Menepati janji kepada Allah, menjaga kemurnian tauhid, serta menerima kebenaran menjadi pesan penting dalam Pengajian Tafsir Jalalain yang disampaikan Ustadz Saiun Ngalim di Masjid Al Fajri, Tuban, Sabtu (8/8/2026).
Dalam kajian tersebut, Ustadz Saiun menguraikan kandungan sejumlah ayat dalam Surat Al-Ma’idah, khususnya mengenai perjanjian Allah dengan Bani Israil dan Ahli Kitab, konsekuensi ketika perjanjian itu diingkari, serta kesinambungan ajaran tauhid yang dibawa para nabi dan rasul.
Menepati Perjanjian dengan Allah
Mengawali penjelasan, Ustadz Saiun mengingatkan kandungan Surat Al-Ma’idah ayat 11 tentang nikmat dan perlindungan Allah kepada orang-orang beriman.
Menurutnya, ayat tersebut mengajarkan agar seorang mukmin senantiasa mengingat pertolongan Allah, meningkatkan ketakwaan, dan tidak menggantungkan keselamatan kepada selain-Nya.
Pembahasan kemudian berlanjut pada ayat 12, yang mengisahkan perjanjian Allah dengan Bani Israil. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Allah mengangkat dua belas pemimpin, yang berkaitan dengan dua belas suku Bani Israil.
Perjanjian tersebut memuat sejumlah kewajiban mendasar, antara lain mendirikan shalat, menunaikan zakat, beriman kepada para rasul, mendukung perjuangan mereka, serta menginfakkan harta di jalan Allah sebagai bentuk qardh hasan atau “pinjaman yang baik”.
“Jika perjanjian itu dipenuhi, Allah menjanjikan ampunan atas kesalahan dan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,” jelas Ustadz Saiun dalam kajiannya.
Sebaliknya, ketika perjanjian tersebut diingkari, Allah mengingatkan adanya konsekuensi serius. Di antaranya adalah dijauhkan dari rahmat Allah, hati menjadi keras, sebagian ajaran dilupakan, dan terjadinya penyimpangan terhadap pesan-pesan wahyu.
Dari Pengingkaran Muncul Permusuhan
Ustadz Saiun kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan Surat Al-Ma’idah ayat 13, yang menjelaskan akibat pengingkaran perjanjian oleh sebagian Ahli Kitab.
Al-Qur’an menyebut bahwa akibat dari sikap tersebut adalah munculnya permusuhan dan kebencian di antara mereka hingga hari kiamat.
Menurut Ustadz Saiun, ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa ketika manusia meninggalkan kebenaran yang telah diketahuinya dan tidak lagi berpegang teguh pada petunjuk Allah, dampaknya bukan hanya terhadap hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dapat merusak hubungan antarmanusia.
Karena itu, pesan utama ayat bukan sekadar kisah sejarah Bani Israil dan Ahli Kitab, melainkan juga menjadi peringatan bagi umat Islam agar tidak mengulangi kesalahan yang sama: berjanji kepada Allah tetapi kemudian mengabaikannya.
Inti Risalah Para Rasul adalah Tauhid
Kajian kemudian mengarah pada satu pokok penting dalam seluruh risalah kenabian, yakni tauhid.
Meskipun Allah memberikan keutamaan dan derajat yang berbeda kepada sebagian rasul atas sebagian yang lain, inti dakwah mereka tetap sama: mengajak manusia menyembah Allah Yang Maha Esa dan tidak mempersekutukan-Nya.
Dari Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad ﷺ, prinsip dasar keimanan kepada Allah dan para rasul merupakan satu kesatuan. Nabi Muhammad ﷺ hadir bukan untuk memutus risalah para nabi sebelumnya, melainkan sebagai rasul terakhir yang membenarkan risalah yang dibawa para nabi terdahulu sekaligus menyempurnakan ajaran tersebut.
Dalam konteks inilah, pembahasan tentang Ahli Kitab menjadi penting. Al-Qur’an mengkritik sikap sebagian dari mereka yang mengingkari kebenaran setelah datangnya penjelasan dan bukti.
Namun demikian, sejarah juga mencatat adanya orang-orang dari kalangan Ahli Kitab yang menerima kebenaran dan beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Kisah Waraqah dan Pelajaran tentang Kejujuran Mencari Kebenaran
Salah satu contoh yang dibahas adalah Waraqah bin Naufal, yang ketika mendengar kisah pengalaman Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu pertama, mengenali adanya tanda-tanda kenabian.
Sikap Waraqah memberikan pelajaran bahwa seseorang yang benar-benar mencari kebenaran akan berusaha menerimanya ketika bukti telah datang, meskipun kebenaran tersebut mengharuskan dirinya meninggalkan keyakinan atau kebiasaan sebelumnya.
Pesan ini relevan bagi umat Islam: jangan sampai seseorang mengetahui kebenaran tetapi menolaknya karena kepentingan, fanatisme, kebencian, atau keengganan untuk berubah.
Al-Qur’an dan Jaminan Penjagaan Allah
Salah satu bagian penting kajian adalah pembahasan mengenai Surat Al-Hijr ayat 9:
«“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kamilah yang benar-benar memeliharanya.”»
Ayat tersebut menjadi dasar keyakinan umat Islam bahwa Allah memberikan penjagaan terhadap Al-Qur’an.
Ustadz Saiun menekankan bahwa Al-Qur’an harus menjadi pedoman yang dijaga, dipelajari, dipahami, dan diamalkan. Kemurnian Al-Qur’an bukan sekadar untuk diyakini, tetapi juga harus melahirkan sikap hidup yang sesuai dengan petunjuknya.
Jangan Hanya Mengetahui, tetapi Menepati
Dari rangkaian ayat yang dikaji, terdapat satu pesan kuat yang dapat dibawa pulang oleh jamaah: iman tidak cukup hanya dengan pengakuan, tetapi harus dibuktikan dengan ketaatan dan kesetiaan terhadap perjanjian dengan Allah.
Shalat, zakat, keimanan kepada seluruh rasul, kepedulian terhadap perjuangan agama, serta kesediaan menginfakkan harta di jalan Allah merupakan bagian dari konsekuensi iman.
Pengingkaran terhadap janji Allah dapat menyeret manusia kepada berbagai bentuk penyimpangan, sedangkan kesetiaan kepada Allah menjadi jalan menuju ampunan dan rahmat-Nya.
Kajian Tafsir Jalalain tersebut akhirnya mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi: apakah janji kepada Allah benar-benar telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?
Sebab, sebagaimana pesan yang dapat dipetik dari rangkaian ayat tersebut, menjaga tauhid bukan hanya persoalan ucapan, melainkan juga kesetiaan menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, serta berpegang teguh pada kebenaran hingga akhir kehidupan.
Dari Masjid Al Fajri Tuban, kajian ini kembali mengingatkan bahwa sejarah umat terdahulu bukan sekadar untuk dikenang, tetapi menjadi cermin agar umat hari ini tidak mengulangi kesalahan yang sama. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments