Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pendidikan Tak Boleh Dikorbankan, Konjen Tiongkok Soroti Persaingan Talenta di Seminar MEA 2026

Iklan Landscape Smamda
Pendidikan Tak Boleh Dikorbankan, Konjen Tiongkok Soroti Persaingan Talenta di Seminar MEA 2026
Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya, Ye Su, menjadi narasumber dalam Seminar MEA 2026. Foto: UMM
pwmu.co -

Pendidikan tidak boleh dikorbankan dalam kondisi ekonomi sesulit apa pun. Sebab, masa depan sebuah negara sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan kemampuan talenta yang dimilikinya.

Pesan tersebut disampaikan Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya, Mr. Ye Su, dalam Seminar Muhammadiyah Education Awards (MEA) 2026 bertema “The Rise of Muhammadiyah Youth Generation for Future Leader” di Auditorium Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (8/8/2026).

Seminar yang digelar Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur itu diikuti ratusan guru dan kepala sekolah Muhammadiyah.

Di hadapan para pendidik, Ye Su menegaskan bahwa investasi di bidang pendidikan harus tetap menjadi prioritas, termasuk ketika negara menghadapi keterbatasan ekonomi. Menurut dia, persaingan antarnegara pada akhirnya bukan hanya persoalan ekonomi, teknologi, atau kekuatan politik, melainkan juga persaingan dalam mencetak talenta.

“Betapapun miskinnya kondisi negara, pendidikan tidak boleh dikorbankan. Persaingan antarnegara pada hakikatnya adalah persaingan talenta,” tegas Ye Su.

Ia kemudian mencontohkan perjalanan Tiongkok dalam membangun sektor pendidikan. Ketika Republik Rakyat Tiongkok berdiri pada 1949, tingkat buta huruf di negara tersebut masih mencapai lebih dari 80 persen. Namun, melalui kebijakan pendidikan yang konsisten, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 2,67 persen pada 2025.

Komitmen itu, lanjut Ye Su, juga tercermin dari kebijakan fiskal pemerintah Tiongkok yang konsisten menjaga belanja pendidikan di atas empat persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional.

Menurutnya, kemajuan pendidikan tidak hanya bergantung pada pemerintah. Partisipasi masyarakat dan kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting, termasuk keterlibatan dunia usaha, organisasi sosial, dan masyarakat luas.

Pendidikan, kata dia, tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai beban administratif negara. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama sekaligus investasi sosial untuk memastikan anak-anak memperoleh kesempatan meraih masa depan yang lebih baik.

Ye Su mencontohkan Project Hope sebagai salah satu wadah yang mempertemukan partisipasi berbagai elemen masyarakat dalam mendukung pendidikan. Melalui program tersebut, dukungan sosial dapat disalurkan secara lebih terstruktur untuk membantu anak-anak di daerah tertinggal, mengurangi angka putus sekolah, serta mendukung pembangunan fasilitas pendidikan.

Pendidikan Harus Menyiapkan Generasi Global

Pesan mengenai pentingnya kualitas pendidikan juga disampaikan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Didik Suhardi, Ph.D.

Menurut Didik, tantangan pendidikan saat ini tidak lagi berhenti pada persoalan pemerataan akses. Sekolah juga dituntut mampu melahirkan lulusan yang memiliki daya saing internasional dan mampu berkolaborasi dalam lingkungan masyarakat global.

SMPM 5 Pucang SBY

Karena itu, kemampuan berbahasa asing menjadi salah satu kompetensi yang perlu diperkuat. Salah satunya melalui penerapan pembelajaran bilingual.

Didik menilai, penguasaan bahasa asing tidak sekadar membuat peserta didik mampu berkomunikasi dengan masyarakat dari negara lain. Lebih dari itu, kemampuan tersebut menjadi pintu untuk membangun jejaring dan membuka ruang kolaborasi internasional.

“Dalam pengembangan bahan ajar, salah satu poin adalah communication skills yang kita dapat bangun dengan pembelajaran bilingual. Karena tanpa bahasa yang bagus, tidak mungkin kita bisa berkolaborasi dan membangun jaringan dengan warga dunia,” jelasnya.

Dengan demikian, sekolah Muhammadiyah dituntut tidak hanya membangun kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga menyiapkan mereka menghadapi perubahan dunia yang semakin terbuka dan kompetitif.

Akreditasi Harus Melahirkan Budaya Mutu

Sementara itu, Ketua Badan Standar dan Akreditasi Nasional Pendidikan (BSANP), Prof. Waras Kamdi, M.Pd., mengingatkan para pendidik agar mengubah cara pandang terhadap akreditasi sekolah.

Menurutnya, akreditasi tidak seharusnya berhenti pada pencapaian administratif atau sekadar mengejar sertifikat. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana proses akreditasi mendorong sekolah membangun budaya mutu secara berkelanjutan.

Sekolah dengan budaya mutu, kata Waras, akan terbiasa melakukan evaluasi, mengenali kekurangan, melakukan perbaikan, dan terus menghadirkan inovasi.

“Jangan puas hanya mendapatkan sertifikat. Yang lebih penting adalah tumbuhnya budaya mutu di sekolah, sehingga akreditasi dapat menyatu dengan setiap satuan pendidikan,” pungkasnya.

Rangkaian pesan dalam Seminar MEA 2026 tersebut menegaskan satu hal: pendidikan tidak cukup hanya diperluas aksesnya, tetapi juga harus dijaga kualitasnya. Sekolah dituntut melahirkan generasi yang berkarakter, menguasai kompetensi global, mampu berkomunikasi lintas budaya, dan siap menjadi talenta yang menentukan masa depan bangsa. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 11/08/2026 20:48
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu