Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dadang Kahmad menegaskan pentingnya penguatan media Muhammadiyah di tengah perubahan teknologi digital yang berlangsung cepat. Media AfiliasiMu, menurutnya, tidak cukup hanya menjadi penyampai informasi, tetapi harus mampu menjadi kekuatan komunikasi yang mencerahkan, mencerdaskan, dan memberi kemaslahatan bagi masyarakat.
Hal itu disampaikan Dadang saat membuka Jambore Media AfiliasiMu #3 dengan tema “Penguatan Media AfiliasiMu dalam Era Digital” di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Rabu 12/6/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan para pengelola dan insan media AfiliasiMu untuk memperkuat kapasitas, kualitas konten, dan kolaborasi media Muhammadiyah.
Dadang mengapresiasi penyelenggaraan jambore tersebut. Ia menilai forum ini bukan sekadar pertemuan para pengelola media, melainkan momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa media merupakan bagian penting dari gerakan Muhammadiyah.
“Jambore ini bukan sekadar pertemuan para pengelola media. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk memperkuat kesadaran kita bahwa media merupakan bagian penting dari gerakan Muhammadiyah di tengah perubahan zaman yang sangat cepat,” ujar Dadang.
Menurutnya, perubahan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Jika sebelumnya masyarakat mengandalkan surat kabar, radio, dan televisi, kini informasi dapat diterima dalam hitungan detik melalui telepon genggam. Kondisi itu juga membuat setiap orang dapat menjadi pembuat sekaligus penyebar informasi.
Dalam situasi tersebut, Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi. Muhammadiyah harus mampu menjadi produsen informasi yang berkualitas, terpercaya, mencerahkan, dan membawa kemaslahatan.
“Keberadaan Media AfiliasiMu menjadi sangat penting dan strategis,” tegasnya.
Dadang mengatakan media Muhammadiyah harus melampaui fungsi pemberitaan kegiatan rutin. Media perlu menjadi ruang bagi gagasan, ilmu pengetahuan, dakwah, pendidikan, kebudayaan, serta pembelaan terhadap kepentingan umat.
Dia menekankan pentingnya membangun media yang tidak hanya cepat, tetapi juga benar. Bukan sekadar ramai, tetapi bermutu. Bukan hanya mengejar jumlah penonton dan pengikut, melainkan mampu membangun kepercayaan publik.
Menurut Dadang, tantangan media saat ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan banjir informasi. Masyarakat setiap hari berhadapan dengan berita, opini, video, gambar, dan komentar yang tidak seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan.
“Di antara fakta terdapat hoaks. Di antara edukasi terdapat provokasi. Karena itu, media Muhammadiyah harus menjadi penjaga kualitas informasi,” katanya.
Untuk itu, prinsip tabayyun harus menjadi bagian penting dari etika pengelolaan media Muhammadiyah. Kecepatan, kata Dadang, tidak boleh mengalahkan ketepatan. Popularitas tidak boleh mengalahkan kebenaran. Kepentingan mendapatkan perhatian publik juga tidak boleh mengalahkan akhlak dan tanggung jawab.
Dia berharap Media AfiliasiMu mampu membangun jurnalisme Muhammadiyah yang cepat, akurat, berimbang, beretika, mencerdaskan, dan mencerahkan.
Manfaatkan Peluang Teknologi Digital
Di sisi lain, Dadang melihat perkembangan teknologi digital sebagai peluang besar bagi Muhammadiyah untuk memperluas jangkauan dakwah dan pemikiran. Artificial intelligence (AI), media sosial, video pendek, podcast, live streaming, mesin pencari, dan berbagai platform digital dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan gagasan Muhammadiyah.
Dia mencontohkan gagasan seorang kader di daerah kini dapat dibaca masyarakat di berbagai belahan dunia. Demikian pula ceramah, pemikiran guru, dosen, peneliti, mahasiswa, dan kader dapat menjangkau audiens yang jauh lebih luas melalui platform digital.
“Bayangkan, sebuah gagasan yang ditulis oleh seorang kader Muhammadiyah di daerah dapat dibaca oleh masyarakat di seluruh dunia,” ujarnya.
Karena itu, insan media Muhammadiyah dituntut tidak hanya menguasai keterampilan teknis seperti kamera, desain, editing, algoritma, dan media sosial. Mereka juga perlu memiliki wawasan keislaman dan kemuhammadiyahan, kemampuan jurnalistik, literasi digital, integritas, serta kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
Dadang berharap Jambore Media AfiliasiMu menjadi ruang belajar bersama. Para peserta tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga pengetahuan. Fokusnya bukan semata-mata bagaimana membuat konten viral, melainkan bagaimana menghasilkan konten yang memiliki nilai dan manfaat.
“Tujuan akhir media Muhammadiyah bukan sekadar viralitas, tetapi kemanfaatan. Bukan sekadar pengakuan, tetapi perubahan positif di tengah masyarakat. Bukan sekadar memperbesar jumlah pengikut, tetapi memperbesar pengaruh kebaikan,” tuturnya.
Bangun Ekosistem Media Muhammadiyah
Lebih jauh, Dadang mendorong terbentuknya ekosistem media Muhammadiyah yang kuat dan terintegrasi. Media Muhammadiyah di tingkat pusat, wilayah, daerah, perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, amal usaha, organisasi otonom, hingga komunitas kader diharapkan dapat saling memperkuat.
Ia menawarkan semangat “Satu gerakan, banyak kanal; banyak kanal, satu nilai.”
Menurutnya, banyaknya media, platform, dan gaya komunikasi tidak menjadi persoalan selama seluruhnya membawa nilai dasar yang sama. Nilai tersebut meliputi Islam Berkemajuan, dakwah yang mencerahkan, ilmu pengetahuan, kemanusiaan, kebangsaan, dan kemaslahatan.
Pada akhir sambutannya, Dadang menyebut tiga hasil penting yang diharapkan dari Jambore Media AfiliasiMu #3, yakni peningkatan kapasitas, peningkatan kualitas konten, dan peningkatan kolaborasi.
“Dengan demikian, Media AfiliasiMu tidak hanya menjadi jaringan media Muhammadiyah, tetapi menjadi kekuatan komunikasi digital Muhammadiyah yang mampu menghadirkan gagasan Islam Berkemajuan kepada masyarakat luas,” katanya.
Dadang kemudian secara resmi membuka Jambore Media AfiliasiMu #3 dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim.
Dia berharap kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mengembangkan media Muhammadiyah yang mencerahkan, mencerdaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan bangsa. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments