Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Merdeka Tanpa Menjadi Serakah

Iklan Landscape Smamda
Merdeka Tanpa Menjadi Serakah
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM

Sekitar 6000 rakyat Indonesia gugur dalam  pertempuran di Surabaya. Pertempuran Surabaya yang sangat dahsyat pada tanggal 10 November 1945, selama lebih kurang tiga minggu lamanya.

Dari Kemerdekaan tumbuhlah sikap nasionalisme yang diartikan sebagai sikap patriotisme membela kemerdekaan negara Republik Indonesia untuk menaikkan martabat suatu negeri dan penduduknya agar tidak berada dalam penjajahan, keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan.

Tidak mengesampingkan arahan perjuangan yang Allah SWT berfirman ;

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah ayat 122).

Perjuangan perlu pengorbanan dan pengorbanan demi kemerdekaan. Merdeka atau mati itu semboyannya, Allah berfirman ;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran ayat 200)

Pertempuran tanggal 10 November 1945 ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Begitu beratnya meraih kemerdekaan dan mempertahankannya.

Maka sepatutnya hari kemerdekaan ini menjadi momentum bagi setiap warga, dalam hal ini umat Muslim, untuk merenungi makna kemerdekaan dan nasionalisme dalam Islam.

Kemerdekaan dapat disebut juga “hurriyah”, yang diartikan sebagai kemerdekaan jiwa, rohani dan fisik sehingga seseorang tidak terbelenggu dalam ketakutan apalagi pemaksaan.

SMPM 5 Pucang SBY

“Kita wajib menyadari bahwa kemerdekaan adalah nikmat Allah SWT, artinya seseorang wajib bersyukur dan mensyukurinya, karena dengan nikmat kemerdekaan itulah seseorang dapat hidup sejahtera rohani dan jasmani”.

Hurriyah, menjadi syarat ketika melaksanakan ibadah, seperti sholat dan haji. Sebab tanpa kemerdekaan atau hurriyah, maka tidak ada ketenangan dalam ibadah. “Jadi, untuk menyikapi Kemerdekaan, Islam mengingatkan agar kita membingkainya sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw”.

Di antaranya ialah dengan meningkat kan akhlakul karimah (akhlak yang mulia), misalnya tetap menghargai hak dan kewajiban sesama umat, sesama manusia, termasuk hak-hak makhluk lainnya. Selain itu juga tidak boleh berlaku sewenang-wenang, tidak menunjukkan sikap monopoli, rakus dan menindas yang lain.

“Justru kemerdekaan tersebut harus dimaknai sebagai ‘hijrah’ untuk kemajuan bersama, meninggalkan sifat keterbelengguan untuk merdeka tapi tetap dalam batas nilai-nilai akhlakul karimah, beradab, dan saling menghargai sesama”.

Allah SWT menitipkan bumi dan isinya kepada hamba-Nya, tentu dimaksud kan agar dikelola dengan baik, adil dan produktif. Sikap melindungi, mencintai dan mengelola dengan baik, sebenarnya merupakan bagian dari sikap nasionalis.

“Sehingga nasionalis harus dimaknai sebagai suatu sikap pembelaan pada negeri yang sudah Allah titipkan pada kita untuk dikelola dan ditata dengan penuh rasa tanggung jawab. Dan kita tidak boleh merasa lebih menguasai, lebih memiliki, sehingga muncul sifat serakah, tamak dan cenderung menghalalkan segala cara untuk memiliki dan mempertahankannya,”

Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa beliau berdoa untuk kemakmuran dan keamanan negerinya. “Artinya, kita diajarkan untuk menyayangi bumi di mana kita berada, negeri di mana kita hidup,” katanya.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنً ا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS Al-Baqarah ayat 126). (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 10/08/2026 10:54
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu