Tanwir Muhammadiyah yang akan digelar di Palu, Sulawesi Tengah, November 2026 tidak hanya menjadi forum evaluasi perjalanan organisasi. Forum permusyawaratan tertinggi Muhammadiyah setelah Muktamar itu juga akan menjadi titik penting untuk mematangkan persiapan Muktamar 2027 sekaligus menyusun arah program jangka panjang Muhammadiyah untuk dua dekade berikutnya.
Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto dalam Lensamu Podcast yang tayang Ahad (20/9/2026).
Agung menjelaskan, Tanwir merupakan forum permusyawaratan tertinggi Muhammadiyah setelah Muktamar. Jika Muktamar digelar setiap lima tahun, Tanwir dilaksanakan sekurang-kurangnya tiga kali dalam satu periode kepemimpinan.
“Tanwir ini adalah forum tertinggi setelah Muktamar,” ujar Agung.
Menurut dia, salah satu agenda utama Tanwir Palu adalah mengevaluasi pelaksanaan program organisasi. Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, hingga unsur pimpinan lainnya akan menyampaikan laporan untuk dievaluasi bersama.
“Di Tanwir itu kita melakukan evaluasi terhadap kinerja organisasi, melakukan konsolidasi, kemudian membuat kebijakan-kebijakan yang diperlukan,” jelasnya.
Berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat dan membutuhkan sikap organisasi juga akan dibahas. Agung menyebut isu pertambangan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai contoh persoalan yang perlu dilaporkan dan menjadi bahan pembahasan dalam Tanwir.
Namun, agenda yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan Muktamar Muhammadiyah yang akan berlangsung di Medan, Sumatera Utara, November 2027.
Tanwir akan membahas sejumlah perangkat yang berkaitan dengan Muktamar, antara lain Panitia Pemilihan, tata cara pemilihan, serta ketentuan mengenai pihak yang memiliki hak memilih.
Lebih jauh, Muhammadiyah juga mulai menyiapkan arah gerakan untuk jangka panjang. Program jangka panjang Muhammadiyah 2005–2025 sebelumnya telah diperpanjang hingga 2027. Setelah itu, Muhammadiyah perlu menyusun program jangka panjang baru untuk periode 2027–2047.
Agung menilai penyusunan program tersebut membutuhkan pembahasan serius dan masukan yang luas. Arah gerakan Muhammadiyah ke depan harus mampu menjawab kebutuhan organisasi sekaligus perkembangan bangsa Indonesia.
“Ini membutuhkan pembahasan yang serius dan masukan yang luas,” ujarnya.
Tanwir Palu juga membuka ruang pembahasan terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Muhammadiyah. Salah satu persoalan yang mengemuka adalah kemungkinan perubahan ketentuan mengenai keanggotaan Muhammadiyah.
Di antaranya, pertanyaan mengenai kemungkinan warga negara asing menjadi anggota Muhammadiyah dan ketentuan mengenai keanggotaan bagi non-Muslim.
Agung mengatakan persoalan tersebut telah dibahas dalam Tanwir sebelumnya. Namun, keputusan akhirnya tetap berada di tangan Muktamar.
Menyatukan Bangsa
Tanwir Palu mengusung tema “Bersama Satukan Bangsa”. Bagi Agung, tema tersebut relevan dengan kebutuhan menjaga persatuan Indonesia di tengah berbagai tantangan sosial.
“Bersama satukan bangsa ini adalah sesuatu yang sangat penting,” katanya.
Menurut dia, persatuan merupakan bagian penting dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, dan diridai Allah. Karena itu, semangat Bhinneka Tunggal Ika perlu terus dirawat di tengah perkembangan zaman yang semakin tanpa batas dan berpotensi memengaruhi ikatan kebangsaan.
Dalam konteks Muhammadiyah, gagasan tersebut berkaitan dengan konsep Dar al-‘Ahdi wa al-Syahadah. Indonesia dipandang Muhammadiyah sebagai hasil konsensus kebangsaan yang perlu dijaga sekaligus diisi dengan amal nyata agar cita-cita masyarakat utama dapat diwujudkan.
Pemilihan Palu sebagai lokasi Tanwir juga memiliki pertimbangan tersendiri.
Agung mengatakan Muhammadiyah ingin memberi perhatian kepada kota-kota di luar pusat-pusat besar. Kehadiran Tanwir di Palu sekaligus diharapkan menghadirkan semangat kebangkitan bagi masyarakat setempat yang masih menjalani proses pemulihan setelah gempa bumi, likuefaksi, dan tsunami pada 2018.
Pelaksanaan Tanwir juga bertepatan dengan Milad ke-114 Muhammadiyah. Sejumlah kegiatan akan menyertai agenda tersebut, antara lain bazar, tabligh akbar, dan kegiatan seni.
Muhammadiyah juga berharap Presiden dapat hadir dalam pembukaan Tanwir sebagai bagian dari hubungan dan kerja sama organisasi dengan pemerintah.
Pada akhirnya, rangkaian agenda Tanwir Palu bermuara pada persoalan yang lebih besar: bagaimana Muhammadiyah memperkuat persatuan melalui keadilan, kesejahteraan, kemajuan, dan kebersamaan.
Agung mengingatkan, ketimpangan sosial-ekonomi, korupsi, serta krisis keteladanan dapat menjadi persoalan yang mengganggu persatuan bangsa.
Karena itu, Tanwir Palu bukan sekadar forum untuk melihat apa yang telah dikerjakan Muhammadiyah. Forum ini sekaligus menjadi ruang untuk menentukan apa yang perlu dikerjakan setelah 2027 dan bagaimana Muhammadiyah menempatkan gerakannya dalam perjalanan bangsa hingga 2047. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments