Hari ini, Ahad (7/6/2026), seharusnya menjadi penanda genap usia ke-40 tahun bagi Al Qodar Purwo Sulistyo. Namun, Allah Swt telah lebih dahulu memanggilmu kembali ke hadirat-Nya sebelum hari itu tiba.
Engkau meninggalkan keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mencintaimu dalam suasana yang masih sulit dipercaya. Kepergianmu datang begitu cepat, menyisakan duka mendalam bagi mereka yang selama ini berjalan bersamamu dalam pengabdian dan perjuangan.
Meski kita baru saling mengenal sejak tahun 2017, rentang waktu yang relatif singkat itu tidak pernah terasa seperti hubungan dua orang yang baru bertemu. Sebaliknya, kebersamaan dalam menjalankan amanah di Persyarikatan Muhammadiyah menghadirkan kedekatan layaknya sahabat lama yang dipersatukan oleh cita-cita dan perjuangan yang sama.
Dalam berbagai kesempatan, engkau selalu menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap amanah yang diemban. Tidak banyak berbicara tentang diri sendiri, tetapi lebih banyak bekerja dan menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan. Bagimu, amanah bukanlah kebanggaan yang harus dipamerkan, melainkan kewajiban yang harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya.
Pesan yang selalu kau sampaikan hingga kini masih terngiang dalam ingatan banyak orang:
“Jangan mencari jabatan. Tetapi ketika diberikan amanah jabatan, jangan pergi dan jangan menghindar.”
Kalimat sederhana itu menjadi prinsip hidup yang kau pegang teguh. Apa yang kau ucapkan benar-benar tercermin dalam perjalanan hidupmu. Engkau tidak pernah terlihat berambisi mengejar posisi, tetapi ketika amanah datang, engkau menerimanya dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhan.
Pengabdianmu kepada Persyarikatan Muhammadiyah telah dimulai sejak lama. Tercatat sejak tahun 2002 engkau menjadi anggota Muhammadiyah dengan Nomor Baku Muhammadiyah (NBM) 906317. Sejak saat itu, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi bagimu, melainkan rumah besar perjuangan yang membentuk karakter, pemikiran, dan jalan hidupmu.
Berbagai amanah pernah kau emban dalam Persyarikatan. Sebagai Ketua KOKAM Surabaya, Ketua PCM Dukuh Pakis, anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Surabaya, Ketua Program Studi S-1 Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), serta berbagai tugas lainnya, engkau hadir sebagai sosok yang siap bekerja tanpa banyak mengeluh.
Namun, pengabdianmu tidak hanya berhenti di lingkungan Muhammadiyah. Dalam perjalanan hidupmu, engkau juga terlibat aktif dalam berbagai agenda kemasyarakatan dan kebangsaan. Keterlibatanmu dalam penyelenggaraan agenda nasional, khususnya pemilihan umum, menjadi bagian penting dari kontribusimu bagi bangsa dan negara. Pengalaman sebagai Komisioner Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan Kenjeran menunjukkan komitmenmu terhadap nilai-nilai demokrasi dan penguatan partisipasi masyarakat.
Demikian pula dalam organisasi kemasyarakatan, engkau turut mengemban amanah sebagai Sekretaris Dewan Masjid Indonesia Kecamatan Kenjeran. Melalui ruang pengabdian tersebut, engkau berupaya menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan umat.
Di tengah berbagai aktivitas dan amanah yang begitu banyak, ternyata engkau sedang berjuang melawan sakit. Sebuah perjuangan yang selama ini kau simpan rapat dari banyak orang. Tidak banyak yang mengetahui bahwa tubuhmu sedang berusaha bertahan di tengah kesibukan yang tetap kau jalani sebagaimana biasa.
Hingga akhirnya, menjelang keberangkatanmu untuk menjalani ikhtiar pengobatan ke RS Kariadi Semarang, beberapa sahabat dekat mulai mengetahui kondisi yang sebenarnya. Kabar itu datang secara tiba-tiba dan membuat banyak orang terkejut. Tidak sedikit yang berharap dan berdoa agar engkau segera pulih serta kembali menjalankan aktivitas seperti sediakala.
Namun, Allah Swt memiliki ketentuan terbaik bagi setiap hamba-Nya.
Kamis, 28 Mei 2026 M bertepatan dengan 11 Zulhijah 1447 H menjadi hari yang membawa kabar berat bagi keluarga, sahabat, kader Muhammadiyah, kolega, dan semua orang yang mengenalmu. Hari ketika berita kepergianmu menyebar dan meninggalkan kesedihan yang mendalam.
Engkau pergi dalam keadaan masih memikul banyak harapan. Meninggalkan seorang istri dan dua putra yang selama ini menjadi sumber semangat perjuanganmu. Namun, kami meyakini bahwa nilai-nilai yang telah engkau tanamkan akan terus hidup dan menjadi warisan berharga bagi keluarga serta generasi penerus.
Kawan, mungkin usia yang Allah berikan kepadamu tidak panjang menurut hitungan manusia. Namun, jejak pengabdianmu jauh melampaui panjang usia itu sendiri. Engkau telah menunjukkan bahwa hidup yang bermakna bukanlah tentang berapa lama seseorang hidup, melainkan tentang apa yang ditinggalkan selama hidupnya.
Hari ini, di hari yang seharusnya menjadi peringatan ulang tahunmu yang ke-40, kami tidak lagi dapat menyampaikan ucapan selamat secara langsung. Yang mampu kami kirimkan hanyalah doa yang tulus.
Semoga Allah Swt menerima seluruh amal ibadah, pengabdian, ilmu, dan kebaikan yang telah engkau persembahkan. Semoga Allah melapangkan kuburmu, mengampuni segala khilaf dan kekuranganmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya bersama orang-orang saleh.
Selamat jalan, kawan. Namamu akan tetap dikenang. Nasihatmu akan tetap diingat. Jejak perjuanganmu akan terus menjadi inspirasi bagi mereka yang melanjutkan amanah pengabdian di Muhammadiyah, umat, dan bangsa. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments