Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Belajar dari Burung: Uswah dan Ibrah bagi Kehidupan Manusia

Iklan Landscape Smamda
Belajar dari Burung: Uswah dan Ibrah bagi Kehidupan Manusia
Oleh : Muhsin MK Penggiat Sosial

Demikian pula ketika Nabi Isa alaihi sallam membuat burung dari tanah, kemudian burung tersebut benar-benar menjadi burung yang dapat terbang. Eksperimen ini menjadi uswah dan ibrah dalam pembuatan pesawat terbang.

Hal tersebut diperkuat dengan firman Allah Azza wa Jalla:

“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).” (QS. Ar-Rahman: 33).

Kelima, Burung sebagai Senjata yang Menghancurkan Pasukan Abrahah

Uswah dan ibrah lainnya datang dari burung-burung ababil yang peristiwanya terjadi menjelang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam lahir. Saat itu, Ka’bah di Mekkah hendak dikuasai dan dipindahkan oleh Raja Abrahah ke negerinya di Yaman.

Sejarah mencatat bahwa Abrahah bersama pasukan gajahnya datang melakukan penyerbuan ke kota Mekkah. Namun, ketika mereka tiba di dekat Mekkah, mereka mendapatkan serangan dari burung-burung ababil dalam jumlah ribuan.

Burung-burung itulah yang berhasil meluluhlantakkan Abrahah dan pasukannya. Abrahah pun tewas. Peristiwa tersebut diceritakan dalam firman Allah Azza wa Jalla:

“Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang (datang) berbondong-bondong (ababil), yang melempari mereka dengan batu (dari tanah) yang terbakar, sehingga Dia menjadikan mereka semua seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al-Fil: 3-5).

Kisah burung ababil ini menjadi uswah dan ibrah bahwa manusia dapat membuat pesawat tempur yang mampu menggempur dan membom musuh-musuhnya dari udara. Seperti burung ababil yang melempari batu panas, manusia kemudian mengenal teknologi bom, rudal, dan drone.

Keenam, Burung Mengajarkan Manusia Cara Tawakal

Uswah dan ibrah lainnya yang tidak bisa diabaikan dari burung adalah pelajaran tentang bertawakal kepada Allah Azza wa Jalla. Jika manusia benar-benar ingin bertawakal, ia dapat mencontoh burung dalam menjalani hidup dan kehidupannya sehari-hari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Seandainya kalian benar-benar bertawakal pada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344).

SMPM 5 Pucang SBY

Hadis tersebut memberikan gambaran sederhana tetapi mendalam tentang makna tawakal. Burung tidak tinggal diam menunggu rezeki datang. Ia keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar, mencari dan berusaha, kemudian kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.

Dengan bertawakal seperti yang dicontohkan oleh burung itu, Allah Azza wa Jalla akan memberikan rezeki yang cukup dan mencukupkan keperluan manusia.

Sebagaimana firman-Nya:

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya…” (QS. Ath-Thalaq: 3).

Pada akhirnya, burung bukan sekadar makhluk yang menghiasi alam dengan keindahan sayap dan kicauannya.

Di dalam kehidupan burung terdapat banyak uswah dan ibrah bagi manusia. Dari seekor gagak, manusia belajar menguburkan jenazah. Pada Hud-hud, manusia belajar tentang komunikasi. Sedang dari salwa, manusia belajar tentang rezeki dan makanan.

Dari kemampuan burung terbang, manusia belajar tentang ilmu pengetahuan. Dari burung ababil, manusia belajar tentang kekuasaan Allah. Dari kehidupan burung, manusia belajar tentang makna tawakal.

Burung mengajarkan bahwa setiap makhluk Allah memiliki tempat, fungsi, dan pelajaran yang dapat direnungkan.

Manusia tinggal memilih: sekadar melihat burung terbang, atau membaca tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di balik kepakan sayapnya.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 10/08/2026 12:19
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu