SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman (SD Mumtaz) mendukung langkah TK ABA Bebekan (ABABE) menerapkan pendekatan Montessori untuk membangun kemandirian, fokus, dan keteraturan anak sejak usia dini. Pendidikan akhlak tetap menjadi prioritas dalam menyiapkan generasi yang saleh dan berkarakter.
Dukungan tersebut mengemuka dalam kegiatan parenting bertema “Menjadikan Anak Mandiri, Fokus, dan Teratur di Rumah maupun di Sekolah melalui Pendekatan Montessori”, Sabtu (24/10/2026), di Aula SD Mumtaz, Jalan Suningrat, Ketegan, Taman, Sidoarjo.
Kegiatan ini diikuti orang tua peserta didik TPA, TC, KB, TK A, dan TK B ABABE yang secara keseluruhan berjumlah 224 anak
Anak Investasi Dunia dan Akhirat
Andrea Rumantini, M.Pd., dari Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Sepanjang, menyampaikan bahwa anak merupakan investasi dunia dan akhirat sehingga harus mendapatkan makanan dan pendidikan yang baik.
Menurutnya, ikhtiar TK ABABE memberikan pendidikan terbaik melalui pendekatan Montessori perlu didukung orang tua. Pendekatan ini sejalan dengan pendidikan Islam apabila tetap mengutamakan nilai kebaikan dan pembentukan karakter anak.
Kepala TPA, TC, KB, dan TK ABABE, Mahsuniyah, S.Ag., M.Pd., menjelaskan bahwa pendekatan Montessori sudah mulai diterapkan dan akan diberlakukan dalam pembelajaran tahun ajaran baru. Karena itu, kesinambungan pendidikan di sekolah dan rumah sangat diperlukan.
SD Mumtaz mendukung langkah tersebut karena TK ABABE merupakan salah satu penyumbang peserta didik terbesar bagi sekolah itu. Sinergi keduanya diharapkan dapat melanjutkan pendidikan anak dengan baik hingga jenjang sekolah dasar. Harapannya, lulusan ABABE memiliki akhlak mulia dan perilaku saleh sebagai fondasi perkembangan akademiknya.
Montessori Beri Anak Kesempatan Belajar
Mufidah, praktisi Montessori di Sidoarjo sekaligus Ketua Majelis Pauddasmen PCA Sepanjang, menjelaskan bahwa kemandirian dibangun dengan memberi anak kesempatan melakukan kegiatan sesuai tahap perkembangannya, berani mencoba, dan bertanggung jawab.
Fokus anak tidak selalu berarti duduk diam. Orang tua dan guru perlu mengurangi gangguan, menghargai proses, serta memberikan waktu kepada anak untuk belajar. Keteraturan dibangun melalui rutinitas konsisten, termasuk membiasakan anak merapikan kembali barang setelah digunakan.
Dukungan juga disampaikan Ayahanda M. Arsyaka Hamizan Rabbani, salah satu orang tua peserta didik. Ia setuju dengan penerapan Montessori karena anak usia TK masih belajar melalui bermain. Anak tidak semestinya dituntut sudah bisa membaca dan menulis sebagai ukuran utama keberhasilan belajar.
Kegiatan ditutup dengan pembacaan komitmen bersama oleh seluruh orang tua murid untuk menyamakan persepsi dalam mendidik anak. Melalui kolaborasi sekolah dan keluarga, TK ABABE dan SD MUMTAZ berharap anak tumbuh mandiri, fokus, teratur, serta berakhlak mulia. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments