Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rihlah dari Rumah KH M. Anwar Zain hingga Masjid yang Mengabadikan Namanya

Iklan Landscape Smamda
Rihlah dari Rumah KH M. Anwar Zain hingga Masjid yang Mengabadikan Namanya
Foto KH. M. Anwar Zain yang masih ada di rumah Jalan Kalibutuh Surabaya. Foto: Agus Weha/PWMU.CO
Oleh : Andi Hariyadi Ketua Majelis Pustaka, Informatika dan Digitalisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya

Syukur alhamdulillah. Pagi Rabu (9/9/2026), jalanan Surabaya terasa lancar ketika saya menyusurinya menuju rumah KH Muhammad Anwar Zain. Seakan ada kemudahan yang diberikan untuk melakukan sedikit riset sejarah tentang salah satu tokoh penting Muhammadiyah Jawa Timur.

Surabaya memang sedikit panas pagi itu. Namun, panas tidak mengurangi semangat untuk menggali tambahan data tentang sejarah perjuangan KH Muhammad Anwar Zain di rumah beliau, Jalan Kalibutuh 132 A, Surabaya.

Sekali bertanya kepada seorang pedagang gorengan di ujung kampung, saya langsung mendapat jawaban.

Dengan sopan dan spontan, ia menunjukkan lokasi rumah tokoh Muhammadiyah yang pernah menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur selama lebih dari dua dekade, 1968-1989.

Sebelumnya, KH Muhammad Anwar Zain dipercaya memimpin Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya pada 1962-1968. Ia melanjutkan kepemimpinan dari dr. Muhammad Soewandi yang memimpin Muhammadiyah Surabaya pada 1953-1962.

Ketika KH Muhammad Anwar Zain mendapat amanah sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, estafet kepemimpinan Muhammadiyah Surabaya dilanjutkan KH M. Aunurrofiq Mansur pada periode 1968-1971 dan 1971-1974.

Memori Silaturahmi Pimpinan

Sambil menunggu pintu rumah dibukakan, tiba-tiba ingatan saya melayang ke sekitar 1985.

Saat itu, saya bersama jajaran Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Surabaya—di antaranya Choirul Anam dan Jari Basliman, yang juga kader Muhammadiyah Cabang Tegalsari Surabaya—pernah bersilaturahmi ke rumah Ketua Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur, KH Anwar Zein.

Hari Ahad pagi itu menjadi salah satu memori yang sulit dilupakan. Kami disambut dengan penuh kehangatan. Sebagai kader Muhammadiyah, kami kagum melihat kepribadian beliau. Ramah. Sederhana. Tetapi sekaligus memancarkan kharisma seorang pemimpin.

Dialog berlangsung tentang pengalaman perjuangan dakwah di berbagai daerah. Beliau seperti tidak pernah kehabisan energi untuk berbagi. Kajian-kajian yang disampaikan terasa meneduhkan hati sekaligus membangkitkan semangat perjuangan para kader.

Tanpa terasa, silaturahmi di rumah pimpinan itu berlangsung sekitar dua jam.

Kami berbagi pengalaman. Menceritakan dinamika dakwah di berbagai daerah di Jawa Timur. Hari Ahad itu terasa begitu berarti karena kami bisa bertemu langsung dengan beliau di tengah padatnya aktivitas sebagai pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur.

Kini, puluhan tahun kemudian, saya kembali berada di rumah yang sama. Bukan lagi sekadar sebagai kader yang datang bersilaturahmi, tetapi untuk menelusuri jejak sejarah seorang tokoh Muhammadiyah.

Pesan yang Masih Tertancap

Setelah mengucapkan salam, kami diterima dengan ramah oleh Elok Nurrochmi, putri KH M. Anwar Zain.

Saya memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud kedatangan: melakukan sedikit riset sejarah tentang tokoh Muhammadiyah Jawa Timur, KH M. Anwar Zain.

Namun, sebelum sempat duduk, pandangan saya tertuju pada sebuah tulisan yang tertancap di tiang rumah. Pesannya sederhana. Salat lima waktu.

Menurut Elok, ayahnya memang begitu perhatian terhadap kewajiban salat lima waktu, terutama dengan berjamaah. Tulisan itu menjadi semacam pengingat khusus bagi keluarga, sekaligus para tamu yang datang ke rumah beliau.

Yang menarik, pesan tersebut masih tetap terpasang di tempat yang strategis di beranda rumah. Sebuah pesan sederhana yang ternyata menyimpan makna dakwah yang dalam.

Salat lima waktu bukan sekadar kewajiban personal. Bagi KH M. Anwar Zain, dia juga menjadi fondasi kehidupan keluarga, sekaligus pondasi seorang pemimpin dalam menjalankan amanah.

Bagi kader Muhammadiyah, pesan itu terasa semakin penting. Sebab, bagaimana mungkin seseorang mampu menggerakkan roda Persyarikatan dengan baik jika hubungan pribadinya dengan Allah tidak kokoh?

Tulisan kecil di tiang rumah itu seakan menjadi pesan besar yang masih hidup hingga hari ini. Disiplin menegakkan salat. Berjamaah. Menjaga hubungan dengan Allah. Lalu membawa nilai-nilai itu dalam perjuangan di tengah masyarakat.

Rumah yang Menyimpan Sejarah

Silaturahmi kami tidak berlangsung lama karena masih ada agenda yang harus dikerjakan. Namun, sebelum berpamitan, kami sempat melihat foto sosok KH M. Anwar Zain dan foto keluarga yang terpajang di rumah tersebut.

Rumah yang ditempati sejak sekitar 1970-an itu terasa sarat dengan nilai historis dakwah Muhammadiyah.

Di rumah sederhana itulah sebagian perjalanan panjang seorang tokoh Muhammadiyah berlangsung.

SMPM 5 Pucang SBY

Di sana ada kenangan keluarga. Ada jejak perjuangan. Ada cerita dakwah. Ada kader-kader yang pernah datang dan berdialog. Ada gagasan-gagasan Persyarikatan yang pernah dibicarakan.

Dan kini, rumah itu berada di persimpangan sejarah baru.

Elok menyampaikan bahwa keluarga berencana menjual rumah tersebut. Harganya masih bisa dinegosiasikan.

“Saya pun berpikir, semoga ada warga Muhammadiyah atau pimpinan Muhammadiyah yang tergerak untuk membelinya,” katanya.

Bukan semata karena bangunannya. Tetapi karena rumah itu menyimpan jejak sejarah perjuangan Muhammadiyah.

Dari Rumah Menuju Masjid

Menjelang Zuhur, kami berpamitan untuk melanjutkan rihlah riset sejarah tokoh. Dari rumah KH M. Anwar Zain, kami bergegas menuju Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya di Jalan Wuni Nomor 9 Surabaya.

Syukur alhamdulillah, perjalanan kembali lancar. Namun, pikiran saya masih tertinggal di rumah Kalibutuh. Masih terasa keteduhan sosok KH M. Anwar Zain.

Seorang pimpinan yang berwawasan luas. Berdakwah dengan cara yang menyejukkan hati dan pikiran. Aktif menggerakkan kader-kader Muhammadiyah yang militan. Dan ikut menginisiasi berbagai Amal Usaha Muhammadiyah.

Sesampainya di Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya, tiba-tiba suara azan Zuhur terdengar.

Rihlah sejarah itu seperti menemukan sambungan ceritanya. Dari rumah seorang tokoh yang begitu perhatian terhadap salat lima waktu, kami tiba di sebuah masjid yang mengabadikan nama beliau.

Masjid KH M. Anwar Zain. Masjid itu berada di dalam kompleks Kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya.

Kami pun melaksanakan salat zuhur. Menjadi imam adalah bagian dari suasana ibadah yang berlangsung bersama jamaah, termasuk para karyawan eksekutif Kantor Muhammadiyah Surabaya.

Di tempat itu, nama KH M. Anwar Zain bukan hanya menjadi bagian dari catatan sejarah. Namanya hidup dalam sebuah masjid.

Nama yang Terus Hidup

Nama besar KH M. Anwar Zain diabadikan sebagai nama masjid di Kantor Muhammadiyah Surabaya.

Masjid KH M. Anwar Zain diresmikan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya pada 4 Muharram 1446 H, bertepatan dengan 10 Juli 2024 M. Peresmian dilakukan oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya, Dr. M. Ridlwan, M.Pd.

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan rihlah pagi itu. Kami berangkat dari sebuah rumah yang menyimpan kenangan seorang tokoh.

Di rumah itu, masih tertancap pesan tentang salat lima waktu. Kemudian kami berjalan menuju masjid yang memakai nama tokoh tersebut. Seolah ada benang merah yang mempertemukan keduanya.

Rumah menjadi tempat keluarga dan kader mengenang perjuangan. Masjid menjadi tempat nilai perjuangan itu terus dihidupkan.

Perjuangan KH M. Anwar Zain telah menunjukkan keberhasilan yang nyata dalam perjalanan Muhammadiyah Jawa Timur dan Surabaya.

Kini, tugas generasi berikutnya bukan hanya mengenang namanya. Lebih dari itu, menjadi kader Muhammadiyah berarti berusaha meneladani kiprah perjuangannya.

Sebab, tokoh boleh pergi. Rumah bisa berpindah tangan. Tetapi nilai perjuangan, jika terus diwariskan, akan tetap hidup.

Dan pagi itu, rihlah dari rumah KH M. Anwar Zain menuju Masjid KH M. Anwar Zain terasa bukan sekadar perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.

Dia seperti perjalanan menyusuri kembali jejak seorang tokoh—dari rumah, menuju masjid, lalu kembali kepada satu pesan sederhana: perjuangan yang panjang harus bertumpu pada kedekatan kepada Allah. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 09/09/2026 21:36
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu