Ada cerita yang lebih panjang daripada sekadar warna medali yang dibawa pulang guru-guru SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik dari Muhammadiyah Education (ME) Awards 2026.
Cerita itu justru bermula jauh sebelum mereka berdiri sebagai pemenang—di ruang kelas, di antara pertanyaan siswa, kesulitan memahami pelajaran, kebosanan, hingga kegagalan menemukan jawaban.
Keresahan itulah yang dibawa pulang para guru, dipikirkan, diuji, diperbaiki, lalu menjelma menjadi inovasi.
Pada ME Awards 2026 yang digelar di Dome Universitas Muhammadiyah Malang, Sabtu (8/8/2026), inovasi-inovasi tersebut turut mengantarkan Spemdalas menjadi juara umum tingkat SMP/MTs dengan raihan 19 medali: sembilan emas, lima perak, dan lima perunggu.
Sebuah perahu layar menjadi titik berangkat Desy Suryani, M.Pd., untuk membantu siswa memahami gaya dan gerak.
Guru IPA ini mengembangkan LAYAR (Learning with Augmented Reality), media pembelajaran berbasis etnosains yang memadukan fenomena perahu layar dengan teknologi augmented reality. Inovasi tersebut mengantarkannya meraih Gold Medal Inovasi Pembelajaran Digital ME Awards 2026.
Ide itu muncul ketika Desy mendapati siswa sebenarnya dapat menjawab soal, tetapi belum tentu memahami konsep di balik jawabannya.
“Saya menemukan siswa yang bisa menjawab soal, tetapi ketika ditanya ‘mengapa?’, mereka belum mampu menjelaskan konsepnya dengan benar,” ungkapnya.
Melalui LAYAR, konsep abstrak dibuat lebih konkret dan dekat dengan kehidupan siswa. Mereka diajak memprediksi, mencoba, berdiskusi, hingga menjelaskan alasan di balik jawaban.
Proses pengembangannya tidak selalu berjalan mulus. Dari serangkaian uji coba dan evaluasi, Desy justru menemukan satu prinsip penting.
“Media yang baik bukan yang paling banyak fiturnya, tetapi yang paling tepat menjawab kebutuhan siswa,” ujarnya.
Cara mengajar semacam itu pula yang diingat Renata Sherafina, siswa kelas VIII Ferrum. Menurutnya, Desy tidak berhenti pada teori dan rumus. Siswa kerap diajak melakukan praktik menggunakan benda dan fenomena yang dekat dengan kehidupan mereka.
Bagi Desy, karena itu pula Gold Medal bukan tujuan terakhir.
“Saya ingin dikenang bukan hanya sebagai guru yang pernah mendapatkan Gold Award, tetapi sebagai guru yang membuat siswanya berani mencoba, berani bertanya, dan tidak takut salah.”
Keresahan berbeda dialami Azzam Alfaruq Abdul Wadud, S.Kom. saat mengajar Informatika dan Koding Kecerdasan Artifisial (KKA).
Kemampuan siswa memahami materi dan praktik tidak selalu bergerak dalam kecepatan yang sama. Siswa yang cepat dapat terus melaju, sementara mereka yang membutuhkan waktu lebih panjang berisiko tertinggal.
Bahkan, Azzam beberapa kali mendapati siswa beralih bermain gim ketika mulai bosan atau tidak mampu mengikuti praktik.
Dari situlah lahir PedaGogiAI, inovasi yang memadukan diferensiasi pembelajaran, materi kunci bertingkat, AI sebagai tutor scaffolding, dan gamifikasi. Inovasi tersebut membawanya meraih Gold Medal Inovasi Media Pembelajaran ME Awards 2026.
Prosesnya panjang. Azzam mencari berbagai literatur tentang metode dan teknologi pembelajaran sebelum menentukan pendekatan yang sesuai. Pengembangan aplikasi web pun membuatnya akrab dengan proses debugging dan testing hingga tengah malam.
Dari penerapannya, hasil kuesioner menunjukkan peningkatan pemahaman, motivasi belajar, dan sikap siswa.
Namun, teknologi bukan satu-satunya hal yang diingat siswa dari sosok Azzam.
Gerardo Rezvan N. menyebut gurunya sebagai sosok yang solutif, adil, dan mendukung kemajuan murid. Ketika nilai siswa menurun, Azzam tidak membiarkan angka menjadi akhir cerita. Ia memberi kesempatan memperbaiki nilai melalui keaktifan maupun tugas tambahan.
Di balik medali emasnya, Azzam menyebut istri, orang tua, dan sekolah sebagai bagian penting dari perjalanan tersebut. Ia menyimpan harapan sederhana: dikenang sebagai guru yang selalu memotivasi siswa untuk terus belajar dan berkembang.
Bagaimana jika siswa tahu rumus transformasi geometri, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana?
Pertanyaan itulah yang mengusik Khotimatul Khusnah, S.Pd.
Guru Matematika tersebut melihat murid mampu menyelesaikan soal ketika jenis transformasinya sudah ditentukan. Namun, ketika mereka diberi objek awal dan objek target, kemudian diminta menentukan sendiri bagaimana mencapainya, banyak yang kebingungan.
Khotimatul menyadari bahwa siswa tidak hanya membutuhkan rumus. Mereka perlu melihat perubahan objek sekaligus belajar menentukan strategi.
Lahirlah GeoPath, media pembelajaran digital berbasis simulasi interaktif untuk transformasi geometri. Di dalamnya, siswa menyusun strategi, mencoba melalui simulasi, melihat hasilnya, lalu memperbaiki langkah ketika belum tepat.
GeoPath mengantarkannya meraih Silver Award Inovasi Media Pembelajaran Digital tingkat SMP/MTs. Pencapaian itu terasa istimewa karena menjadi kompetisi inovasi media pertamanya.
“Dari awal saya tidak terlalu berani memasang target yang tinggi. Ketika diumumkan mendapat Silver Award, tentu saya sangat bersyukur,” tuturnya.
Perjalanan tersebut sekaligus menumbuhkan kepercayaan dirinya bahwa persoalan sederhana yang ditemukan guru setiap hari di kelas dapat menjadi awal sebuah inovasi.
Prinsip GeoPath seolah sekaligus menjadi pesan Khotimatul tentang matematika dan proses belajar.
“Saya ingin mereka ingat bahwa ketika mereka belum bisa, bukan berarti mereka tidak mampu. Mereka boleh mencoba, salah, kemudian mencoba lagi.”
Teknologi dan sains tidak harus berdiri jauh dari nilai spiritual. Bagi M. Ainun Naim, S.Pd., guru IPA Fisika, keduanya justru dapat bertemu dalam pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa.
Melalui inovasinya, Naim meraih Silver Medal Guru Inovasi Pembelajaran ME Awards 2026.
Gagasannya berangkat dari keresahan melihat sains yang terkadang masih dianggap sulit dan terlalu teoritis, sementara siswa tumbuh begitu dekat dengan teknologi. Ia kemudian mencari cara agar teknologi tidak hanya menjadi bagian keseharian mereka, tetapi juga menjadi jembatan untuk memahami ilmu.
Naim mengembangkan SmartDailas, jam pintar yang memuat jadwal salat dan berbagai informasi pendukung, serta HAI Science, aplikasi pembelajaran IPA interaktif yang dilengkapi materi, kuis dan evaluasi, eksperimen virtual, hingga dukungan artificial intelligence.
“Bagi saya, keberhasilan inovasi bukan hanya ketika produknya bekerja, tetapi ketika siswa menjadi lebih aktif dan merasa bahwa sains itu dekat dengan kehidupan mereka,”
Lebih dari sebuah medali, Naim berharap siswanya kelak mencintai ilmu sekaligus memahami untuk apa ilmu itu digunakan. Sebab baginya, sains membuka pikiran, sementara nilai spiritual memberi arah pada ilmu yang dimiliki.
Jika Naim mempertemukan sains dan spiritualitas, Rohmawati, M.Pd. membawa siswa menyusuri masa lalu untuk menemukan nilai bagi kehidupan hari ini.
Tantangan mengajar sejarah baginya bukan sekadar membuat siswa mengingat tanggal, tokoh, dan peristiwa. Ia melihat sebagian murid kurang antusias karena sejarah dianggap sebagai kejadian masa lalu yang telah selesai.
Dari keresahan tersebut lahir Kapal VOC, media pembelajaran digital tentang kolonialisme dan imperialisme Barat yang mengantarkannya meraih Bronze Medal Inovasi Media Pembelajaran ME Awards 2026.
Melalui media itu, siswa tidak hanya duduk mendengarkan cerita. Mereka diajak seolah menjalani sebuah pelayaran, menyelesaikan tantangan, dan mendapatkan umpan balik dari AI.
Menariknya, pelayaran tidak berakhir pada pengetahuan sejarah. Di titik terakhir, siswa diajak melakukan tadabur melalui Al-Qur’an, antara lain Surah Al-Baqarah ayat 205 dan Al-Qasas ayat 84. Sejarah menjadi pintu untuk merefleksikan nilai dan perilaku manusia.
Dampaknya terlihat pada minat belajar. Menurut Rohmawati, respons siswa pada kategori setuju dan sangat setuju meningkat dari sekitar 30 persen menjadi 96 persen. Ia juga melihat munculnya “aha moment” ketika siswa berhasil menyelesaikan pelayaran.
“Guru inovatif tidak hanya sekadar berinovasi dan memenangkan perlombaan, tetapi bagaimana guru selalu memperbaiki pembelajarannya hingga bermakna bagi siswanya,” katanya.
Lima guru, lima inovasi, dan lima warna cerita. Namun, semuanya mempunyai titik berangkat yang sama: kepekaan terhadap kebutuhan murid.
LAYAR mengajak siswa berani bertanya “mengapa”, PedaGogiAI mengakomodasi perbedaan kecepatan belajar, GeoPath mendorong keberanian mencoba, SmartDailas dan HAI Science mempertemukan sains, teknologi, dan nilai spiritual, sementara Kapal VOC membawa siswa menyusuri sejarah untuk menemukan makna.
Kepala SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik Yugo Triawanto, M.Si. mengapresiasi capaian tersebut sebagai bagian dari tumbuhnya budaya inovasi guru di sekolah.
Baginya, nilai sebuah prestasi tidak berhenti pada medali, tetapi pada manfaat yang kembali dirasakan siswa di ruang kelas.
“Kami tentu bangga dengan medali yang diraih para guru. Namun, yang lebih membanggakan adalah ketika inovasi itu lahir dari kebutuhan siswa, kembali digunakan di ruang kelas, dan membuat pembelajaran lebih bermakna. Semoga prestasi ini menjadi energi bagi seluruh guru untuk terus belajar, berbagi, dan menghadirkan pembelajaran terbaik bagi siswa,” ungkap Yugo.





0 Tanggapan
Empty Comments