Saya dan beberapa kawan sedang ngobrol soal kepemimpinan. Obrolannya ngalor-ngidul. Dari pemimpin politik. Ke pemimpin organisasi. Sampai pemimpin di sekitar kita.
Tiba-tiba muncul satu nama. AR Fachruddin. Pak AR. Tokoh Muhammadiyah yang dikenal sederhana. Sangat sederhana.
Dari nama itu, cerita pun mengalir. Ada kisah tentang hidupnya. Ada cerita tentang caranya memimpin. Ada pula pengalaman orang-orang yang pernah dekat dengannya.
Kami lalu tidak hanya membicarakan Pak AR. Obrolan melebar. Tentang kepemimpina, kekuasan, dan ketelaanan.
Sampai pada pertanyaan yang agak mengganggu: Apakah model kepemimpinan seperti Pak AR masih mungkin kita temukan hari ini?
Pertanyaan itu yang kemudian membuat saya terus memikirkannya.
***
KH Abdur Rozak Fachruddin. Orang Muhammadiyah lebih akrab memanggilnya Pak AR. Dia memimpin Muhammadiyah selama 22 tahun. Dari 1968 sampai 1990.
Itu bukan waktu yang pendek. Dua puluh dua tahun. Sebuah masa yang cukup panjang untuk membuat seseorang terlena oleh kekuasaan.
Tetapi Pak AR justru menunjukkan hal sebaliknya. Semakin lama memimpin, semakin sederhana hidupnya. Di situlah masalahnya. Dan sekaligus keteladanannya.
Pak AR tidak dikenal sebagai pemimpin yang hidup bermewah-mewah. Dia tidak mengejar rumah besar. Tidak pula sibuk mengumpulkan fasilitas. Kehidupannya sederhana. Sangat sederhana. Bahkan hingga akhir hayatnya, dia tidak dikenal sebagai orang yang menikmati kemewahan karena jabatan.
Pak AR lebih memilih hidup apa adanya. Kendaraan pun sederhana. Sepeda ontel. Sepeda motor tua. Bukan kendaraan yang membuat orang menoleh. Justru itu yang menarik.
Hari ini kendaraan pemimpin kadang menjadi simbol status. Dulu, Pak AR justru menunjukkan bahwa wibawa tidak lahir dari kendaraan.
Wibawa lahir dari keteladanan. Ia bahkan pernah berjualan bensin eceran di rumah.
Untuk apa? Untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Bayangkan. Seorang Ketua Umum Muhammadiyah. Tetapi masih memikirkan bagaimana menambah penghasilan keluarga. Tidak gengsi. Tidak merasa rendah. Tidak merasa jabatan organisasi harus otomatis mengubah gaya hidup.
Ini pelajaran penting. Jabatan tidak selalu harus menaikkan gaya hidup. Kadang justru harus menurunkannya.
Semakin tinggi posisi seseorang, semakin rendah hati seharusnya ia berdiri.
***
Pak AR bukan tipe pemimpin yang ingin dilayani. Dia justru melayani. Itulah yang sekarang sering disebut servant leadership. Kepemimpinan yang melayani. Pemimpin bukan pusat perhatian. Umatlah pusat perhatian.
Karena itu Pak AR tidak banyak memilih siapa yang mengundangnya. Orang kecil diterima. Pejabat diterima. Tokoh masyarakat diterima. Undangan ceramah tidak selalu dilihat dari besar kecilnya amplop.
Dia datang karena dakwah. Bukan karena honor. Bukan karena gengsi. Bukan karena siapa yang duduk di depan. Di sini kita kembali bertanya.
Masihkah model seperti ini kita temukan?
Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa. Sebab persoalannya bukan hanya tentang uang. Lebih dalam dari itu. Tentang orientasi.
Untuk apa seseorang memegang jabatan? Untuk melayani? Atau untuk dilayani? Untuk memperbesar manfaat? Atau memperbesar fasilitas? Untuk memperluas dakwah? Atau memperluas pengaruh pribadi?
Pak AR sudah memberikan jawabannya lewat kehidupan. Bukan lewat teori.





0 Tanggapan
Empty Comments