Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang menggelar Pengajian Daerah di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, Kabupaten Malang, Ahad (9/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahim sekaligus memperkuat kontribusi Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, filantropi, dan pelayanan masyarakat.
Pengajian dihadiri sekitar 4.500 jemaah. Hadir pula Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., serta jajaran pimpinan daerah lainnya.
Dalam pengajiannya, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., menekankan pentingnya transformasi pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurutnya, pendidikan menjadi taruhan masa depan Indonesia di tengah perubahan ekonomi yang bergeser dari berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis pengetahuan.
Abdul Mu’ti menjelaskan, pendidikan merupakan instrumen penting untuk mengangkat harkat dan martabat manusia sekaligus menjadi salah satu kunci agar Indonesia mampu berkembang menjadi bangsa maju.
Perubahan menuju knowledge based economy membuat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi semakin penting. Kekayaan sumber daya alam tidak lagi cukup menjadi modal utama apabila tidak diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ia mencontohkan Singapura dan Swiss yang memiliki keterbatasan sumber daya alam, tetapi mampu membangun daya saing melalui kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, dan kemampuan multibahasa.
Karena itu, transformasi pendidikan perlu diarahkan untuk menghasilkan manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi global.
Abdul Mu’ti juga mengingatkan bahwa pendidikan memiliki akar yang kuat dalam gerakan Muhammadiyah.
Sejak masa K.H. Ahmad Dahlan, pendidikan telah ditempatkan sebagai salah satu instrumen utama pencerdasan umat. Bahkan, sekolah telah didirikan sebelum Muhammadiyah secara resmi berdiri dengan pengajaran, pustaka, dan tabligh sebagai fondasi gerakan.
Saat ini, Muhammadiyah memiliki jaringan pendidikan yang besar. Jaringan tersebut mencakup sekitar 8.000 sekolah, 2.000 madrasah, dan 23.000 lembaga pendidikan anak usia dini.
Jaringan pendidikan tersebut melayani sekitar 1,5 juta murid. Kondisi ini menempatkan Muhammadiyah pada posisi strategis dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dengan jaringan yang luas tersebut, Muhammadiyah didorong untuk terus mengambil peran dalam transformasi pendidikan nasional.
Untuk menjawab tantangan pendidikan di masa depan, Abdul Mu’ti menekankan empat agenda utama.
Pertama, revitalisasi dan digitalisasi sarana pendidikan. Kedua, peningkatan kapasitas guru. Ketiga, penerapan pembelajaran mendalam (deep learning). Keempat, penguatan pendidikan karakter melalui program “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”.
Transformasi pendidikan juga perlu menyentuh wilayah 3T, yakni daerah terdepan, terluar, dan tertinggal.
Pemerintah memprioritaskan perbaikan sekolah rusak, sekolah yang terdampak bencana, serta satuan pendidikan di wilayah terpencil. Pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan proses pembelajaran yang lebih interaktif melalui pemanfaatan teknologi.
Menurut Abdul Mu’ti, modernisasi pendidikan tidak boleh berhenti pada pembangunan sarana dan prasarana fisik.
Peningkatan kompetensi guru dan kualitas proses pembelajaran menjadi faktor penting agar transformasi pendidikan benar-benar menghasilkan perubahan.
Karena itu, digitalisasi pendidikan, pelatihan guru, penerapan deep learning, serta penguatan karakter perlu dijalankan secara berkelanjutan.
Transformasi pendidikan tidak cukup hanya menghadirkan teknologi di ruang kelas. Lebih dari itu, teknologi harus mampu mendukung peningkatan kualitas pembelajaran dan menghasilkan peserta didik yang mampu menghadapi perubahan zaman.
Pesan tersebut sekaligus mempertegas posisi Muhammadiyah sebagai mitra strategis negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dengan jaringan pendidikan yang luas, Muhammadiyah memiliki modal sosial dan kelembagaan untuk terus berkontribusi menyiapkan generasi yang unggul secara intelektual sekaligus kuat dalam karakter.
Komitmen tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang Pendidikan Bermutu, terutama dalam upaya memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas, meningkatkan kapasitas pendidik, memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, serta membangun karakter peserta didik.
Pada akhirnya, transformasi pendidikan bukan sekadar agenda sekolah atau lembaga pendidikan. Transformasi tersebut merupakan investasi jangka panjang yang turut menentukan kualitas sumber daya manusia dan daya saing Indonesia di masa depan.





0 Tanggapan
Empty Comments