Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Makin Tua, Makin Dekat: Apa yang Sudah Kita Siapkan?

Iklan Landscape Smamda
Makin Tua, Makin Dekat: Apa yang Sudah Kita Siapkan?
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Bertambahnya usia adalah nikmat sekaligus pengingat. Setiap ulang tahun yang kita lewati sesungguhnya bukan sekadar bertambah angka, tetapi berkurangnya jatah waktu yang Allah berikan.

Ketika masih muda, kita sering merasa waktu begitu panjang. Banyak hal ingin dikejar: pekerjaan, jabatan, rumah, kendaraan, pendidikan, dan berbagai keinginan duniawi. Namun, ketika usia mulai senja, seseorang biasanya mulai melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Rambut yang memutih, langkah yang tak lagi secepat dulu, tubuh yang lebih mudah lelah, dan semakin banyak teman sebaya yang berpulang satu per satu menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup ini memiliki batas.

Pada saat itulah pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, “Apa yang sudah saya miliki?” melainkan, “Apa yang sudah saya siapkan untuk menghadap Allah?”

Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya.”
(HR. At-Tirmidzi No. 2330)

Hadis ini mengajarkan bahwa panjang umur bukan ukuran keberuntungan jika tidak diikuti dengan kebaikan amal. Umur yang panjang justru menjadi karunia besar apabila setiap tambahan usia digunakan untuk semakin dekat kepada Allah.

Bukan Sekadar Panjang Umur

Ada orang yang usianya sudah lanjut, tetapi hatinya masih sibuk mengejar dunia. Sebaliknya, ada pula yang semakin tua justru semakin tenang, ringan tangan, rajin beribadah, senang berbagi, dan tutur katanya semakin menyejukkan.

Kita mungkin pernah melihat sosok seperti itu. Seorang kakek yang setiap pagi berjalan perlahan menuju masjid. Langkahnya tidak lagi tegap seperti ketika muda. Namun, ia tidak ingin melewatkan salat berjamaah selama masih mampu.

Ada pula seorang nenek yang penglihatannya mulai kabur. Membaca Al-Qur’an tidak lagi semudah dulu. Ia membutuhkan kacamata dan membaca perlahan. Tetapi setiap hari ia tetap menyempatkan diri membuka mushaf.

Ada seorang ayah yang setelah puluhan tahun bekerja mulai memasuki masa pensiun. Penghasilannya tidak lagi sebesar ketika masih aktif. Namun, ia justru mulai menyisihkan sebagian uangnya untuk membantu tetangga, memberi makan anak yatim, atau ikut membangun masjid.

Mereka mungkin tidak lagi memiliki banyak tenaga. Tetapi mereka memahami satu hal: ketika usia semakin sedikit, kualitas amal harus semakin meningkat.

Karena itu, masa tua bukan waktunya berhenti berbuat baik. Justru masa inilah kesempatan untuk memperbanyak bekal sebelum perjalanan benar-benar berakhir.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan di Usia Tua?

Pertama, memperbaiki tauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah. Semakin bertambah usia, semakin penting memastikan bahwa seluruh ibadah dan pengabdian kita benar-benar ditujukan kepada Allah.

Jangan sampai umur panjang, tetapi hati masih bergantung kepada pujian manusia.

Kedua, menjaga salat lima waktu. Salat bukan sekadar kewajiban, tetapi tali penghubung seorang hamba dengan Rabb-nya. Ketika kekuatan fisik berkurang, salat justru harus semakin dijaga sesuai kemampuan.

Ketiga, memperbanyak membaca dan mentadabburi Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca ketika ada acara tertentu. Ia adalah teman perjalanan sampai akhir kehidupan. Semakin dekat seseorang dengan akhir hayat, semakin penting ia memperbanyak interaksi dengan kitab Allah.

Keempat, memperbanyak zikir, istighfar, dan taubat. Tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan. Karena itu, usia tua semestinya menjadi masa untuk memperbanyak istighfar, mengakui kekurangan, dan memohon ampun kepada Allah.

Jangan merasa terlalu tua untuk bertobat. Selama nyawa belum sampai tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.

Kelima, terus menuntut ilmu dan mengamalkannya. Usia boleh bertambah, tetapi semangat belajar jangan berhenti. Ilmu membuat seseorang semakin memahami bagaimana menjalani sisa hidup dengan benar.

Keenam, berdakwah sesuai kemampuan. Dakwah tidak selalu harus dilakukan di atas mimbar. Nasihat yang lembut kepada anak, teladan kepada cucu, membantu tetangga, atau mengingatkan kebaikan kepada sahabat juga merupakan bagian dari mengajak kepada kebaikan.

Kadang-kadang, dakwah terbaik dari orang tua bukanlah nasihat panjang. Cukup dengan memperlihatkan bagaimana ia tetap sabar, rajin salat, mudah memaafkan, dan tidak berhenti bersyukur.

SMPM 5 Pucang SBY

Ketujuh, memperbanyak sedekah dan amal jariyah. Ketika seseorang semakin dekat dengan akhir perjalanan, harta yang selama ini dikumpulkan perlu mulai dipikirkan manfaatnya bagi kehidupan setelah kematian.

Sedekah, wakaf, membantu pendidikan, membangun masjid, atau berbagai amal yang manfaatnya terus mengalir dapat menjadi bekal ketika tubuh sudah tidak lagi mampu berbuat banyak.

Kedelapan, menjaga silaturahim dan berbakti kepada orang tua jika masih ada.

Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari betapa berharganya kehadirannya.

Jika orang tua masih hidup, manfaatkan kesempatan itu. Datangi mereka. Telepon mereka. Dengarkan ceritanya meski mungkin cerita itu sudah berulang kali disampaikan.

Sebab suatu hari nanti, kita mungkin akan merindukan suara yang dahulu sering kita anggap biasa.

Kesembilan, bersabar menghadapi ujian dan rida terhadap takdir Allah. Usia tua sering membawa ujian yang berbeda: kesehatan yang menurun, kehilangan pasangan, anak yang tinggal berjauhan, keterbatasan ekonomi, atau berkurangnya kemampuan fisik.

Semua itu membutuhkan kesabaran. Bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menerima ketetapan Allah dengan hati yang tetap percaya bahwa tidak ada satu pun takdir-Nya yang sia-sia.

Kesepuluh, terus memohon husnul khatimah. Tidak ada yang lebih penting pada penghujung kehidupan selain berharap Allah menutup hidup kita dalam keadaan beriman dan diridai-Nya.

Karena itu, jangan hanya berdoa agar diberi umur panjang. Berdoalah agar umur yang panjang menjadi umur yang berkah.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian).”
(QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini mengingatkan bahwa tugas seorang hamba tidak berhenti karena usia. Selama kehidupan masih diberikan, selama itu pula ibadah dan pengabdian kepada Allah harus terus dilakukan.

Jangan Menunggu Tua untuk Menjadi Baik

Ada kekeliruan yang sering terjadi: seseorang merasa akan memperbaiki ibadah ketika sudah tua. Nanti kalau sudah pensiun saya akan lebih rajin ke masjid. Nanti kalau sudah tua saya akan lebih banyak membaca Al-Qur’an. Nanti kalau anak-anak sudah besar saya akan memperbanyak sedekah.

Padahal, kita tidak pernah tahu apakah “nanti” itu benar-benar datang. Banyak orang yang pagi harinya masih membuat rencana, tetapi sore harinya sudah tidak lagi memiliki kesempatan.

Karena itu, jangan menunggu rambut memutih untuk memperbaiki diri. Jangan menunggu tubuh melemah untuk memperbanyak amal. Jangan menunggu sakit untuk menghargai sehat. Dan jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya orang-orang di sekitar kita.

Usia tua yang baik sebenarnya dipersiapkan sejak muda. Orang yang hari ini membiasakan salat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, menjaga silaturahim, menuntut ilmu, dan berbuat baik sedang menyiapkan dirinya untuk menjadi tua dalam keadaan baik pula.

Pada akhirnya, yang akan kita bawa bukan rumah yang besar, jabatan yang tinggi, kendaraan yang mewah, atau rekening yang penuh. Kita akan meninggalkan semuanya. Yang menemani kita adalah iman dan amal.

Maka, ketika usia terus bertambah, semoga kita tidak hanya menghitung berapa tahun yang telah kita jalani, tetapi juga bertanya berapa banyak kebaikan yang telah kita tanam.

Sebab usia yang panjang baru menjadi keberuntungan apabila ia membawa kita semakin dekat kepada Allah.

Semoga Allah menjadikan sisa umur kita dipenuhi iman, amal saleh, kebermanfaatan bagi sesama, dan menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu