Pak AR juga memberi contoh tentang bagaimana memegang amanah. Dia tidak menjadikan jabatan sebagai pintu masuk untuk mendapatkan jabatan lain.
Ketika dipercaya menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, fokusnya adalah Muhammadiyah. Dia menjaga amanah itu. Tidak sibuk mengejar banyak posisi.
Ini penting. Sebab jabatan sering kali memiliki godaan yang sama. Sekali mendapat satu jabatan, ingin jabatan kedua. Dapat jabatan kedua, ingin jabatan ketiga. Akhirnya organisasi menjadi arena perebutan posisi.
Pak AR menunjukkan jalan yang berbeda. Jabatan adalah amanah. Bukan koleksi. Semakin banyak jabatan bukan berarti semakin besar manfaat.
Kadang justru sebaliknya. Terlalu banyak jabatan membuat seseorang tidak punya cukup waktu untuk menjalankan satu amanah dengan sungguh-sungguh.
Pak AR memilih fokus. Dia mengabdi. Lalu selesai. Tidak membawa jabatan ke dalam kehidupan pribadi.
***
Ada satu lagi yang menarik dari Pak AR. Cara berbicaranya. Santun. Luwes. Tidak meledak-ledak. Tidak suka membentak. Tetapi bukan berarti tidak tegas.
Dia bisa menyampaikan kritik tanpa menghina. Bisa berbeda pendapat tanpa membenci. Bisa menghadapi kekuasaan tanpa kehilangan martabat.
Di sinilah kecerdasan seorang pemimpin terlihat. Tegas tidak harus keras. Berani tidak harus marah. Kritik tidak harus mencaci. Perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan.
Pak AR juga dikenal memiliki humor. Humornya bukan sekadar untuk membuat orang tertawa.
Ada pesan di dalamnya. Ada hikmah. Ada kritik. Kadang justru persoalan yang rumit menjadi ringan karena disampaikan dengan humor.
Orang tidak merasa sedang dihakimi. Tetapi pulang membawa pikiran. Itulah seni berdakwah.
Mungkin inilah pelajaran terbesar dari Pak AR. Dia tidak takut terlihat sederhana. Tidak takut naik kendaraan biasa. Tidak takut hidup bersahaja. Tidak takut dekat dengan rakyat. Tidak takut melayani.
***
Hari ini kita hidup dalam zaman yang berbeda. Media sosial membuat kehidupan mudah dipamerkan. Jabatan mudah dipublikasikan. Kegiatan mudah diunggah. Pertemuan mudah difoto.
Bahkan kesederhanaan pun kadang dipotret agar terlihat sederhana. Pak AR tidak membutuhkan itu. Dia tidak hidup untuk kamera. Dia hidup untuk umat.
Ada perbedaan besar di sana. Keteladanan yang sebenarnya tidak membutuhkan panggung. Ia tumbuh dalam keseharian.
Dalam cara menerima tamu. Dalam cara menggunakan uang. Dalam cara memperlakukan orang kecil. Dalam cara menerima kritik. Dalam cara memegang jabatan. Dalam cara meninggalkan jabatan.





0 Tanggapan
Empty Comments