Ada masa ketika kita sudah berbuat baik, tetapi tetap disalahkan. Kita sudah membantu, tetapi dianggap kurang. Kita sudah berusaha menjaga perasaan orang lain, tetapi justru kita yang terluka.
Kita sudah memilih diam agar tidak memperpanjang masalah, tetapi diam kita ditafsirkan macam-macam.
Pada titik seperti itu, kita sering bertanya: Mengapa orang tidak memahami niat baik saya?
Mungkin di situlah kita perlu belajar satu hal penting: jangan menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan utama hidup. Raihlah rida Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS Al-Baqarah: 207)
Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan seorang hamba bukanlah seberapa banyak manusia memujinya. Ukurannya adalah apakah Allah meridai apa yang dilakukan.
Sebab pujian manusia berubah-ubah. Hari ini dipuji, besok dicela. Hari ini dianggap berjasa, besok jasanya dilupakan. Hari ini disanjung karena dianggap baik, besok bisa saja dituduh memiliki kepentingan. Begitulah manusia.
Karena itu, jangan terlalu sibuk mengejar penilaian manusia sampai lupa mencari penilaian Allah.
Ketika kebaikan Tidak Dipahami
Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia membantu banyak orang. Ia menyisihkan waktu untuk keluarga. Ia berusaha jujur dalam pekerjaan.
Namun suatu hari, satu kesalahan kecil membuat semua kebaikannya seolah-olah tidak pernah ada. Ia kecewa. Ia ingin menjelaskan kepada semua orang bahwa dirinya tidak seperti yang dituduhkan.
Ia ingin membuktikan bahwa niatnya baik. Tetapi semakin ia menjelaskan, semakin banyak energi yang terkuras.
Pada akhirnya ia menyadari: tidak semua orang harus memahami kita. Ada hal-hal yang cukup Allah ketahui. Niat yang tidak diketahui manusia, Allah mengetahuinya.
Air mata yang disembunyikan dari manusia, Allah melihatnya.
Kebaikan yang tidak pernah dipuji, Allah mencatatnya. Bahkan doa yang hanya terucap dalam hati, Allah mendengarnya.
Sedekat apa pun hubungan kita dengan manusia, tetap tidak ada seorang pun yang memahami kita secara sempurna selain Allah.
Sehebat apa pun pertolongan manusia, tetap tidak ada pertolongan yang melebihi pertolongan Allah.
Allah berfirman: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah: 5)
Ketika menghadapi masalah, tentu kita boleh bercerita kepada orang yang dipercaya. Kita boleh meminta nasihat. Kita boleh mencari bantuan.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk menutup diri dari sesama. Tetapi jangan sampai hati kita bergantung kepada manusia.
Manusia hanya bisa memberikan saran. Manusia hanya bisa membuka satu pintu. Manusia hanya bisa mengulurkan tangan sejauh kemampuannya.
Tetapi Allah yang membukakan jalan. Allah yang mengubah keadaan. Allah yang membolak-balikkan hati. Allah pula yang mampu menghadirkan pertolongan dari arah yang tidak pernah kita duga.
Karena itu, ketika kita bingung menentukan langkah, bacalah doa yang setiap hari kita ucapkan: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS Al-Fatihah: 6)
Kadang kita terlalu sibuk mencari jawaban dari manusia, sementara jawaban itu justru sedang kita mohonkan kepada Allah dalam setiap salat.
Ketika Hidup Terasa Terlalu Berat
Ada orang yang malam-malam menangis sendirian. Bukan karena tidak punya teman. Tetapi karena ia merasa tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami apa yang sedang ia rasakan.
Ada yang tersenyum di depan keluarganya, tetapi menyimpan kegelisahan yang panjang. Ada yang terlihat tenang di tempat kerja, padahal pikirannya sedang penuh.
Ada yang masih mampu bercanda dengan teman-temannya, sementara hatinya sedang berjuang menghadapi masalah keluarga, ekonomi, pekerjaan, atau masa depan.
Dalam keadaan seperti itu, jangan merasa sendirian.
Allah tidak pernah jauh. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 153)
Maka ketika beban terasa berat, datanglah kepada Allah. Ketika tidak tahu harus bercerita kepada siapa, mengadulah kepada Allah. Ketika jalan terasa buntu, mintalah Allah menunjukkan jalan. Ketika manusia mengecewakan, jangan biarkan kekecewaan itu menjauhkan kita dari Allah.
Justru jadikan ia alasan untuk semakin dekat kepada-Nya.
Nabi Ya’qub ‘alaihissalam pernah mengalami kesedihan yang sangat dalam karena kehilangan putranya, Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Namun kesedihan itu tidak membuatnya kehilangan tempat bergantung.
Ia berkata: “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86)
Inilah pelajaran besar. Mengadu kepada Allah bukan berarti kita tidak boleh bercerita kepada manusia. Tetapi hati harus tahu kepada siapa ia bergantung.
Manusia mungkin mendengarkan. Allah Maha Mendengar. Manusia mungkin mengasihi. Allah Maha Pengasih. Manusia mungkin membantu. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Karena itu, jadikan Allah tujuan pertama dalam setiap permohonan, sebelum menjadikan manusia sebagai tempat meminta bantuan.
Jangan Hidup untuk Mendapat Tepuk Tangan
Ada orang yang akhirnya lelah karena terlalu sibuk menjaga penilaian manusia. Berbuat baik agar dipuji. Bersedekah agar dianggap dermawan. Bekerja keras agar disebut hebat. Berbicara agar dianggap pintar. Bahkan beribadah pun bisa tergelincir menjadi usaha mencari pengakuan.
Padahal tepuk tangan manusia tidak pernah cukup. Semakin dikejar, semakin kita membutuhkan. Hari ini mendapat pujian, besok ingin dipuji lagi. Hari ini mendapat pengakuan, besok takut kehilangan pengakuan.
Hidup akhirnya menjadi sandera penilaian orang lain. Padahal ketenangan datang ketika kita berkata dalam hati:
“Ya Allah, aku tidak mampu membuat semua orang menyukaiku. Cukuplah Engkau mengetahui niatku dan meridai langkahku.”
Allah berfirman: “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS Al-Bayyinah: 8)
Pada akhirnya, yang kita cari bukan tepuk tangan manusia. Bukan pula banyaknya pengikut. Bukan seberapa sering nama kita disebut. Yang kita cari adalah rida Allah. Sebab ketika Allah rida, celaan manusia tidak akan menghancurkan kita.
Ketika Allah rida, pujian manusia tidak akan membuat kita mabuk. Ketika Allah rida, hati memiliki tempat kembali.
Kita sering mengira bahwa orang yang kuat adalah orang yang tidak pernah mengeluh. Tidak selalu demikian. Orang kuat bisa menangis. Orang kuat bisa sedih. Orang kuat bisa merasa lelah.
Tetapi ia tahu ke mana harus kembali. Ia tidak membiarkan kesedihan menguasai hidupnya. Ia membawa kesedihan itu ke dalam doa. Ia membawa kegelisahan itu ke dalam sujud. Ia membawa ketakutannya kepada Allah.
Itulah kekuatan seorang mukmin. Bukan karena hidupnya selalu mudah. Tetapi karena ia memiliki Allah sebagai tempat bergantung.
Semoga Allah memberi kita kemudahan dalam setiap kesulitan. Memberi kekuatan dalam setiap kelemahan. Menguatkan hati kita ketika manusia mengecewakan.
Menjaga kita dari riya dan keinginan berlebihan mencari pujian. Dan yang paling penting, semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mendapatkan rida-Nya.
Sebab sesungguhnya, ketika Allah sudah rida, kita tidak perlu terlalu sibuk mencari rida manusia.
Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia memahamkannya tentang agama.” (HR Bukhari dan Muslim)
Maka teruslah belajar. Teruslah memperbaiki diri. Teruslah berbuat baik meski tidak selalu dipuji. Teruslah menolong meski kebaikan itu tidak selalu diingat. Teruslah berjalan di jalan yang benar meski tidak semua orang menyukainya.
Karena hidup ini bukan perlombaan untuk mendapatkan pengakuan manusia. Hidup adalah perjalanan untuk mendapatkan rida Allah.
Wallahu a’lam bish-shawab. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments