Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tiga Jam yang Mengubah Hidup Alumni UMS Amna

Iklan Landscape Smamda
Tiga Jam yang Mengubah Hidup Alumni UMS Amna
Foto: UMS

Pagi baru saja dimulai di Katowice, Polandia Selatan. Di sebuah apartemen sederhana, Amnaduny Akhara Nurhasan menyalakan laptop. Baris-baris kode segera memenuhi layar.

Sebagai software engineer di Rockwell Automation, perusahaan global yang bergerak di bidang otomasi industri dan transformasi digital, Amna terbiasa berhadapan dengan kode, sistem, dan persoalan teknis yang menuntut ketelitian.

Namun, pekerjaannya belum selesai ketika jam kantor berakhir.

Di malam hari, ia kembali membuka laptop. Kali ini bukan untuk urusan pekerjaan, melainkan riset doktoralnya tentang analisis pergerakan mata untuk mendeteksi gangguan neurologis.

Rutinitas itu mungkin terdengar biasa bagi seorang profesional yang sedang menempuh doktoral. Tetapi bagi Amna, kehidupan di Polandia tersebut adalah sesuatu yang nyaris tak pernah terbayangkan belasan tahun lalu.

Anak Kartasura yang dahulu gemar bermain PlayStation, gim daring, dan mengutak-atik komputer itu kini tinggal ribuan kilometer dari rumah. Ia bekerja di perusahaan global, pernah menempuh studi magister dengan beasiswa, mengikuti program pertukaran pelajar di Eropa, dan sekarang menjalani pendidikan doktoral dengan pendanaan penuh dari Pemerintah Polandia.

“Kalau dipikir sekarang memang nggak pernah kebayang, sih!” ujarnya awal Agustus 2026, sembari terkekeh mengingat perjalanan panjang tersebut.

Yang menarik, salah satu titik balik terbesar dalam perjalanan hidup Amna justru terjadi hanya dalam waktu tiga jam.

***

Semua bermula dari sebuah pesan singkat seorang teman. Saat itu, Amna mendapat informasi tentang program beasiswa magister dari Pemerintah Polandia. Kesempatan itu menarik, tetapi waktunya nyaris habis.

Amna baru memutuskan mendaftar ketika batas akhir pendaftaran tinggal tiga jam.

“Saya daftar tiga jam sebelum penutupan. Dokumennya benar-benar seadanya,” kenangnya.

Persoalan belum berhenti di sana. Amna bahkan belum memiliki sertifikat IELTS.

Alih-alih mundur, ia mencari jalan keluar. Statusnya sebagai alumni Program Studi Teknik Elektro Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ternyata menjadi salah satu modal penting.

Karena selama kuliah di kelas internasional menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, ia dapat menggunakan surat keterangan dari UMS sebagai dokumen pendukung kemampuan bahasa.

Berkas yang ada dikumpulkan. Pendaftaran dikirim. Selesai. Tinggal menunggu.

Beberapa pekan kemudian, pengumuman keluar. Dari sekitar 300–400 pendaftar asal Indonesia, hanya 14 orang yang dinyatakan lolos. Nama Amna ada di dalam daftar itu.

Tiga jam yang sebelumnya mungkin terasa seperti waktu yang terlalu sempit untuk sebuah keputusan besar ternyata menjadi pintu menuju babak baru kehidupannya.

Jauh sebelum mengenal Polandia, Erasmus+, atau perusahaan global, Amna adalah mahasiswa Teknik Elektro UMS yang memilih mengambil jalan sedikit berbeda.

Pada 2015, ia mendaftar Program Studi Teknik Elektro kelas internasional.

Keputusannya bahkan ia sebut sebagai sebuah kenekatan.

“Nekat saja masuk kelas internasional. Padahal, bahasa Inggris saya waktu itu terbilang nggak karuan,” katanya sambil tertawa.

Namun, Amna tidak menjadikan keterbatasan bahasa sebagai alasan untuk mundur.

Ia justru mencari lingkungan yang memaksanya berkembang. Amna tinggal di Pesantren Mahasiswa (Pesma) UMS agar memiliki lebih banyak kesempatan berinteraksi dengan mahasiswa asing.

Dari situlah kepercayaan dirinya tumbuh. Pengalaman di UMS kemudian menjadi bagian penting dari pembentukan dirinya. Ia tidak hanya duduk di ruang kuliah.

Amna dipercaya menjadi Ketua AEROBO, komunitas robotika udara UMS. Ia mengikuti Kontes Robot Terbang Indonesia, aktif di Muhammadiyah University English Course (MUEC), sekaligus menjadi asisten laboratorium yang mengajar Praktikum Pemrograman dan Elektronika.

Di tengah aktivitas tersebut, minatnya terhadap teknologi semakin menemukan bentuk.

Ia meneliti sistem pendaratan pesawat tanpa awak menggunakan GPS dan computer vision. Penelitian itu kemudian berhasil dipublikasikan di jurnal internasional.

Bagi Amna, kampus bukan sekadar tempat mendapatkan ijazah. UMS menjadi ruang untuk mencoba. Ruang untuk gagal. Dan yang terpenting, ruang untuk menemukan keberanian mengambil kesempatan berikutnya.

***

Ada satu ambisi yang diam-diam tumbuh dalam diri Amna. Ia ingin merasakan langsung atmosfer pendidikan internasional.

Menurutnya, status sebagai mahasiswa kelas internasional terasa belum lengkap jika belum pernah belajar di luar negeri.

“Bagi saya, embel-embel kelas internasional kok belum lengkap kalau saya belum pernah punya pengalaman belajar di luar negeri,” ujarnya.

Kesempatan pertama sebenarnya sudah hampir tiba. Pada semester 5, Amna bersiap mengikuti program ke Wuxi Institute of Technology, Tiongkok.

Persiapan sudah dilakukan. Namun, persoalan administrasi membuat keberangkatan itu batal. Gagal sekali tidak membuatnya berhenti.

Amna kembali mencari informasi. Ia mendatangi International Office UMS, bertanya kepada teman, dan terus membuka kemungkinan. Hingga akhirnya kesempatan datang.

SMPM 5 Pucang SBY

Pada semester 7, ia mengikuti pertukaran pelajar ke Universiti Tun Hussein Onn Malaysia.

Pengalaman tersebut memperluas cara pandangnya. Dunia yang sebelumnya hanya ia kenal dari layar komputer kini bisa disentuh secara langsung.

Sepulang dari Malaysia, Amna kembali memperkaya pengalaman melalui dunia industri.

Ia magang di PT PLN (Persero) sebagai asisten supervisor di salah satu gardu induk. Setelah itu, ia melanjutkan magang di Formulatrix Indonesia, perusahaan robotika, pada divisi Research and Development Production.

Di sana, untuk pertama kalinya, ia merasakan bagaimana computer vision yang dipelajarinya di kampus diterapkan dalam dunia industri.

“Di perusahaan robotika itu, saya terlibat dalam pengembangan Automatic CNC Machine PCB Inspection berbasis image processing. Itu pengalaman pertama mengenal penerapan computer vision di dunia industri,” jelasnya.

Tiga Jam yang Mengubah Hidup Alumni UMS Amna
Amnaduny Akhara Nurhasan (kiri) bersama rekan-rekan di Rockwell Automation, Polandia. Dok.Pribadi

Pengalaman demi pengalaman tersebut seperti kepingan puzzle. Sedikit demi sedikit, arah perjalanan Amna mulai terlihat.

Ketika kesempatan beasiswa Polandia datang, Amna sebenarnya tidak sedang memiliki persiapan yang sempurna. Tidak ada IELTS. Dokumen pun seadanya.

Waktu pendaftaran tinggal tiga jam. Tetapi ia mencoba. Keputusan sederhana itu membawanya ke Silesian University of Technology untuk menempuh Master of Science in Data Science.

Di Polandia, minat yang sebelumnya tumbuh dari skripsi di UMS berkembang semakin jauh. Machine learning, artificial intelligence, data science, dan computer vision menjadi bagian dari dunia akademik dan profesionalnya.

Ketika masih menjadi mahasiswa magister, Amna juga memperoleh kesempatan mengikuti Erasmus+ Student Exchange di Universidad Carlos III de Madrid, Spanyol.

Dia sekaligus mencari pengalaman industri. Kesempatan magang di Rockwell Automation akhirnya datang.

Semula hanya ingin mendapatkan pengalaman. Tetapi perusahaan justru melihat potensi lain dalam dirinya. Magang berubah menjadi pekerjaan.

Rockwell Automation Polandia merekrut Amna sebagai software engineer penuh waktu.

Kini,  dia bertugas mengembangkan berbagai perangkat lunak yang digunakan untuk mendukung proses pelatihan teknis bagi karyawan maupun klien perusahaan di berbagai negara.

“Alhamdulillah, setiap bulan dapat gaji di range 10.000–12.500 zloty,” tuturnya.

Kariernya berjalan. Pendidikan pun berlanjut. Setelah menyelesaikan studi magister, pada Oktober 2024 Amna kembali ke Silesian University of Technology. Kali ini sebagai mahasiswa doktoral Applied Informatics.

Dia memperoleh pendanaan penuh dari Pemerintah Polandia.

“Mahasiswa yang diterima pada program doktor secara otomatis memperoleh pendanaan penuh dari Pemerintah Polandia. Menerima beasiswa sekitar 3.500 zloty, atau setara Rp20 juta per bulan buat mendukung biaya hidup sekaligus riset yang dijalankan,” jelasnya.

Kini, kehidupan Amna berjalan di antara dua dunia: pekerjaan dan riset. Siang hari ia bekerja sebagai software engineer. Di luar jam kerja, ia menekuni penelitian doktoral tentang analisis pergerakan mata untuk mendeteksi gangguan neurologis.

***

Jika perjalanan Amna ditarik mundur, tiga jam sebelum penutupan pendaftaran beasiswa Polandia memang tampak seperti momen yang menentukan.

Tetapi mungkin bukan tiga jam itu yang sebenarnya mengubah hidupnya. Yang mengubah hidup Amna adalah keberanian untuk mencoba ketika semuanya belum sempurna.

Dia  masuk kelas internasional meski merasa kemampuan bahasa Inggrisnya belum memadai. Dia  aktif di komunitas meski harus membagi waktu dengan kuliah.

Dia mencari pengalaman ke luar negeri meski kesempatan pertama gagal. Dia kembali mencari peluang setelah kegagalan.

Dan ketika beasiswa Polandia datang dengan waktu pendaftaran hanya tersisa tiga jam, ia kembali memilih mencoba.

Kini, bertahun-tahun setelah keputusan-keputusan kecil itu, Amna berada di Katowice. Seorang alumni UMS yang bekerja di perusahaan global sekaligus menempuh pendidikan doktoral di Eropa.

Perjalanan itu tidak lahir dari satu lompatan besar. Dia  tumbuh dari keberanian mengambil satu kesempatan, lalu kesempatan berikutnya.

Ketika ditanya apa kunci perjalanan panjangnya, jawaban Amna justru sederhana.

“Yang pertama itu niat. Setelah itu siapkan bahasa dan mental. Pokoknya, jangan takut buat mencoba sesuatu, sih.”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, Amna telah membuktikannya sendiri.

Sebab, jika pada hari itu ia memilih menutup laptop dan berkata, “Sudahlah, tinggal tiga jam,” mungkin tidak akan pernah ada pagi di Katowice seperti sekarang.

Tidak ada kode yang ia tulis di perusahaan global. Tidak ada riset doktoral yang ia kerjakan hingga malam.

Dan mungkin, tidak ada cerita tentang seorang anak Kartasura yang berangkat dari kelas internasional UMS, lalu menemukan dunia yang jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 10/08/2026 11:20
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu