Islam mengajarkan umatnya untuk berfikir. (tafakur). Betapa ayat-ayat Al Qur’an telah mengajarkan untuk berfikir. “Apakah kalian tidak berfikir atau memikirkannya (yatafakkaruun)?” (QS. An Nahl:44, Al An’am:50).
Namun dalam berfikir dan memikirkan sesuatu perlu dilakukan dengan cara yang benar. Bukan dengan sekedar atau asal-asalan saja.
Berfikir harus membuahkan pemikiran yang menghasilkan nilai berharga dan memberikan maslahat kepada umat manusia.
Hasil Berfikir Diterima dan Ditolak
Hasil berfikir bisa diterima atau ditolak orang lain. Itu masalah yang biasa terjadi dalam hidup dan kehidupan manusia. Demikian pula di dalam Islam.Hasil berfikir para Nabi dan Rasul saja tidak semua diterima kaumnya, apalagi manusia biasa.
Sebagaimana hasil berfikir Nabi Ibrahim alaihi sallam yang disampaikan ke pada ayahnya, agar dia tidak menyembah berhala. Hal ini tersurat dalam firman Allah Sub hanahu Wa Ta’ala.
“Wahai bapakku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? Wahai bapak ku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku! Janganlah kamu menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.” (QS.Maryam: 42-44)
Ternyata hasil berfikir atau pemikiran yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim alaihi sallam itu jelas-jelas ditolak ayahnya, malah mengancam.
“Berkata bapaknya: ‘Bencikah kamu kepada tuhan -tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkan lah aku buat waktu yang lama”. (QS. Maryam:46).
Berbeda dengan Nabi Yakub alaihi sallam, hasil berfikir atau pemikirannya telah diterima dengan baik oleh anak-anaknya (saudara-saudara nya Yusuf alaihi sallam).
Bahkan mereka pun berusaha merealisasikannya. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Nabi Yakub berpesan kepada anak-anaknya agar tidak masuk dari satu pintu gerbang yang sama melainkan melalui pintu yang berbeda-beda, seraya menegaskan bahwa ikhtiar tersebut tidak dapat menolak takdir Allah dan kepada-Nya lah ia bertawakal. Ketika mereka melaksanakan perintah tersebut, hal itu tidak menolak ketetapan Allah melainkan wujud kasih sayang dan keinginan dari diri Yakub. Sesungguhnya Yakub memiliki ilmu yang telah Kami ajarkan, namun kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Yusuf:67-68).
Dari pemaparan ini dapat dianalisis tentang bagaimana hasil berfikir atau pemikiran bisa di terima dan dilaksanakan oleh orang lain. Hasil berfikir atau pemikiran diterima, karena ada beberapa faktor sebab musababnya, yakni:
- Masuk akal dan mudah difahami dengan baik, tanpa ada kesulitan atau beban berat yang dihadapi dalam merealisasikannya.
- Membawa maslahat yang besar bagi orang lain dengan mudah difahami dan diimplementasikan.
- Memberikan solusi yang tepat dalam mengha dapi dan memecahkan masalah yang sedang dihadapinya.
- Disampaikan pada orang yang faham dan tidak menolak, tidak mau berdiskusi dengan baik.
Berfikir Tenang dan Konsentrasi
Namun dalam berfikir memerlukan kondisi lahir batin yang tenang agar benar-benar dapat menghasilkan produk yang maksimal dan positif.
Selain itu ketenangan lahir batin dapat membuat dan mendorong terciptanya konsentrasi dalam berfikir pada diri manusia.
Nabi Ibrahim alaihi sallam telah memberikan contoh dalam berfikir tenang dan konsentrasi pada saat dirinya berusaha membongkar kesesatan dari keyakinan orang-orang musyrikin pada zamannya terhadap Tuhan yang mereka sembah.
Ketika Nabi Ibrahim melihat bintang, ia berfikir dengan cara bertanya, “Inikah Tuhanku? Kenapa bintang yang terang-benderang itu akhirnya sirna. Begitu juga bulan dan matahari yang muncul lalu tenggelam. (QS. Al An’am: 76-78).
Ketenangan dan konsentrasi berfikir pernah juga dilakukan oleh Nabi Luth alaihi sallam saat menghadapi kaumnya yang bernafsu melakukan fahisyah.
Ketenangan dan konsentrasi berfikir pernah juga dilakukan oleh Nabi Luth alaihi sallam saat menghadapi kaumnya yang bernafsu melakukan fahisyah, atau perbuatan keji, karena suka dengan sesama jenis.
Mereka beramai-ramai ke rumah Nabi Luth alaihi sallam ketika melihat Malaikat berwujud manusia tampan datang bertamu. Mereka melihatnya membuat mereka sedemikian bernafsu untuk menggaulinya.
Lalu Nabi Luth alaihi sallam mengajak mereka berfikir dengan memberi nasehat dengan tenang dan lembut kepada kaumnya. Sesuai firman Allah Azza Wa Jalla.
“Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji. Luth berkata: ‘Hai kaumku, inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku ter hadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seo rang yang berakal?'” (QS. Hud:78).
Berfikir Memperkuat Tauhid
Nabi Ibrahim alaihi sallam termasuk yang per nah berfikir tentang alam dalam rangka memper kuat tauhid kaumnya.
Dengan berfikir demikian, maka Ibrahim alaihi sallam telah mematahkan dan membongkar ketidakbenaran keyakinan dan kemusyrikan orang-orang kafir di zamannya seba gai penyembah berhala. (QS Al Ambiya:51-52 Al Anam:74).
Berbeda dengan pandangan umum selama ini bahwa ayat itu seakan-akan sebagai bukti Nabi Ibrahim alaihi sallam sedang berfikir mencari-cari Tuhan. Padahal sejak awal setiap Nabi dan Rasul- rasul sudah, termasuk beliau telah bertauhid dan menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (QS. An Nahl:36, Al An’am:74-75, Al Araf:54, An Nahl:120 -133).





0 Tanggapan
Empty Comments