Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Santri Menguatkan Negeri, Bukan Sekadar Menjaga Tradisi

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Santri Menguatkan Negeri, Bukan Sekadar Menjaga Tradisi
Foto: Dok/Pribadi
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Dr. H. Suli Da’im, M.M., P.Ma. Ketua Umum DPD IMM Jawa Timur 1995–1997 | Ketua Umum PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur 2006–2010

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Tremas, Pacitan, seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan pidato tentang besarnya jasa santri bagi bangsa. Momentum ini perlu menjadi ruang untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana pesantren menyiapkan santri menghadapi tantangan Indonesia pada 2045?

Pertanyaan itu penting. Indonesia Emas tidak cukup dibangun dengan pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan kemajuan teknologi.

Bangsa ini juga membutuhkan manusia yang berilmu, berintegritas, mampu bekerja secara profesional, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Santri memiliki modal penting untuk mengambil peran tersebut. Pesantren bukan hanya tempat mempelajari ilmu agama, melainkan juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab sosial.

Tantangannya adalah bagaimana modal itu dikembangkan agar tetap relevan dengan perubahan zaman.

Tema Hari Santri Nasional 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, karena itu harus diterjemahkan menjadi agenda nyata, bukan sekadar slogan.

Ilmu Mendalam, Teknologi Dikuasai

Tantangan pertama adalah menjaga kedalaman ilmu di tengah budaya serba instan. Internet dan kecerdasan buatan (AI) membuat informasi mudah diperoleh. Namun, kemudahan mendapatkan jawaban tidak selalu berarti seseorang memahami persoalan.

Tradisi pesantren mengajarkan proses panjang dalam menuntut ilmu: membaca, menghafal, berdiskusi, mengulang pelajaran, menghormati guru, dan mengamalkan pengetahuan. Tradisi ini harus dipertahankan.

Akan tetapi, santri juga perlu memperluas penguasaan sains, matematika, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan teknologi.

Pesantren tidak harus memilih antara tradisi dan modernitas. Keduanya dapat berjalan beriringan. Kedalaman ilmu agama menjadi fondasi moral, sementara penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi memperluas kemampuan santri dalam menjawab persoalan kehidupan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

AI, misalnya, dapat membantu santri menerjemahkan teks, mengakses jurnal, mempelajari bahasa asing, dan memperluas wawasan.

Namun, teknologi ini juga bisa menghasilkan informasi keliru dan referensi palsu. Santri harus memiliki kemampuan memeriksa sumber, menguji bukti, membandingkan pendapat, dan memahami konteks.

Teknologi semestinya menjadi alat bantu berpikir, bukan pengganti proses berpikir. Santri jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga perlu didorong menjadi pencipta inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pesantren memiliki kekuatan dalam pendidikan adab. Nilai kejujuran, amanah, penghormatan kepada guru, dan tanggung jawab merupakan bekal penting dalam kehidupan.

Di tengah ruang digital yang dipenuhi fitnah, perundungan, dan informasi menyesatkan, nilai-nilai tersebut semakin dibutuhkan.

Namun, adab harus berjalan bersama kompetensi. Indonesia membutuhkan dokter yang andal, insinyur yang inovatif, guru yang berkualitas, pengusaha yang jujur, ahli teknologi yang beretika, dan birokrat yang menolak korupsi.

Santri harus memiliki kesempatan untuk memasuki berbagai bidang profesi tersebut. Karena itu, pendidikan pesantren perlu memberi perhatian pada penguasaan bahasa asing, literasi keuangan, kewirausahaan, keterampilan digital, bimbingan karier, dan pengalaman praktik.

Menjadi santri tidak berarti membatasi pilihan masa depan pada profesi tertentu. Latar belakang pesantren justru dapat menjadi keunggulan ketika dipadukan dengan kompetensi profesional dan integritas.

Bayangkan seorang santri menjadi dokter yang peka terhadap penderitaan masyarakat, pengusaha yang membuka lapangan kerja, atau ahli teknologi yang menciptakan solusi bagi petani dan pelaku usaha kecil. Di situlah nilai-nilai pesantren hadir secara nyata dalam kehidupan berbangsa.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 22/10/2026 17:30
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu