Sebelum Muhammadiyah berdiri KH Ahmad Dahlan telah memberikan uswah tentang giat dan keterlibatannya dalam gerakan Islam.
Gerakan Islam baik dalam bentuk lembaga dagang, politik dan pendidikan pernah dialaminya. Suatu jalan dan pengembangan hidup yang berpengaruh bagi diri dan organisasi yang didirikannya.
Sarikat Islam (SI) yang bermula dari Sarikat Dagang Islam (SDI) yang kemudian menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII), partai Islam pertama di Indonesia.
Dalam gerakan Islam ini, Ahmad Dahlan bergabung dan menjadi salah satu tokoh dan pimpinannya. Beliau bersahabat erat dengan HOS Cokroaminoto.
Demikian pula dalam gerakan pendidikan Islam, khususnya di bidang tafakuh fiddin yang pertama berdiri di Indonesia, yakni Jamiatul Khair, beliau pernah terlibat aktif di dalamnya. Disini beliau berkomunikasi dengan Syekh Ahmad Surkati, pendiri Al Irsyad Al Islamiyyah di Indonesia.
Setelah Muhammadiyah berdiri, KH Ahmad Dahlan dan murid-muridnya tidak alergi dengan gerakan Islam yang lain. Sebab Muhammadiyah sebagai salah satu gerakan Islam di Indonesia tidak bisa menafikan kemajemukan umat Islam di Nusantara.
Apalagi sesudah Muhammadiyah berdiri 1912 di Yogyakarta telah ada dan baru berdiri organisasi Islam lainnya sebelum kemerdekaan RI. Dalam sejarah tercatat antara lain:
- Syarikat Islam (SI) berdiri 1911 di Surabaya.
- Al Irsyad berdiri 1914 di Batavia.
- Matlaul Anwar (MA) berdiri 1916 di Menes Banten.
- Persatuan Umat Islam (PUI) berdiri 1917 di Majalengka.
- Persatuan Islam (Persis) berdiri tahun 1923 di Bandung.
- Nahdhatul Ulama (NU) berdiri tahun 1926 di Surabaya.
- Persatuan Tarbiyah Islamiyyah (Perti) berdiri tahun 1926 di Canduang Sumatera Barat.
- Al Washliyah berdiri tahun 1930 di Medan, Sumatera Utara.
- Al Khairat berdiri tahun 1930 di Palu, Sulawesi Tengah.
Selain itu pada 1925 berdiri Jong Islamietend Bond (JIB) dengan mentornya H. Agus Salim, tokoh Muhammadiyah asal Sumatera Barat.
JIB didirikan dalam pertemuan di Sekolah Muhammadiyah, Yogyakarta. Anggotanya yang berasal dari Muhammadiyah antara lain Kasman Singodimedjo dan Mohammad Roem.
Syamsurizal dan kawan-kawan menggagas ide untuk mendirikan sebuah perkumpulan pemuda Islam. Lembaganya dinamakan Jong Islamietend Bond (JIB). Pembentukannya dihadiri oleh tokoh pergerakan Islam lainnya. HOS Tjokroaminoto dari SI dan Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah.
Majlis Islam ‘Ala Indonesia (MIAI) didirikan tahun 1937. Pendirinya Mas Mansur dari Muhamadiyah dan KH. Wahab Hasbullah dari NU. Pada zaman Jepang MIAI dilarang dan dibubarkan tahun 1943.
Partai Islam Indonesia (PII) berdiri tahun 1938. Pendirinya Soekiman Wirjosandjojo. Beliau dari Muhammadiyah. Selain itu Mas Mansur sebagai penasehat PII, pernah Ketua Umum PP Muhammadiyah.
Setelah MIAI dibubarkan lalu Jepang mengganti organisasinya dengan Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Masyumi berdiri tahun 1943 dipimpin oleh orang-orang Muhammadiyah dan NU. Dari Muhammadiyah, KH Mas Mansyur, KH Farid Ma’ruf dan Kartosudarmo.
Jelang kemerdekaan Indonesia berdiri pula Sekolah Tinggi Islam (STI), 18 Juli 1945. Pendirinya dari kalangan Muhammadiyah adalah KH. Kahar Muzakir dan KH. Mas Mansur. Kahar Muzakir ditetapkan sebagai rektor STI. M. Rasyid salah satu dosennya.
Dari cuplikan sejarah ini terlihat nyata tentang peran Muhammadiyah dalam gerakan Islam di Indonesia sebelum kemerdekaan. Karena itu bagi Muhammadiyah keterlibatannya dalam berbagai gerakan Islam itu sebagai realisasi ukhuwah dan persaudaraan, serta memperluas pergaulan dan kerja sama dalam perjuangan kemerdekaan RI.





0 Tanggapan
Empty Comments