Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Belajar dari Burung: Uswah dan Ibrah bagi Kehidupan Manusia

Iklan Landscape Smamda
Belajar dari Burung: Uswah dan Ibrah bagi Kehidupan Manusia
Oleh : Muhsin MK Penggiat Sosial

Sejak Nabi Adam alaihi sallam dan Bunda Hawa diturunkan ke bumi, Allah Azza wa Jalla telah mempersiapkan berbagai kebutuhan manusia untuk menjalani hidup dan kehidupannya. Tumbuh-tumbuhan dan hewan menjadi bagian dari kehidupan manusia yang memiliki banyak manfaat. Di antara hewan tersebut adalah burung dengan berbagai jenisnya (QS. Luqman: 10).

Burung hidup di alam terbuka dan terbang bebas di angkasa raya. Kemampuan burung untuk terbang tidak terlepas dari kekuasaan Allah Azza wa Jalla.

Burung dapat mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di udara, tetapi tidak jatuh ke bumi karena ada kekuasaan Allah yang menahannya (QS. Al-Mulk: 19).

Di balik kehidupan burung yang sering kali tampak sederhana itu, ternyata tersimpan banyak maslahat bagi manusia.

Sejarah mencatat berbagai uswah (teladan) dan ibrah (pelajaran) yang dapat dipetik manusia dari burung. Dari cara menguburkan jenazah, komunikasi, makanan, eksperimen ilmu pengetahuan, hingga keteladanan dalam bertawakal kepada Allah.

Pertama, Burung Mengajarkan Cara Mengubur

Uswah dan ibrah pertama yang diberikan burung kepada manusia adalah tentang tata cara mengubur orang yang meninggal dunia.

Sejarah penguburan yang dilakukan burung menjadi petunjuk dalam salah satu prosesi pengurusan jenazah sesuai syariat.

Kisah itu bermula dari kematian Habil setelah dibunuh oleh Kabil, kakaknya. Ketika Kabil kebingungan bagaimana cara mengurus jenazah saudaranya, ia melihat seekor burung gagak sedang menggali-gali tanah.

Dari burung itulah Kabil mendapatkan pelajaran tentang bagaimana seharusnya menguburkan jenazah.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, ‘Celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang menyesal.” (QS. Al-Maidah: 31).

Peristiwa tersebut menjadi salah satu pelajaran penting bagi manusia. Kabil yang tidak mengetahui bagaimana memperlakukan jasad saudaranya justru mendapatkan pelajaran dari seekor burung gagak.

Karena itu, sejak zaman Nabi Adam alaihi sallam hingga kini, Allah Azza wa Jalla mensyariatkan kepada manusia untuk menguburkan jenazah di dalam tanah (QS. Al-Mursalat: 25-26, Abasa: 21).

Kedua, Burung sebagai Media Komunikasi dan Tukang Pos Pertama

Burung juga memberikan uswah dan ibrah pada zaman ketika manusia belum memiliki alat dan teknologi komunikasi seperti sekarang.

Pada masa dahulu, burung menjadi media komunikasi dan informasi, termasuk untuk mengirim surat dalam jarak yang jauh.

Hal tersebut sebagaimana dilakukan oleh Nabi Sulaiman alaihi sallam. Sebagai nabi yang dapat berbicara dengan bahasa burung, beliau menugaskan salah satu burung kesayangannya, Hud-hud, untuk menyampaikan surat kepada Ratu Balqis di negeri Saba, Yaman (QS. An-Naml: 22-23).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Pergilah (wahai Hud-hud) dengan membawa suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian (kau) berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.” (QS. An-Naml: 28).

Dalam perkembangannya, burung merpati bahkan sebagai pengantar surat atau tukang pos. Burung ini termasuk jenis yang jinak dan mudah dilatih untuk membantu manusia dalam berkomunikasi jarak jauh.

SMPM 5 Pucang SBY

Kemampuan merpati untuk terbang tinggi dan jauh menjadikannya bermanfaat bagi manusia (QS. An-Nahl: 79).

Ketiga, Burung sebagai Makanan Lezat dan Konsumsi Manusia

Kebutuhan makanan manusia tidak hanya berasal dari tumbuh-tumbuhan, tetapi juga dari hewan. Burung diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla dan dapat menjadi salah satu sumber konsumsi manusia.

Pada zaman Nabi Musa alaihi sallam, Bani Israil mendapatkan makanan berupa manna dan salwa. Adapun salwa diartikan sebagai sejenis burung puyuh. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu ‘manna’ dan ‘salwa’. Makanlah yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu…” (QS. Al-Baqarah: 57, Al-A’raf: 160, Thaha: 80).

Salwa menurut ahli tafsir diartikan sebagai seekor burung yang mirip dengan burung thamani atau burung puyuh (Ibnu ‘Atiyah dalam kitab Adwa’ al-Bayan fi Idah al-Qur’an bi al-Qur’an (4/74)).

Namun, tidak setiap jenis burung boleh dimakan dan dihalalkan. Burung yang haram dimakan antara lain burung yang memiliki cakar tajam dan suka memakan bangkai, seperti: rajawali, elang, burung hantu, serta burung yang diperintahkan untuk dibunuh, seperti gagak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ada lima jenis hewan fasik yang boleh dibunuh…(di antaranya) burung rajawali (atau burung sejenis rajawali) dan burung gagak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat, Burung sebagai Bahan Eksperimen

Burung juga memberikan uswah dan ibrah kepada manusia sebagai bahan eksperimen dalam ilmu pengetahuan, khususnya biologi dan ilmu pengetahuan alam lainnya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih.” (QS. Al-Mulk: 19).

Ayat tersebut mengajak manusia untuk memperhatikan bagaimana burung dapat terbang dan bertahan di udara. Fenomena itu sekaligus menjadi bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla.

Selain itu, burung juga menjadi bagian dari eksperimen yang berkaitan dengan mukjizat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satunya adalah mukjizat yang diberikan kepada Nabi Isa alaihi sallam.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“…Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untukmu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah…” (QS. Ali ‘Imran: 49, Al-Maidah: 110).

Mukjizat tersebut menunjukkan bahwa kehidupan dan kemampuan terbang burung berada dalam kehendak dan izin Allah Azza wa Jalla. Mukjizat yang diberikan kepada Nabi Isa alaihi sallam tersebut menjadi bukti tentang kekuasaan-Nya (QS. An-Nahl: 79).

Burung sebagai sarana eksperimen yang menunjukkan kekuasaan Allah Azza wa Jalla juga pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim alaihi sallam.

Beliau diminta mencincang empat ekor burung dan menempatkannya di atas bukit. Kemudian, ketika burung-burung itu dipanggil, semuanya datang dalam keadaan hidup (QS. Al-Baqarah: 260).

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 10/08/2026 12:19
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu