Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mahasiswa KKN STAIM Paciran Edukasi Anti-Bullying di SDN Tamanprijek, Tanamkan Empati Sejak Dini

Iklan Landscape Smamda
Mahasiswa KKN STAIM Paciran Edukasi Anti-Bullying di SDN Tamanprijek, Tanamkan Empati Sejak Dini
KKN STAIM Paciran mengadakan Program Kerja Edukasi Bullying di SD Negeri Tamanprijek. Foto: Irara Pebrianti/PWMU.CO
pwmu.co -

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAIM Paciran menggelar edukasi anti-bullying di SD Negeri Tamanprijek, Kecamatan Laren, Lamongan, Jumat (7/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program kerja mahasiswa KKN di bidang pendidikan sekaligus upaya menanamkan kesadaran tentang bahaya bullying sejak usia dini.

Edukasi ini tidak hanya mengajak siswa mengenali tindakan perundungan, tetapi juga menanamkan nilai empati, saling menghargai, dan kepedulian terhadap sesama.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai bullying. Para siswa diperkenalkan dengan berbagai bentuk perundungan yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik secara fisik maupun verbal.

Ejekan, panggilan yang merendahkan, mengucilkan teman, mempermalukan, hingga tindakan yang membuat seseorang merasa takut dan tidak nyaman menjadi contoh yang disampaikan kepada siswa.

Belajar Bullying melalui Film dan Kontemplasi

Agar materi lebih mudah dipahami, mahasiswa KKN STAIM Paciran kemudian menayangkan film pendek bertema bullying. Melalui film tersebut, siswa diajak memahami bahwa tindakan yang dianggap sebagai candaan oleh pelaku dapat meninggalkan luka bagi orang lain.

Setelah menyaksikan film, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kontemplasi. Para siswa diajak membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi seseorang yang diejek, dijauhi, dipermalukan, atau tidak diterima oleh lingkungan.

Mahasiswa mengajak siswa memahami bahwa setiap orang memiliki perasaan yang harus dihargai. Perkataan yang dianggap sederhana oleh seseorang dapat menjadi sesuatu yang membekas bagi orang lain.

Sesi tersebut menjadi ruang refleksi untuk menumbuhkan empati sekaligus kesadaran bahwa menghargai teman merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap sesama.

Pohon Harapan dan Rumah Stop Bullying

Suasana kemudian dicairkan melalui kegiatan ice breaking “Pohon Harapan” dan “Rumah Stop Bullying”.

Dalam kegiatan tersebut, siswa diberi kesempatan menyampaikan harapan tentang lingkungan sekolah yang mereka inginkan. Mereka juga menuliskan komitmen sederhana untuk ikut menciptakan pertemanan yang aman, nyaman, dan menyenangkan.

Setiap harapan yang ditempelkan menjadi simbol bahwa lingkungan bebas bullying dapat diwujudkan secara bersama-sama.

Sebagai narasumber, Moh. Faizal Muttaqin mengatakan edukasi anti-bullying perlu diberikan sejak sekolah dasar agar anak memiliki pemahaman dan kesadaran mengenai dampak perilaku perundungan.

SMPM 5 Pucang SBY

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan gambaran kepada anak-anak sejak dini tentang pentingnya menghindari perilaku bullying dalam bentuk apa pun,” ujarnya.

Menurutnya, rangkaian kegiatan yang diberikan tidak hanya bertujuan membuat siswa memahami pengertian bullying, tetapi juga mengajak mereka merasakan posisi korban.

“Melalui materi, film, kontemplasi, hingga Pohon Harapan dan Rumah Stop Bullying, kami ingin mereka tidak hanya tahu apa itu bullying, tetapi juga mampu merasakan bagaimana jika dirinya berada di posisi orang yang menjadi korban,” jelasnya.

Ia berharap siswa semakin mampu menjaga ucapan, menghargai perbedaan, dan berani membantu teman yang membutuhkan.

“Terkadang sesuatu yang dianggap hanya candaan oleh kita bisa menjadi luka yang terus diingat oleh orang lain. Harapannya, anak-anak dapat belajar untuk lebih menjaga ucapan, menghargai perbedaan, berani membantu teman yang membutuhkan, dan bersama-sama menciptakan sekolah yang aman, nyaman, serta bebas dari bullying,” tambahnya.

Membangun Sekolah yang Ramah dan Peduli

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN STAIM Paciran berharap edukasi anti-bullying tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Pohon Harapan dan Rumah Stop Bullying menjadi simbol pesan bahwa sekolah yang nyaman dapat dibangun bersama. Bukan hanya oleh guru, tetapi juga oleh setiap siswa yang memilih untuk tidak menyakiti, tidak merendahkan, dan berani membantu ketika melihat temannya mengalami perlakuan tidak adil.

Kegiatan ini juga menjadi bentuk kontribusi mahasiswa KKN STAIM Paciran dalam mendukung pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter.

Melalui pembiasaan saling menghargai dan berempati sejak dini, para siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mampu menciptakan lingkungan yang lebih ramah, manusiawi, dan penuh kepedulian. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 08/08/2026 22:51
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu