Ada nikmat yang sering kita rasakan, tetapi jarang kita sadari nilainya. Kita bangun pagi dalam keadaan sehat. Bisa makan. Bisa bekerja. Bisa berkumpul dengan keluarga. Memiliki rumah untuk berteduh. Memiliki penghasilan. Memiliki orang-orang yang menyayangi kita. Semua itu nikmat.
Tetapi ada satu nikmat yang jauh lebih besar dari semuanya: nikmat Islam. Bayangkan seseorang memiliki rumah megah, kendaraan mahal, tabungan melimpah, jabatan tinggi, dan hidup serba berkecukupan. Namun ia menjalani hidup tanpa mengenal Allah. Ia tidak mengenal tauhid. Ia tidak memiliki iman.
Apa arti semua kenikmatan itu jika pada akhirnya kehidupan berakhir dalam kekufuran?
Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana. Rumahnya kecil. Penghasilannya pas-pasan. Pakaiannya tidak mahal. Makan pun terkadang sederhana.
Namun setiap kali mendengar azan, hatinya tergerak menuju salat. Ketika mendapat rezeki, ia mengucapkan hamdalah. Ketika mendapat musibah, ia bersabar. Ketika berbuat salah, ia segera memohon ampun kepada Allah.
Ia mungkin tidak memiliki banyak harta. Tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: iman dan Islam.
Itulah sebabnya nikmat Islam adalah nikmat terbesar yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia. Tidak ada kenikmatan dunia yang dapat menggantikannya.
Sebab sebanyak apa pun kenikmatan dunia yang kita miliki, semuanya menjadi tidak berarti jika manusia hidup tanpa Islam dan kemudian meninggal dalam keadaan kafir.
Kehidupan dunia hanya sementara. Rumah yang kita bangun akan kita tinggalkan. Harta yang kita kumpulkan akan berpindah tangan. Jabatan akan berakhir. Tubuh yang kita rawat pun pada akhirnya kembali ke tanah. Yang akan kita bawa menghadap Allah adalah iman dan amal.
Karena itu, jangan hanya bersyukur ketika mendapatkan rezeki berupa uang. Jangan hanya bersyukur ketika memperoleh kesehatan, pekerjaan, rumah, atau kendaraan.
Syukurilah terlebih dahulu nikmat terbesar yang sering kita anggap biasa: kita dilahirkan dan masih diberi kesempatan hidup sebagai seorang Muslim.
Kita bisa mengucapkan la ilaha illallah. Kita bisa bersujud kepada Allah. Kita bisa membaca Al-Qur’an. Kita bisa berdoa. Kita bisa bertaubat ketika melakukan kesalahan. Semua itu adalah nikmat yang luar biasa.
Kelak manusia akan melewati perjalanan akhirat dengan keadaan yang berbeda-beda. Orang-orang beriman akan melewati shirath sesuai dengan kadar iman dan amal mereka. Ada yang melewatinya dengan cepat dan mudah. Ada yang melewatinya dengan kesulitan. Bahkan ada yang terjatuh ke dalam neraka.
Namun orang yang meninggal dalam keadaan beriman dan mentauhidkan Allah tidak akan kekal di dalam neraka. Pada akhirnya, dengan rahmat Allah, ia akan memperoleh keselamatan dan masuk ke dalam surga.
Betapa mahalnya nikmat Islam. Karena itu, jangan pernah merasa bahwa menjadi seorang Muslim adalah sesuatu yang biasa.
Boleh jadi kita setiap hari melewati masjid tanpa menyadari betapa besar nikmat ketika masih bisa mendengar azan.
Boleh jadi kita membuka Al-Qur’an tanpa menyadari betapa besar nikmat ketika masih diberi kesempatan membaca firman Allah.
Boleh jadi kita bersujud dalam salat tanpa menyadari bahwa tidak semua manusia mendapatkan hidayah untuk mengenal Tuhannya dan tunduk kepada-Nya.
Maka jagalah nikmat itu.
Pertahankan Islam dalam kehidupan kita sampai akhir hayat. Jangan sampai kehidupan yang panjang justru berakhir dengan kehilangan iman.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tugas seorang Muslim bukan hanya menjadi Muslim hari ini. Kita harus berusaha mempertahankan iman sampai kematian datang. Sebab kita tidak pernah tahu kapan perjalanan dunia ini berakhir.
Bisa jadi pagi ini kita masih bercanda dengan keluarga. Siang harinya masih bekerja. Sore masih berbincang dengan teman. Tetapi malamnya kita sudah dipanggil menghadap Allah.
Maka jangan menunda taubat. Jangan menunda memperbaiki salat. Jangan menunda belajar agama. Jangan merasa masih memiliki banyak waktu. Meninggal dalam keadaan Islam adalah nikmat yang harus terus kita mohonkan kepada Allah.
Siapa saja yang tidak masuk Islam setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meninggal dalam keadaan kafir, maka ia menjadi penghuni neraka dan kekal di dalamnya. Wal ‘iyadzubillah.
Karena itu, mari kita jaga nikmat terbesar ini. Jaga tauhid. Jaga salat. Jaga amal. Jaga hati. Jaga keluarga. Dan teruslah memohon kepada Allah agar diberikan keistiqamahan hingga akhir kehidupan.
Semoga Allah menjaga kita dalam Islam, meneguhkan iman kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah.
Semoga ketika ajal datang, kita tidak sedang jauh dari Allah. Semoga kalimat terakhir yang keluar dari lisan kita adalah kalimat tauhid. Dan semoga kita semua dikumpulkan Allah di dalam surga-Nya. Aamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments