Suasana pembelajaran di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) tampak berbeda dari biasanya. Meja-meja belajar tidak hanya dihiasi buku dan gawai, tetapi juga timbangan digital serta beragam kotak bekal berisi makanan sehat.
Para siswa terlihat antusias menimbang porsi makanan, mulai dari nasi, potongan dada ayam, brokoli, hingga buah-buahan. Berat setiap makanan kemudian dicatat dalam satuan gram menggunakan aplikasi pencatat nutrisi di gawai masing-masing.
Aktivitas tersebut merupakan bagian dari praktikum terpadu modul gizi dan nutrisi terbaru dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di Smamda Surabaya.
Materi Dasar-Dasar Ilmu Gizi disampaikan secara intensif pada 27 Juli hingga 10 Agustus 2026. Kegiatan dibagi menjadi dua tahap, yakni penyampaian materi pada 27 Juli–3 Agustus dan praktikum lapangan pada 4–10 Agustus 2026.
Buah Manis Penantian Tujuh Tahun
Inovasi modul gizi tersebut berawal dari gagasan yang telah dirintis sejak 2019. Saat itu, salah satu guru PJOK Smamda Surabaya, Maurice Anantatoer Akbar, mengikuti pelatihan Gizi untuk Remaja yang diselenggarakan SEAMEO RECFON (Regional Centre for Food and Nutrition) selama tiga bulan.
“Kala itu ada energi luar biasa untuk membagikan ilmu ini. Namun, kami terus menggodok bagaimana formulasi yang paling tepat. Alhamdulillah, di tahun 2026 ini melalui kolaborasi dan kerja keras seluruh Tim Guru PJOK Smamda Surabaya, modul tiga jenjang ini akhirnya qadarullah bisa terwujud dan diterapkan,” ungkap Maurice.
Gagasan tersebut kemudian terus dikembangkan hingga akhirnya Tim Guru PJOK Smamda merancang modul pembelajaran mandiri yang disusun dalam tiga jenjang sesuai perkembangan siswa.
“Atas izin Allah dan kolaborasi yang sangat solid bersama Tim Guru PJOK Smamda Surabaya, mimpi panjang yang terpendam selama tujuh tahun ini akhirnya qadarullah bisa terwujud nyata,” tambahnya.
Kurikulum Gizi Terintegrasi Tiga Jenjang
Modul gizi yang dikembangkan Tim PJOK Smamda Surabaya disusun secara bertahap atau scaffolding. Materinya disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa di setiap jenjang.
Kelas X – Fondasi Gizi dan Food Journaling
Siswa diajak memahami dasar-dasar kebutuhan energi, jenis nutrisi makro dan mikro, serta melakukan pencatatan asupan harian melalui food journal. Tahap ini bertujuan membangun kesadaran siswa terhadap makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Kelas XI – Perhitungan dan Nutrient Timing
Pada jenjang ini, siswa mulai mempelajari perhitungan Body Mass Index (BMI), Basal Metabolic Rate (BMR), dan Total Daily Energy Expenditure (TDEE).
Berdasarkan data tersebut, siswa menyusun konsep Piring Makanku yang disesuaikan dengan tujuan fisik masing-masing. Mereka juga dilatih memiliki literasi digital dengan membaca dan menganalisis informasi nilai gizi pada kemasan makanan.
Kelas XII – Eksekusi Meal Plan dan Evaluasi Kritis
Pembelajaran kemudian diarahkan pada tahap praktik. Siswa menyusun menu Piring Makanku secara nyata, menimbang berat makanan dalam satuan gram, serta menghitung kandungan kalori hidangan berdasarkan kebutuhan energi harian.
Selain itu, siswa diajak mengevaluasi fenomena eating disorders dan mengkritisi berbagai klaim yang muncul terkait produk suplemen populer.
Dorong Perubahan Perilaku Makan
Modul tersebut tidak dirancang sekadar untuk memberikan pengetahuan teoritis. Pembelajaran diarahkan pada perubahan perilaku siswa dalam memilih dan mengonsumsi makanan.
Melalui integrasi teknologi digital dan alat ukur, siswa belajar menganalisis pemenuhan kebutuhan energi harian sekaligus menerapkan panduan Piring Makanku dari Kementerian Kesehatan RI.
Harapannya, kebiasaan tersebut tidak berhenti pada saat praktikum atau pengerjaan tugas. Siswa diharapkan terbiasa membawa bekal dengan komposisi nutrisi yang seimbang.
Kebiasaan tersebut juga diharapkan dapat memberikan dampak positif hingga lingkungan keluarga di rumah.
“Melihat anak-anak antusias menimbang bekal dan memahami apa yang masuk ke tubuh mereka adalah kebahagiaan terbesar bagi kami sebagai pendidik. Pembelajaran gizi ini tidak berhenti pada lembar soal ujian, tetapi benar-benar hidup di meja makan mereka,” tegas Maurice.
Melalui inovasi pembelajaran tersebut, Tim PJOK Smamda Surabaya berharap dapat terus melahirkan generasi muda Muhammadiyah yang tidak hanya unggul secara akademik dan fisik, tetapi juga memiliki literasi gizi yang kuat sebagai bekal menjaga kesehatan pada masa depan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments