Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jangan Biarkan Kegaduhan Mengambil Alih Pikiran

Iklan Landscape Smamda
Jangan Biarkan Kegaduhan Mengambil Alih Pikiran
Ilustrasi: OpenAI

Berita datang sebelum kita sempat berpikir. Belum selesai membaca satu kabar, muncul kabar lain. Belum selesai memahami sebuah peristiwa, orang sudah ramai menyimpulkan.

Yang satu marah. Yang lain membela. Yang lain lagi menyalahkan. Semua merasa paling tahu. Padahal mungkin baru membaca satu paragraf.

Begitulah zaman ini. Informasi berlari. Pikiran tertinggal. Jempol sering lebih cepat daripada akal.

Kita mudah terpancing. Mudah tersulut. Mudah percaya. Lalu ikut bicara. Padahal belum tentu tahu persoalannya.

Di sinilah ketenangan dibutuhkan. Bukan ketenangan untuk menghindar. Bukan pula ketenangan untuk tidak peduli. Tetapi ketenangan untuk memberi kesempatan kepada pikiran bekerja.

Kita perlu belajar berhenti sebentar. Tidak semua kabar harus langsung ditanggapi. Tidak semua video harus langsung dipercaya. Tidak semua cerita harus langsung dipercaya sebagai kebenaran.

Apalagi langsung dibagikan.Kadang yang kita perlukan hanya satu hal. Jeda. Jeda untuk membaca lagi. Mencari sumber lain. Mendengar pihak yang berbeda. Melihat konteks.

Mengumpulkan informasi. Baru kemudian mengambil kesimpulan. Kelihatannya sederhana. Tetapi justru itu yang semakin sulit dilakukan.

Kita ingin menjadi orang pertama yang tahu. Lalu ingin menjadi orang pertama yang berkomentar. Padahal menjadi orang pertama tidak selalu berarti menjadi orang yang paling benar.

Ada perbedaan antara cepat dan grusa-grusu. Cepat itu soal waktu. Grusa-grusu soal pertimbangan. Orang bisa cepat mengambil keputusan karena sudah matang. Orang juga bisa cepat karena tidak mau berpikir panjang.

Yang kedua ini yang berbahaya. Apalagi ketika suasana sedang panas. Emosi biasanya bekerja lebih cepat daripada akal. Kita marah dulu. Setelah itu baru mencari alasan.

Kita memilih kesimpulan dulu. Setelah itu baru mencari informasi yang mendukung. Ini yang sering terjadi. Kita bukan lagi mencari kebenaran. Kita sedang mencari pembenaran.

***

Islam punya ajaran yang sangat sederhana untuk menghadapi keadaan seperti ini. Tabayun. Periksa. Teliti. Jangan langsung percaya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Maka telitilah kebenarannya.” (QS al-Hujurat: 6)

Perintahnya pendek. Tetapi berat dilakukan. Karena tabayun meminta kita menahan diri. Tidak buru-buru marah. Tidak buru-buru menuduh. Tidak buru-buru menyebarkan.

Kita diminta memastikan. Sebab sebuah berita bisa benar. Tetapi konteksnya bisa belum lengkap.

SMPM 5 Pucang SBY

Sebuah video bisa asli. Tetapi ceritanya belum tentu utuh. Seseorang bisa memang mengucapkan sebuah kalimat.

Tetapi kita belum tentu tahu apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Maka jangan merasa sudah tahu hanya karena sudah melihat.

Melihat belum tentu memahami. Mendengar belum tentu mengetahui. Membaca belum tentu mengerti. Kita perlu lebih dari itu. Kita perlu kejernihan.

Al-Qur’an bahkan mengingatkan agar kita tidak mengikuti sesuatu yang tidak kita ketahui. Jangan mengikuti sesuatu yang kita tidak punya pengetahuan tentangnya. Pesan ini terasa semakin penting sekarang.

Dulu, masalahnya mungkin kekurangan informasi. Sekarang justru kebanjiran informasi. Terlalu banyak berita. Terlalu banyak komentar. Terlalu banyak analisis. Terlalu banyak suara.

Kepala kita penuh. Tetapi belum tentu jernih. Itulah paradoks zaman informasi. Semakin banyak yang kita lihat, belum tentu semakin banyak yang kita pahami.

Karena itu, tidak ada salahnya sesekali mengatakan: Saya belum tahu.

Kalimat itu bukan kelemahan. Justru bisa menjadi tanda kedewasaan. Artinya kita tahu batas pengetahuan kita. Artinya kita masih mau mencari. Masih mau mendengar. Masih mau mengoreksi kesimpulan sendiri.

Sebab manusia yang matang bukan manusia yang selalu punya jawaban. Kadang justru manusia matang adalah orang yang tahu kapan harus mengatakan, “Saya perlu mencari tahu lebih dulu.”

Kita memang tidak bisa membuat dunia tenang. Kegaduhan akan selalu ada. Perdebatan akan selalu muncul. Kabar buruk akan terus datang.

Tetapi kita bisa memilih satu hal. Jangan ikut menjadi gaduh. Kalau keadaan di luar sedang panas, kepala jangan ikut panas.

Kalau orang lain terburu-buru, kita tidak harus ikut berlari. Baca lagi. Cari informasi tambahan. Dengarkan. Pikirkan. Baru bicara. Baru mengambil sikap. Baru bertindak.

Mungkin kita memang tidak bisa mengendalikan turbulensi di luar diri. Tetapi kita masih bisa menjaga turbulensi itu agar tidak masuk ke dalam kepala.

Sebab dalam keadaan yang kalut, keputusan yang paling mahal sering lahir dari pikiran yang paling tergesa-gesa. Dan dalam keadaan seperti itu, tetap jernih adalah sebuah keberanian. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 21/09/2026 19:36
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu