Ada sesuatu yang mengerikan dari zaman ketika manusia semakin rajin berbicara tentang Tuhan, tetapi semakin mudah merendahkan manusia.
Ayat dikutip setiap hari, hadis dibagikan setiap pagi, ceramah berseliweran di layar, simbol agama dipasang di mana-mana. Namun, pada saat yang sama, kebencian tumbuh subur.
Orang mudah mengkafirkan, gampang menuduh sesat, cepat menghakimi, dan merasa dirinya paling suci. Kita perlu bertanya dengan jujur: jangan-jangan agama kita semakin ramai di mulut, tetapi semakin sepi di akhlak?
Ironisnya, hampir semua tradisi agama besar memiliki pesan moral yang justru sangat sederhana: jangan menyakiti, cintai sesama, kasihi kehidupan, berlaku adil, dan lakukan kebaikan.
Islam menyebutnya ihsan.
Kristen berbicara tentang kasih.
Yahudi mengajarkan kasih kepada sesama.
Buddhisme mengingatkan bahwa kebencian tidak dapat diselesaikan dengan kebencian.
Hindu menekankan welas asih kepada makhluk.
Kong Hu Cu mengajarkan prinsip memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Lalu mengapa manusia yang sama-sama membaca pesan kebaikan itu masih begitu mudah saling membenci?
Pertanyaan ini semakin menggigit ketika kita melihat kehidupan beragama di ruang publik. Seseorang bisa sangat keras berbicara tentang kesalehan, tetapi kasar kepada tetangganya.
Bisa begitu fasih berbicara tentang surga, tetapi tega mempermalukan orang lain. Bisa berulang kali mengutip hadis tentang persaudaraan, tetapi menjadikan perbedaan pilihan fikih sebagai alasan untuk mencaci.
Bahkan ada yang begitu sibuk mengoreksi cara orang lain beragama sampai lupa bahwa dirinya sendiri belum tentu selesai dengan persoalan akhlaknya.
Allah berfirman:
وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
QS. Al-Baqarah: 195
Ayat ini sebenarnya sederhana, tetapi konsekuensinya sangat dalam. Allah tidak mengatakan hanya mencintai orang yang pandai berbicara tentang kebaikan. Allah menyebut al-muhsinin: mereka yang benar-benar melakukan ihsan.
Ada perbedaan besar antara mengetahui kebaikan dan menjadi manusia yang baik. Kita bisa menghafal ratusan dalil tentang akhlak, tetapi satu tindakan kasar dapat membongkar betapa jauhnya pengetahuan itu dari perilaku.
Islam bahkan memberi ukuran yang sangat keras terhadap hubungan antara iman dan akhlak. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya tampak dari ritual, tetapi juga dari kemampuan mencintai kebaikan bagi orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.”
HR. Bukhari dan Muslim
Kalau prinsip ini dibawa ke kehidupan sosial, banyak orang mungkin akan gelisah. Sebab kita sering menginginkan penghormatan untuk diri sendiri, tetapi sulit memberikannya kepada orang lain.
Kita ingin pendapat kita dihargai, tetapi tidak tahan ketika pendapat berbeda. Kita ingin kesalahan kita dimaklumi, tetapi begitu menemukan kesalahan orang lain, kita berubah menjadi hakim yang seolah-olah memegang kunci surga dan neraka.
Di sinilah agama berubah dari jalan penyucian diri menjadi senjata untuk menghakimi orang lain.
Padahal khazanah Islam sendiri sangat kaya dengan perbedaan. Empat mazhab besar—Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali—tidak lahir dari satu kepala yang sama.
Abu Hanifah memiliki corak ahl al-ra’yi yang kuat. Imam Malik memberi perhatian besar terhadap ‘amal ahl al-Madinah. Imam al-Syafi’i menyusun metodologi ushul fiqh secara sistematis. Imam Ahmad bin Hanbal sangat kuat dalam tradisi hadis dan atsar.
Mereka berbeda dalam banyak persoalan fikih, tetapi perbedaan tersebut tidak membuat ilmu Islam runtuh. Justru perbedaan itu menjadi kekayaan intelektual yang diwariskan berabad-abad.
Maka sungguh memalukan jika hari ini ada orang yang menganggap perbedaan kecil dalam cabang fikih sebagai alasan untuk memusuhi saudaranya.
Imam-imam besar itu berbeda karena mereka berilmu. Kita kadang berbeda hanya karena membaca satu potongan unggahan media sosial. Mereka berdiskusi dengan adab. Kita berdebat dengan emosi. Mereka membangun khazanah. Kita terkadang hanya membangun kolom komentar. Mereka meninggalkan kitab. Kita meninggalkan keributan.
Di sinilah semangat tajdid perlu bekerja. Muhammadiyah sejak awal tidak dibangun untuk memelihara kemunduran berpikir. K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa agama harus diterjemahkan menjadi amal nyata.
Teologi tidak boleh berhenti sebagai hafalan. Surat Al-Ma’un, misalnya, bukan sekadar bacaan yang diulang, tetapi kritik keras terhadap keberagamaan yang kehilangan kepedulian sosial.
Agama yang membiarkan anak yatim terlantar, orang miskin kelaparan, pendidikan tertinggal, dan manusia diperlakukan tidak adil adalah agama yang sedang kehilangan daya transformatifnya.
Allah berfirman:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
QS. Al-Ma’un: 1–3
Surat pendek ini seharusnya membuat kita tidak nyaman. Sebab Al-Qur’an tidak hanya bertanya berapa banyak ritual yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan manusia yang lemah.
Keberagamaan yang tidak menghasilkan keberpihakan kepada kaum mustadh’afin perlu dikritik. Shalat tidak boleh hanya menghasilkan dahi yang bersujud, tetapi juga hati yang tunduk pada keadilan. Puasa tidak boleh sekadar membuat perut lapar, tetapi harus membuat ego lebih terkendali. Zakat tidak boleh berhenti pada transaksi, tetapi harus menggerakkan solidaritas sosial.
Menariknya, ketika kita membuka tradisi agama lain, kita menemukan gema moral yang serupa.
Dalam Kekristenan terdapat pesan kasih kepada sesama.
Dalam tradisi Yahudi terdapat perintah mengasihi sesama manusia.
Buddhisme mengingatkan bahwa kebencian tidak pernah selesai jika dibalas dengan kebencian.
Bhagavad Gita berbicara tentang sikap welas asih.
Kong Hu Cu mengajarkan prinsip timbal balik moral.
Kita tidak perlu mencampuradukkan akidah untuk mengakui bahwa manusia dapat belajar dari nilai moral yang hidup dalam tradisi lain.
Kristen — Matius 22:39:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Yahudi — Imamat 19:18:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Buddha — Dhammapada 5:
“Kebencian tidak akan berakhir dengan kebencian.”
Hindu — Bhagavad Gita 12:13:
“Berbuat baiklah kepada semua makhluk.”
Kong Hu Cu — Analek 15:23:
“Jangan lakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin dilakukan kepadamu.”
Yang perlu ditegaskan: persamaan moral bukan berarti semua agama sama. Islam tetap memiliki tauhid, syahadat, Al-Qur’an, kenabian Muhammad ﷺ, dan sistem ibadah yang menjadi identitas fundamentalnya.
Menghormati agama lain tidak membutuhkan penghapusan keyakinan sendiri. Justru seorang Muslim yang matang tidak perlu takut pada perbedaan. Ia tidak harus melemahkan keyakinannya agar dapat menghormati manusia lain. Ia dapat berkata, “Saya meyakini Islam,” sekaligus berkata, “Saya menghormati Anda sebagai manusia.”
Al-Qur’an bahkan memberikan prinsip yang sangat tegas tentang keadilan. Kebencian terhadap kelompok tertentu tidak boleh membuat seorang Muslim kehilangan objektivitas moral.
Allah berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
QS. Al-Ma’idah: 8
Ayat tersebut menghantam satu penyakit besar manusia beragama: merasa benar lalu merasa berhak berlaku tidak adil.
Padahal kebenaran tidak pernah membutuhkan kezaliman untuk mempertahankan dirinya. Dakwah tidak membutuhkan penghinaan. Nasihat tidak membutuhkan perundungan. Perbedaan pendapat tidak membutuhkan permusuhan.
Bahkan ketika kita menganggap pendapat orang lain salah, kita tetap tidak mendapatkan izin untuk kehilangan akhlak.
Para pemikir Islam seperti Al-Ghazali, Ibn Khaldun, Muhammad Abduh, dan Fazlur Rahman, dengan corak pemikiran yang berbeda, sama-sama memberi ruang penting bagi pembentukan manusia dan masyarakat.
Ibn Khaldun berbicara tentang solidaritas sosial dan bangunan peradaban. Al-Ghazali menekankan penyucian jiwa. Muhammad Abduh mendorong rasionalitas dan pembaruan. Fazlur Rahman mengajak membaca pesan moral Al-Qur’an agar wahyu tidak berhenti pada literalitas teks, tetapi bergerak menjadi kekuatan etis dalam kehidupan.
Semuanya memberi pelajaran bahwa agama yang hidup adalah agama yang mampu membentuk manusia.
Karena itu, tantangan umat beragama hari ini bukan sekadar bagaimana memperbanyak simbol keagamaan, tetapi bagaimana mengembalikan agama kepada fungsi pembentukan akhlak.
Kita membutuhkan masjid yang melahirkan kepedulian, sekolah yang melahirkan kejujuran, kampus yang melahirkan keadilan, organisasi yang melahirkan pelayanan, dan media sosial yang melahirkan percakapan beradab.
Jika agama hanya menjadi identitas kelompok, ia akan mudah dipakai untuk membangun tembok. Tetapi jika agama menjadi sumber akhlak, ia dapat menjadi jembatan.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa kasih sayang bukan kelemahan. Ia justru menjadi ukuran kualitas manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
“Barang siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.”
HR. Bukhari dan Muslim
Maka barangkali persoalan terbesar kita bukan kekurangan agama, melainkan kekurangan manusia yang benar-benar menghidupkan agamanya.
Kita memiliki terlalu banyak orang yang ingin menjadi pembela Tuhan, tetapi terlalu sedikit yang bersedia menjadi pembela manusia yang dizalimi. Kita sibuk memperdebatkan siapa paling benar, tetapi lupa bertanya siapa yang paling banyak menebar manfaat.
Kita sibuk mengurus kesalehan orang lain, sementara rumah sendiri belum tentu merasakan kedamaian dari keberagamaan kita.
Pada akhirnya, agama tidak seharusnya membuat manusia semakin kecil hatinya. Agama seharusnya memperluas hati, mempertajam nurani, menguatkan keberanian membela keadilan, dan menumbuhkan kasih sayang.
Inilah titik di mana Islam harus hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin. Bukan Islam yang kehilangan prinsip, tetapi Islam yang mampu menunjukkan prinsip melalui akhlak.
Bukan Islam yang takut terhadap perbedaan, tetapi Islam yang matang menghadapi perbedaan. Dan bukan agama yang hanya terdengar keras dari mimbar, melainkan agama yang terasa lembut dalam kehidupan.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberagamaan bukan seberapa keras kita meneriakkan nama Tuhan, melainkan seberapa banyak manusia merasa aman, dihormati, dan terbantu ketika berhadapan dengan kita.





0 Tanggapan
Empty Comments