Mengatakan “tidak” ternyata bisa menjadi ujian bagi seorang pemimpin. Apalagi ketika yang harus ditolak berkaitan dengan teman, jabatan, keuntungan, atau kepentingan pribadi.
Banyak orang tahu sebuah tindakan salah, tetapi memilih diam karena takut kehilangan sesuatu. Padahal, keberanian mengatakan “tidak” pada kesalahan merupakan bagian penting dari ketegasan seorang pemimpin.
Pesan itu mengemuka dalam Kajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Menganti di Halaman Masjid Al Ishlah, Ahad (9/8/2026). Kajian yang berlangsung pukul 06.00–07.30 WIB itu mengangkat tema “Kepemimpinan Rasulullah: Jujur, Tegas, dan Bermusyawarah.”
Dalam kajian tersebut, Ustaz Nofan Arifianto, M.Pd., mengajak jamaah melihat kembali bagaimana Rasulullah saw memberikan teladan kepemimpinan yang tidak hanya kuat dalam prinsip, tetapi juga terbuka terhadap pendapat orang lain.
Kepemimpinan, menurutnya, bukan sekadar persoalan jabatan. Ia merupakan amanah yang melekat pada setiap orang.
Seorang ayah memimpin keluarganya. Seorang ibu memiliki peran penting dalam keluarga. Ketua organisasi memimpin anggotanya. Atasan memimpin bawahannya. Bahkan, setiap manusia pada hakikatnya adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.
Salah satu ujian kepemimpinan muncul ketika seseorang harus berhadapan dengan sesuatu yang jelas salah.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang kadang tahu bahwa suatu tindakan tidak benar, tetapi memilih membiarkannya karena merasa kesalahannya kecil.
Misalnya ketika berhadapan dengan praktik korupsi. Muncul pembenaran, “Cuma sedikit, tidak apa-apa.”
Padahal, kesalahan yang terus dibenarkan dapat menjadi kebiasaan. Dari yang sedikit, bisa menjadi lebih besar.
Karena itu, pemimpin harus memiliki keberanian untuk membedakan yang benar dan yang salah.
“Kalau salah, ya salah. Kalau benar, ya benar,” menjadi prinsip yang ditekankan dalam kajian tersebut.
Ketegasan seperti ini memang tidak selalu mudah. Ada kalanya mengatakan kebenaran berarti harus siap kehilangan teman, jabatan, keuntungan, bahkan hubungan tertentu.
Namun, pemimpin yang baik tidak boleh mengorbankan prinsip hanya demi mempertahankan kepentingan.
Jujur Sebelum Menjadi Pemimpin
Menurut Ustaz Nofan Arifianto, ketegasan tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan fondasi kejujuran. Rasulullah saw dikenal masyarakat sebagai Al-Amin, sosok yang dapat dipercaya bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Rasul.
“Kejujuran atau as-siddiq menjadi salah satu fondasi penting kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memiliki kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Nilai itu harus dimulai dari lingkungan paling kecil, yakni keluarga.,” jelasnya
Orang tua harus memberi contoh kejujuran kepada anak. Anak juga perlu dibiasakan berkata jujur kepada orang tua. Kebiasaan tersebut akan membentuk karakter yang dibawa hingga dewasa. Sebab, ketika kejujuran hilang, kepercayaan ikut runtuh.
“Kebohongan juga sering melahirkan kebohongan berikutnya. Satu kebohongan harus ditutup dengan kebohongan lain. Lama-kelamaan, kebohongan berubah menjadi kebiasaan,” beber Ustaz Novan.
Karena itu, imbuh dia, karakter pemimpin sesungguhnya dibangun jauh sebelum seseorang mendapatkan jabatan.
Ustaz Novam lalu menjelaskan, ketegasan menjadi karakter berikutnya yang ditekankan. Allah SWT menggambarkan orang-orang yang bersama Rasulullah SAW dalam QS Al-Fath ayat 29 sebagai pribadi yang tegas terhadap orang-orang kafir dan saling menyayangi di antara mereka.
“Ketegasan bukan berarti kasar, galak, atau keras kepada semua orang. Tegas berarti konsisten memegang prinsip yang benar,” katanya.
Dalam keluarga, misalnya, orang tua perlu berani mengatakan tidak ketika anak meminta sesuatu yang tidak baik. Tidak semua keinginan anak harus dituruti hanya karena takut anak kecewa.
Begitu pula dalam organisasi dan kehidupan publik. Pemimpin tidak boleh membiarkan kesalahan hanya karena pelakunya orang dekat atau memiliki posisi tertentu.
“Rasulullah saw memberikan teladan bahwa aturan tidak boleh dibedakan berdasarkan status, hubungan keluarga, jabatan, ataupun kedudukan seseorang,” terang Ustaz Nofan.
Namun, ketegasan tetap harus ditempatkan secara proporsional. Rasulullah saw tegas dalam perkara prinsip dan kebenaran, tetapi juga dikenal lembut, ramah, dan penuh kasih sayang kepada keluarga serta orang-orang di sekitarnya.
“Tegas bukan berarti kasar. Tegas berarti konsisten,” cetusnya.
Pemimpin Tidak Harus Selalu Menang Sendiri
Dikatakan Ustaz Nofan Arifianto, menjadi pemimpin yang tegas bukan berarti merasa paling benar. Karakter ketiga yang ditekankan adalah musyawarah.
Rasulullah saw merupakan Rasul sekaligus pemimpin umat. Namun, beliau tetap melibatkan para sahabat dalam berbagai persoalan yang dapat dimusyawarahkan.
Salah satu contohnya adalah Perang Khandaq.
Ketika menghadapi ancaman pasukan musuh, Rasulullah SAW menerima gagasan Salman Al-Farisi untuk membuat parit sebagai strategi pertahanan.
}Contoh tersebut menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak harus merasa seluruh gagasan terbaik selalu berasal dari dirinya. Pemimpin harus memiliki kerendahan hati untuk mendengarkan,” papar dia.
Musyawarah dapat diterapkan dalam keluarga, organisasi, sekolah, tempat kerja, maupun kehidupan masyarakat.
Ketika suatu persoalan tidak mampu diselesaikan sendiri, libatkan orang lain. Dengarkan pandangan mereka. Pertimbangkan berbagai kemungkinan. Setelah itu, ambil keputusan.
“Musyawarah bukan berarti pemimpin kehilangan pendirian,” kata Ustaz Nofan.
Pemimpin tetap harus berani menentukan keputusan setelah mendengarkan berbagai pendapat. Ia tidak boleh menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada orang lain. Mau mendengar, tetapi tetap berani memutuskan.
Kajian Ahad Pagi PCM Menganti diikuti jamaah dari berbagai usia, mulai dari remaja hingga orang tua. Jajaran PCM Menganti, pengurus Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), serta sejumlah pimpinan ranting turut hadir.
Dalam kajian tersebut Ustaz Nofan juga menyampaikan kegelisahan melihat kegiatan keagamaan sering kali lebih banyak dihadiri jamaah berusia 40 tahun ke atas, sementara jumlah remaja masih relatif sedikit.
“Kalau satu orang tua harus menggandeng dua anak untuk datang ke kajian, lalu kita bertanya, ke mana generasi muda kita?” ujar Ustaz Nofan.
Menurutnya, masa muda merupakan waktu yang sangat penting untuk membangun ilmu, akhlak, karakter, dan jiwa kepemimpinan. Jangan sampai seseorang menganggap belajar agama baru penting ketika sudah tua.
“Sebab, karakter kepemimpinan tidak dibentuk secara tiba-tiba ketika seseorang memperoleh jabatan. Karekter tumbuh dari kebiasaan sejak muda: berani berkata jujur, mampu membedakan benar dan salah, serta terbiasa mendengarkan orang lain,” katanya.
Kajian yang Serius, tetapi Tidak Kaku
Kajian berlangsung dalam suasana yang hidup. Ustaz Nofan menyampaikan materi dengan gaya komunikatif dan energik. Berbagai contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari membuat pembahasan kepemimpinan terasa dekat dengan jamaah.
Sesekali humor diselipkan sehingga mengundang gelak tawa. Namun, suasana yang menghibur itu tidak mengurangi bobot materi. Justru melalui bahasa yang ringan, persoalan tentang integritas, ketegasan, dan musyawarah terasa lebih mudah dicerna.
Pada akhirnya, menurut Ustaz Nofan, kepemimpinan tidak dimulai dari kursi jabatan. Ia dimulai dari diri sendiri. Berani jujur ketika tidak ada yang melihat.
“Berani mengatakan tidak ketika berhadapan dengan kesalahan. Berani memegang prinsip ketika berada dalam tekanan. Dan pada saat yang sama, bersedia mendengarkan ketika orang lain memiliki pandangan yang berbeda,” ujarnya.
Itulah teladan kepemimpinan Rasulullah saw yang relevan untuk keluarga, organisasi, dan kehidupan masyarakat. Sebab, seorang pemimpin bukan hanya diuji ketika mendapat kekuasaan.
Ia justru diuji ketika harus memilih antara mempertahankan kepentingan atau mempertahankan kebenaran. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments