SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi (SMK MUTU) menjadi tuan rumah Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang, Ahad (9/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed.
Suasana Ahad pagi di pelataran SMK MUTU Gondanglegi terasa berbeda. Jika biasanya hari Ahad lengang karena seluruh warga sekolah libur, pada hari itu hampir 4.500 orang datang secara bergilir memenuhi area lapangan sekolah kejuruan tersebut.
Berbagai kalangan dari seluruh penjuru Kabupaten Malang, baik dari unsur ranting maupun simpatisan, hadir untuk mengikuti pengajian.
Pengurus Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Gondanglegi, Yushofat Rudiana, S.Ag., dalam pidatonya menyampaikan bahwa meski memiliki anggota paling sedikit dibandingkan wilayah lain, PCM Gondanglegi tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik.
Salah satu ikhtiar tersebut dilakukan melalui penyediaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Ia menyebut kehadiran SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi menjadi simbol konsistensi PCM Gondanglegi dalam menjaga kualitas di bidang pendidikan. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin berkembangnya SMK MUTU di dunia pendidikan.
SMK MUTU disebut menjadi sekolah rujukan nasional dengan berbagai jurusan yang lulusannya mampu bersaing di dunia industri. Jangkauan siswanya juga berasal dari berbagai wilayah di Nusantara, bahkan dari luar negeri.
“PCM Gondanglegi ini anggotanya paling kecil jika dibandingkan dengan wilayah lain, namun kami akan selalu berkomitmen untuk berMuhammadiyah dengan sebaik mungkin, salah satu ikhtiar kami dengan menjaga kualitas AUM.” Tegasnya.
Senada dengan Yushofat, Ketua PDM Kabupaten Malang, Dr. H. M. Nurul Humaidi, M.Ag., menyampaikan bahwa keberadaan SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi saat ini tidak terlepas dari semangat dan perjuangan para guru serta stakeholder sekolah.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa gedung yang saat ini menjadi ICONIC building di SMK MUTU, yakni titanium building, hadir melalui perjuangan berbagai pihak.
Salah satu muridnya, K.H. Pahri, S.Ag., M.M., yang juga Ketua Panitia/Mudir PEM Gondanglegi, disebut turut mengorkestrasi kemegahan sekolah tersebut.
SMK MUTU menjadi satu-satunya sekolah di wilayah Malang Selatan yang memiliki gedung pembelajaran tujuh lantai disertai lift.
Selain itu, SMK MUTU disebut menerapkan prinsip inklusi. Muridnya tidak berasal dari kalangan yang sama, tetapi dari berbagai latar belakang, termasuk berbeda agama dan pemahaman.
“Jangan pernah takut menyekolahkan di SMK MUTU dan AUM lainnya disini (Gondanglegi). Karena sejatinya Muhammadiyah itu inklusif, menerima dari kalangan masyarakat manapun termasuk yang berbeda paham dengan Muhammadiyah.” Tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Humaidi menyerahkan bantuan sembako secara simbolis kepada perwakilan warga Muhammadiyah yang membutuhkan.
Ia juga menyerahkan penghargaan kepada investor AUM yang telah berkontribusi terhadap keberlangsungan pengolahan ternak yang dinaungi PDM Muhammadiyah melalui PT. Sinar Dirgantara Perkasa.
Dalam lawatannya ke Jawa Timur, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed., berkunjung ke SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi untuk mengisi Pengajian Ahad Pagi PDM Kabupaten Malang.
Hadir pula dalam kegiatan tersebut Dr. Aries Agung Paewai, S.STP., M.M. selaku Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Kabupaten Malang, Dwi Anggraeni, S.Pd., M.Pd.
Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti memaparkan tiga hal yang perlu dipersiapkan untuk menuju Indonesia Emas 2045.
Pertama, knowledge, yakni setiap generasi memiliki pengetahuan luas dan serba tahu.
Kedua, capable, yaitu setiap generasi memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menghadapi berbagai tantangan.
Ketiga, setiap generasi harus humble, yaitu memiliki sikap rendah hati dan akhlak yang mulia.
Dalam hal ini, pemerintah dapat berkontribusi dengan mendorong pendekatan pembelajaran yang dangkal menuju pembelajaran mendalam.
Selanjutnya, menurut Mu’ti, kunci utama untuk mewujudkan pendidikan bermutu adalah memberikan layanan pendidikan dengan sarana dan prasarana yang memadai.
“SMK Muhammadiyah 7 gondanglegi ini sudah mendukung dengan gedung mewah dan megah. Tetapi pembangunan tetap ramah lingkungan Sesuai arahan Pak Presiden, pendidikan yang diberikan itu harus ASRI (aman, sehat, resik, dan indah).” Ucap Mu’ti.
Selain itu, aspek infrastruktur pedagogis (pedagogical infrastructure) juga perlu diperhatikan. Hal tersebut mencakup peningkatan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru.
Terakhir adalah infrastruktur legal. Ia menyampaikan bahwa aspek ini berkaitan dengan berbagai macam regulasi untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan.
“Misalnya tentang tes kemampuan akademik, SPMB, kemudian berbagai regulasi yang semuanya merupakan satu kesatuan untuk mewujudkan pendidikan bermutu,” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments