Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim alaihi sallam saat itu justru berusaha mencari bukti dalam memperkuat kebenaran tauhid. Apalagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri menjelaskan hubungan berfikir dengan tauhid sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.'” (QS. Ali Imran:190-191).
Hubungan Berfikir dan Dzikir
Berfikir dalam Islam juga merupakan aktivitas berdzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ber dzikir dapat melahirkan aktivitas berfikir. Fikir dan dzikir merupakan satu kesatuan bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. (QS. Ali Imran:190-191, Al Alaq:1-5).
Bahkan kata majlis dzikir itu juga diartikan sebagai majlis ilmu, majlis kegiatan berfikir, an tara lain dalam membaca kitab (dzikir) dan saling belajar (fikir). Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda,”Dan tidaklah sekelompok orang berkum pul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketena ngan turun kepada mereka, rahmat meliputi mere ka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah me nyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapan- Nya.” [HR Muslim, no. 2699; Abu Dawud, no. 3643; Tirmidzi, no. 2646; Ibnu Majah, no. 225; dan lain nya].
Berfikir Berbuah Amal Saleh
Berfikir bukan hanya dilakukan untuk menda- patkan ide, ilmu pengetahuan dan solusi dalam memecahkan sesuatu masalah. Melainkan juga untuk membuahkan amal salah. Bagi seorang mukmin berfikir itu juga bagian dari amal saleh. (QS. Al Hasyr:18).
Apa yang di lakukan oleh Raja Zulkarnain dalam perjalanannya ke beberapa lokasi yang berada di bawah kekuasaannya dia selalu berfikir dan berusaha melakukan amal saleh dalam me mecahkan masalah yang dihadapi oleh rakyatnya. (QS. Al Kahfi:85-94).
Saat dia berjalan di suatu daerah perbukitan, dia mendapatkan suatu kaum yang meminta bantuan dan pertolongan kepadanya.
Setelah berfikir apa yang harus dilakukan, lalu beliaupun menyatakan kesediaannya untuk membantu mereka untuk menghadapi Yakjuj Makjuj, kaum yang suka merusak dan melakukan kejahatan secara keji kepada masyarakat yang dijumpainya. (QS. Kahfi:95).
Zulkarnain langsung melakukan amal saleh dalam bentuk membangun dinding yang kokoh dan tinggi di antara dua gunung dengan menggunakan besi dan tembaga. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Azza Wa Jalla:
“Berilah aku potongan-potongan besi!” Hingga ketika (potongan besi) itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia berka ta, “Ditiuplah (api itu)!” Ketika besi itu sudah men jadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (cair) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).” (QS. Al-Kahfi: 96).
Berfikir Melahirkan Akhlak Mulia
Berfikir berkaitan pula dengan akhlakul kari mah (mulia dan terpuji), seperti berpikir positif dan optimis. Sebaliknya berfikir negatif dan pesimis, menunjukkan akhlak yang buruk. (QS. Al Baqarah: 216, Yusuf:87).
Berfikir positif dan optimis ini yang senantiasa ditanamkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba Nya. (QS Al Insyirah:6-7).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dalam sabdanya juga mengajarkan berfikir positif dan optimis:
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan! Dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.”. (HR. at-Tirmidzi no. 3479).
“Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayat kan: Rasulullah shallaallahu alaihi wa sallam ber sabda, “Sesungguhnya berpikir baik (positif) ten tang Allah adalah bagian dari iba dah yang paling utama kepada Allah”. (Musnad Ahmad 8694).
Berfikir untuk tazkiyatun nafs
Dalam aktivitas berfikir dapat pula digunakan untuk melaksanakan tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Bagi yang berfikir positif justru akan memberikan pengaruh pada dirinya untuk melakukan penyucian dan pembersihan jiwanya. (QS. As Syam:7-10).
Sebaliknya orang yang berfikir buruk, negatif dan pesimis, justru dapat mengotori jiwanya. Ber fikir buruk cenderung untuk melakukan prasang ka, kecurigaan dan keraguan. Prasangka itu bisa menjerumuskan manusia dalam perbuatan dosa. (QS. Al Hujurat:12).
Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasal lam mengingatkan agar menjauhkan diri dari prasangka (berfikir) buruk, karena dapat mengotori jiwa, di antaranya bisa mewujudkan ucapan dusta. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berpra sangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan.” (HR. Bukhari Muslim).
Demikianlah urgensi berfikir dalam hidup dan kehidupan manusia. Dengan berfikir akan dapat memperkuat tauhid, keimanan dan aqidah mereka. Dengan berfikir dapat berbuah dzikrullah, yakni berdzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dengan.berfikir juga dapat melahirkan suatu amal saleh yang maslahat dan bermanfaat dalam masyarakat.
Dengan berfikirpun dapat melahirkan akhlak mulia dan bisa digunakan untuk melakukan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Karena itu jadikanlah berfikir itu sebagai aktivitas sehari-hari yang menyenangkan dalam hidup dan kehidupan di dunia.





0 Tanggapan
Empty Comments