Fasilitas sekolah yang berkelas ternyata tidak otomatis berbanding lurus dengan prestasi yang moncer. Muhammadiyah Education Awards (MEA) 2026 justru memperlihatkan fakta menarik: sekolah-sekolah Muhammadiyah di luar pusat kota mampu bersaing, meraih medali, bahkan tampil sebagai juara umum, di tengah anggapan bahwa sekolah dengan fasilitas paling lengkap semestinya lebih dominan.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa prestasi pendidikan tidak semata-mata ditentukan gedung megah, teknologi canggih, atau kelengkapan fasilitas. Kepemimpinan kepala sekolah, kualitas guru, pelayanan, program unggulan, budaya belajar, dan kemampuan sekolah menciptakan keunikan justru menjadi faktor yang tak kalah menentukan.
Penjelasan itu disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr. Muhammad Sholihin Fanani, M.PSDM saat membaca hasil MEA 2026. Menurutnya, capaian sekolah-sekolah dari berbagai daerah menjadi bukti bahwa peningkatan mutu pendidikan Muhammadiyah mulai bergerak semakin merata.
“Fasilitas yang berkelas tidak linier dengan prestasi. Prestasi tidak hanya ada di sekolah perkotaan,” tegas Sholihin kepada PWMU.CO, Senin (10/8/2026).
Hasil MEA 2026 memperlihatkan bahwa sekolah-sekolah Muhammadiyah di pusat kota tidak otomatis mendominasi perolehan medali maupun gelar juara umum.
Prestasi justru tersebar ke berbagai daerah. Sekolah dan madrasah Muhammadiyah yang berada jauh dari pusat perkotaan mampu menunjukkan kualitasnya dalam kompetisi. Bahkan, sejumlah sekolah daerah berhasil keluar sebagai juara umum di jenjang masing-masing.
Bagi Sholihin, fenomena ini merupakan perkembangan positif. Sebab, peningkatan kualitas pendidikan Muhammadiyah tidak seharusnya hanya dinikmati sekolah yang sejak awal memiliki sumber daya dan fasilitas relatif lengkap.
“Sekarang memang semua berlomba meningkatkan kualitas sekolah,” katanya.
Muhammadiyah, lanjutnya, terus mendorong perbaikan kualitas sekolah baik di pusat maupun daerah. Peningkatan itu mencakup jumlah dan kualitas peserta didik, pelayanan, fasilitas, hingga prestasi.
Berbagai program pembinaan dan pendampingan terus dilakukan untuk memastikan sekolah-sekolah di daerah tidak berjalan sendiri.
“Pimpinan Persyarikatan turun ke berbagai daerah untuk melakukan pendampingan, pembinaan, dan evaluasi. Forum pengembangan kepala sekolah, pelatihan, kompetisi, serta berbagai program peningkatan mutu menjadi bagian dari upaya tersebut,” ungkapnya.
Dampaknya mulai terlihat. Sekolah-sekolah di daerah yang sebelumnya kurang berkembang mulai memiliki keberanian untuk berbenah dan menunjukkan prestasi.
Bukan Sekadar Menambah Jumlah Siswa
Sholihin mengingatkan, sekolah yang sudah maju agar tidak terjebak pada ukuran keberhasilan yang hanya didasarkan pada pertumbuhan jumlah peserta didik.
Bertambahnya siswa memang menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat. Namun, pertumbuhan tersebut harus berjalan bersama peningkatan mutu.
“Sekolah maju tidak boleh terlena. Tidak boleh puas dengan fasilitas yang dimiliki. Jangan hanya siswanya bertambah, tetapi harus diimbangi dengan prestasi,” ujarnya.
Karena itu, imbuh dia, sekolah perlu terus melakukan evaluasi terhadap kualitas layanan, proses pembelajaran, prestasi akademik dan nonakademik, serta kemampuan menciptakan inovasi.
“Sekolah dengan fasilitas lengkap tetap harus bergerak. Sebab, teknologi dan fasilitas yang hari ini dianggap unggul bisa menjadi biasa saja beberapa tahun kemudian. Sebaliknya, sekolah dengan keterbatasan fasilitas tetap dapat berkembang apabila mampu mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki,” terang doses Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) ini.
Menurut Sholihin, salah satu faktor penting dalam pemerataan mutu pendidikan adalah kualitas guru.
Muhammadiyah terus mendorong pelatihan guru yang tidak hanya berkaitan dengan kurikulum, tetapi juga pendidikan karakter, profesionalisme, branding sekolah, pelayanan prima, serta penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
Guru yang kompeten akan membantu sekolah mengubah keterbatasan menjadi peluang. Sekolah tidak harus memiliki puluhan program untuk disebut unggul. Satu atau dua program yang kuat dan unik justru dapat menjadi identitas yang membedakan sekolah tersebut.
“Tidak harus banyak program. Satu atau dua program saja, tetapi unik,” kata Sholihin.
Program itu bisa berupa robotika, pendidikan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, atau kegiatan yang memperluas wawasan siswa melalui studi banding, termasuk ke luar negeri.
Keunikan tersebut penting karena sekolah tidak cukup hanya menawarkan fasilitas. Sekolah harus memiliki alasan yang membuat masyarakat tertarik dan percaya.
Lima Strategi Sekolah Kecil
Menurut Sholihin, sekolah yang kecil atau berada di daerah bukan berarti tidak memiliki peluang untuk tampil dan menjadi unggulan. Dia menawarkan lima strategi yang dapat diterapkan sekolah untuk membangun daya saing.
Pertama, meningkatkan pelayanan prima. Pelayanan menjadi wajah pertama sekolah. Orang tua tidak hanya melihat ruang kelas dan fasilitas, tetapi juga bagaimana sekolah memperlakukan siswa dan wali murid.
Kedua, menciptakan rasa aman dan nyaman. Sekolah harus mampu menjadi tempat yang membuat siswa nyaman belajar dan orang tua merasa tenang menitipkan anaknya.
“Rasa aman dan nyaman dapat menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan masyarakat,” cetus dia.
Ketiga, menciptakan program yang unik. Sekolah tidak perlu meniru seluruh program sekolah besar. Justru, sekolah perlu menemukan kekhasannya sendiri.
Program robotika, pendidikan karakter, pembelajaran berbasis proyek, kegiatan sosial, hingga pengalaman belajar di luar negeri dapat menjadi pembeda apabila dikelola secara serius.
Keempat, mempublikasikan prestasi sekecil apa pun. Prestasi sekolah perlu dikomunikasikan melalui media massa maupun media sosial.
}Tidak harus menunggu menjadi juara nasional. Prestasi siswa dalam tingkat lokal sekalipun layak dipublikasikan,” katanya.
Menurut Sholihin, publikasi akan memberikan efek ganda. Selain memperkenalkan sekolah kepada masyarakat, publikasi juga dapat meningkatkan motivasi siswa dan orang tua.
“Ini memotivasi anak dan orang tua,” ujarnya.
Kelima, menceritakan kegiatan sekolah. Sekolah harus mampu mengomunikasikan berbagai kegiatan positif yang dilakukan. Proses belajar, kreativitas siswa, kegiatan guru, inovasi, hingga aktivitas sosial perlu diceritakan kepada publik.
“Dengan begitu, masyarakat tidak hanya mengetahui nama sekolah, tetapi juga memahami apa yang dikerjakan dan nilai apa yang ditawarkan,” tutur dia.
Sekolah Maju Membantu yang Belum Berkembang
Pemerataan mutu juga membutuhkan sinergi antarsekolah. Sholihin mendorong sekolah yang sudah mapan untuk tidak hanya berkonsentrasi mempertahankan prestasinya.
Sekolah unggulan juga memiliki tanggung jawab membantu sekolah Muhammadiyah lain yang belum berkembang.
Konsep sekolah yang standing, inspiring, dan excellent dapat dikembangkan sebagai model pembinaan.
Sekolah yang sudah kuat dapat menjadi tempat belajar bagi sekolah yang masih membutuhkan penguatan. Pendampingan dilakukan melalui assessment, pembinaan, transfer pengetahuan, dan pengembangan strategi sekolah.
“Sekolah-sekolah yang sudah mapan memberi bantuan kepada sekolah yang belum mampu. Dibina, kemudian dilakukan assessment,” jelasnya.
Dengan model seperti itu, kesenjangan kualitas antar sekolah Muhammadiyah diharapkan semakin mengecil.
Rencana penguatan juga dapat dilakukan melalui pengembangan pendidikan kepala sekolah dan madrasah serta program pendampingan yang lebih sistematis.
Muhammadiyah juga memiliki sumber daya manusia yang berharga dalam bentuk para mantan kepala sekolah yang telah memiliki pengalaman mengelola lembaga pendidikan.
Mereka dapat kembali dilibatkan sebagai pendamping sekolah yang membutuhkan.
Pengalaman panjang dalam mengelola sekolah, membangun tim, menghadapi persoalan pendidikan, hingga meningkatkan kepercayaan masyarakat dapat ditransfer kepada kepala sekolah yang sedang bertugas.
“Para mantan kepala sekolah yang sudah tidak bertugas bisa diterjunkan. Bukan hanya di Jawa Timur, tetapi di seluruh Indonesia,” kata Sholihin.
Menurutnya, langkah ini akan membuat pengalaman dan pengetahuan para pengelola sekolah senior tetap bermanfaat bagi pengembangan pendidikan Muhammadiyah.
Kepala Sekolah Penentu Arah
Pada akhirnya, Sholihin melihat kualitas kepemimpinan sebagai salah satu faktor paling menentukan dalam perkembangan sebuah sekolah.
Kepala sekolah tidak cukup hanya menjadi administrator. Ia harus menjadi pemimpin yang visioner, memiliki gagasan, mampu membaca perubahan, dan mempunyai kemauan kuat untuk mengembangkan sekolah.
“Saya menyebutnya sebagai leader,” katanya.
Seorang kepala sekolah harus selalu berpikir tentang bagaimana sekolahnya berkembang. Ketika fasilitas terbatas, ia mencari strategi. Ketika jumlah siswa sedikit, ia mencari keunggulan. Ketika prestasi belum muncul, ia mengevaluasi dan mencari pendekatan baru.
Karena itu, pemilihan kepala sekolah tidak boleh dilakukan secara sembarangan. “Semua tergantung kepala sekolahnya. Dia harus punya good will. Jangan sampai salah memilih leader. Pilih yang tepat,” tegasnya.
Capaian sekolah-sekolah daerah dalam MEA 2026 akhirnya memberikan pesan yang lebih besar daripada sekadar daftar peraih medali.
Kompetisi tersebut menunjukkan bahwa keunggulan pendidikan Muhammadiyah tidak harus lahir dari pusat kota dan tidak selalu ditentukan oleh kemewahan fasilitas.
Sekolah dengan gedung megah dan teknologi lengkap memang memiliki modal penting. Namun, modal tersebut harus diikuti kepemimpinan yang kuat, guru yang kompeten, pelayanan yang baik, program yang khas, serta budaya prestasi.
Sebaliknya, sekolah yang berada di daerah dan memiliki keterbatasan fasilitas tetap dapat menjadi juara apabila mampu menemukan kekuatan dan mengelolanya secara serius.
Karena itu, MEA 2026 dapat dibaca sebagai salah satu tanda bahwa pemerataan mutu pendidikan Muhammadiyah mulai menemukan bentuknya.
Prestasi tidak lagi hanya berpusat di sekolah-sekolah yang berada di kawasan perkotaan. Dari daerah, muncul sekolah-sekolah yang berani bersaing dan membuktikan diri.
Pesannya sederhana: fasilitas boleh terbatas, tetapi visi, kepemimpinan, pelayanan, kreativitas, dan semangat berprestasi tidak boleh ikut terbatas. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments