyakini lahir pada Juni 1902, otomatis diklaim jika Soekarno lahir di Ploso.
“Arsip tempat lahir sejak Kolonial Hindia Belanda itu sudah berdasarkan kota,” jelas Tri Priyo Wijoyo, menyoal dokumen Buku Induk Mahasiswa ITB.
Surabaya yang dimaksud dalam dokumen ITB itu, tambah TP Wijoyo, adalah Surabaya sebagai kota. Bukan Surabaya sebagai keresidenan.
Tak heran jika dalam dokumen yang sama seangkatan dengan Soekarno ditemukan ragam kota. Bukan keresidenannya. Raden Soepryo misalnya, tertulis lahir di Tulungagung, 13 September 1904. Di situ ditulis Tulungagung, bukan Kediri sebagai keresidenan yang membawahi Tulungagung.
Yang lebih telak lagi, banyak dokumen buku Induk mahasiswa ITB 1921 yang menyebut nama-nama kota di Jombang sebagai tempat kelahiran. Di antaranya Peterongan dan Mojoagung. Kedua kota ini tidak disebut dengan Surabaya, kendati masuk wilayah keresidenan Surabaya.
“Ini menunjukkan bahwa tafsir “Surabaya” buku induk mahasaswa ITB 1921 adalah keresidenan Surabaya, gugur dengan sendirinya. Banyak teman seangkatan Soekarno yang lahir di keresidenan Surabaya, tapi disebutkan kotanya. Misalnya Mojokerto, Peterongan, Mojoagung, dan lain-lainnya,” tegas TP Wijoyo.
“Ini membuktikan bahwa Surabaya adalah Surabaya. Tidak bisa ditafsirkan Keresidenan Surabaya. Jika Surabaya yang dimaksud, maka yang lahir di Mojokerto, Peterongan Jombang, harusnya tertulis Surabaya. Nyatanya kan tidak. Yang lahir di Mojokerto tetap ditulis Mojokerto. Yang lahir di Peterongan juga ditulis Peterongan, bukan Surabaya,” tambah pegiat Begandring lainnya, Kuncarsono Prasetyo.

Alasan kedua yang bisa mematahkan klaim Ploso Jombang, berbagai data data primer menyebut Soekarno lahir di Surabaya. Identitas Surabaya sebagai tempat lahir Bung Karno, tambah Kuncar, sudah sangat final secara dokumentasi.
“Ada 94 catatan primer yang ditulis saat Soekarno masih hidup, baik oleh dirinya sendiri maupun orang-orang terdekatnya,” terang Kuncar.
“Semua dokumennya ada. Arsipnya juga lengkap. Jika tidak percaya Soekarno lahir di Surabaya, masa lebih percaya pada orang yang bahkan tidak pernah bertemu dengan Soekarno?” sindir Kuncar.
Alasan ketiga, klaim Surabaya yang tertulis di buku Induk mahasiswa ITB sebagai keresidenan juga gugur jika melihat perkembangan sejarah. Patut diketahui bahwa istilah Keresidenan secara resmi dibubarkan sejak tahun 1958.
“Nyatanya, Bung Karno pada 1964 secara tegas menyatakan dirinya lahir di Surabaya. Padahal 6 tahun sebelumnya, istilah keresidenan sudah tidak berlaku di Indonesia.”
Momen pernyataan terbuka ini terjadi di Universitas Padjadjaran (Unpad) pada tanggal 23 Desember 1964. Bung Karno membenarkan pernyataan pembawa acara yang menyebutnya lahir Blitar. Dalam acara penerimaan gelar Doktor Honoris Causa itu, Bung Karno tegas menyebut dirinya lahir di Surabaya.
“Bukti lainnya juga bisa dilihat dari rekaman pidato Soekarno saat ulang tahun Universitas Airlangga pada 10 November 1964,” tambah Kuncar yang menyebut pidato Soekarno dengan logat Suroboyoan.
“Beliau bilang dalam rekaman itu: ‘Aku iki sak jane sik arek Surabaya, rek. Soale aku iki lahir Surabaya’. Beliau bicara begitu dalam konteks pidato di Surabaya, bukan Jombang,” pungkas Kuncar.
Begitulah kisah tempat kelahiran salah satu tokoh Muhammadiyah itu diperdebatkan di siang terik itu. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments