Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 59 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) mengajak masyarakat Desa Candirejo mengenal pemanfaatan bahan alami sebagai alternatif pengusir nyamuk.
Edukasi tersebut dilakukan melalui sosialisasi dan praktik pembuatan spray anti-nyamuk berbahan serai dan kulit jeruk nipis, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan tersebut tidak hanya memperkenalkan cara membuat spray, tetapi juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari upaya membantu mencegah penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD).
Dalam sosialisasi, mahasiswa KKN 59 menjelaskan pemanfaatan serai dan kulit jeruk nipis sebagai bahan utama spray. Kedua bahan tersebut dipilih karena mudah ditemukan di lingkungan sekitar dan dapat diolah menjadi produk sederhana yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Pencegahan DBD tidak hanya dilakukan dengan menggunakan produk pengusir nyamuk, tetapi juga harus diimbangi dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat-tempat yang dapat menjadi sarang nyamuk,” ujar Dila, salah satu mahasiswa KKN 59.
Mahasiswa juga memberikan pemahaman mengenai nyamuk Aedes aegypti yang dapat berkembang biak di berbagai tempat dengan genangan air. Beberapa di antaranya seperti bak mandi, ember, kaleng bekas, dan wadah terbuka.
Karena itu, masyarakat diingatkan untuk memperhatikan kondisi lingkungan di sekitar rumah dan menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Serai dan kulit jeruk nipis kemudian diperkenalkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan untuk membuat spray anti-nyamuk alami. Dalam materi sosialisasi disebutkan, serai mengandung citronella, sedangkan kulit jeruk mengandung limonene.
“Bahan-bahannya relatif mudah ditemukan dan proses pembuatannya juga dapat dilakukan di rumah. Harapannya, masyarakat dapat memahami cara pembuatannya dan memanfaatkannya sebagai salah satu alternatif dalam membantu mengusir nyamuk,” ujar Dila.
Dalam praktiknya, mahasiswa menggunakan daun serai, kulit jeruk nipis, air bersih, etanol 70 persen, dan botol spray sebagai bahan dan perlengkapan.
Proses pembuatan diperagakan secara bertahap. Daun serai dan kulit jeruk terlebih dahulu dicuci hingga bersih, kemudian dipotong kecil-kecil dan dihaluskan menggunakan blender.
Bahan yang telah dihaluskan selanjutnya dicampurkan dengan air menggunakan perbandingan satu bagian bahan dan tiga bagian air. Campuran tersebut kemudian dipanaskan selama kurang lebih 15 menit setelah mencapai suhu 90°C.
Setelah proses pemanasan selesai, larutan disaring untuk memisahkan ekstrak dari ampas bahan. Etanol 70 persen kemudian ditambahkan ke dalam larutan yang telah disaring. Larutan tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam botol spray dan siap digunakan.
Dalam materi sosialisasi, mahasiswa juga menyampaikan hasil pengujian terhadap nyamuk Aedes aegypti. Berdasarkan hasil pengujian yang tercantum dalam materi presentasi, spray dengan konsentrasi 10 persen disebut mampu mengusir hingga 90 persen nyamuk dengan efek bertahan sekitar empat jam.
Informasi tersebut disampaikan sebagai bagian dari edukasi mengenai pemanfaatan spray berbahan alami kepada masyarakat.
Selain memperkenalkan spray anti-nyamuk, mahasiswa KKN 59 mengingatkan masyarakat agar tetap melakukan langkah pencegahan dari lingkungan sekitar.
Salah satunya melalui gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, serta mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN 59 Umsida mendorong masyarakat Desa Candirejo agar menjadikan kebersihan lingkungan sebagai bagian dari upaya pencegahan DBD. Edukasi tersebut sekaligus memberikan pengetahuan praktis mengenai pemanfaatan serai dan kulit jeruk sebagai bahan spray anti-nyamuk alami.





0 Tanggapan
Empty Comments