Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Sepeda yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi dari China

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Sepeda yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi dari China
Dua pengurus Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah menjajal sepeda di China. Foto: M. Sholihin/PWMU.CO

Ada satu pemandangan yang selalu menarik perhatian saya ketika berada di China. Sepeda. Bukan satu. Puluhan. Berjajar di trotoar. Warnanya bermacam-macam. Diletakkan cukup rapi. Seperti memang sudah menjadi bagian dari tata kota.

Awalnya, saya mengira itu sepeda biasa. Ternyata bukan. Sepeda-sepeda itu disewakan.

Siapa saja bisa menggunakannya. Tidak perlu memiliki sepeda. Tidak perlu membawa sepeda dari rumah. Cukup cari sepeda. Lalu scan barcode yang menempel di bagian belakang. Sepeda pun terbuka. Sederhana.

Saya tidak tahu persis berapa tarif sewanya. Saya juga tidak sempat menghitung berapa jauh sepeda itu bisa digunakan.

Tetapi saya pernah bertanya kepada salah seorang pengguna. Hampir setiap hari ia menggunakan sepeda sewaan itu. Terutama untuk perjalanan yang tidak terlalu jauh. Jawabannya masuk akal.

Untuk apa naik kendaraan bermotor jika jaraknya dekat?

Sepeda lebih sederhana. Lebih murah. Dan tentu lebih sehat. Yang membuat saya tertarik bukan hanya keberadaan sepeda. Tetapi tempat yang diberikan kepada sepeda. Di sejumlah kota di China, jalurnya tertata.

Sepeda tidak harus berebut ruang dengan kendaraan bermotor. Ada jalur yang memang disediakan untuknya.

Maka bersepeda menjadi nyaman. Tidak terasa seperti sedang mempertaruhkan keselamatan hanya untuk menempuh jarak beberapa kilometer.

Di beberapa kota, saya juga menemukan sepeda listrik. Prinsipnya hampir sama. Disewa. Dipakai. Dikembalikan.

Teknologi membuat semuanya lebih mudah. Barcode menggantikan kunci. Ponsel menggantikan loket. Tetapi sepeda tetap sepeda. Masih dikayuh. Masih membutuhkan tenaga manusia.

Sepeda yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi dari China
Sepeda di China yang disediakan fasilitas barcode. Foto: M. Sholihin/PWMU.CO

Kota yang Punya Banyak Pilihan

China tentu bukan negeri yang kekurangan kendaraan bermotor. Kota-kotanya besar.
Gedungnya tinggi. Jalannya lebar. Mobil dan kendaraan listrik mudah ditemukan.

Tetapi di tengah kemajuan itu, sepeda tidak disingkirkan. Justru diberi ruang. Untuk jarak dekat, sepeda. Untuk perjalanan yang lebih jauh, tersedia transportasi publik.

Di sejumlah kota yang relatif baru berkembang, MRT sudah menjadi bagian penting dari kehidupan warga. Jalurnya banyak yang berada di bawah tanah.

Saya melihatnya seperti sebuah sistem. Bukan persaingan antarmoda. Sepeda tidak harus menggantikan MRT.

MRT juga tidak harus mematikan sepeda. Keduanya bekerja pada jaraknya masing-masing. Itulah yang menarik.

Kita kadang melihat sepeda secara terbalik. Kalau sebuah kota sudah maju, mestinya kendaraan yang digunakan semakin besar. Semakin cepat. Semakin mahal.

Padahal belum tentu. Sebuah kota justru bisa disebut nyaman ketika warganya mempunyai banyak pilihan. Mau berjalan kaki, bisa.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Mau bersepeda, ada jalurnya. Mau menggunakan MRT, tersedia. Mau menggunakan kendaraan pribadi, jalan juga tersedia.

Yang penting bukan satu moda menjadi pemenang. Yang penting semuanya bisa berjalan tanpa saling mengganggu.

Dari situ saya melihat sepeda di China dengan cara berbeda. Sepeda bukan sekadar alat transportasi murah. Ia bagian dari budaya mobilitas. Bagian dari cara kota bekerja.

Sepeda yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi dari China
Foto: M. Sholihin/PWMU.CO

Yang Menarik Justru yang Sederhana

Ada sesuatu yang menarik dari sepeda. Bentuknya tidak banyak berubah. Dua roda. Setang. Pedal. Rantai. Sudah begitu sejak lama.

Yang berubah justru cara manusia menggunakannya. Dulu sepeda harus dimiliki. Sekarang cukup disewa.

Dulu, harus mencari tempat penyimpanan. Sekarang sepeda bisa ditemukan di banyak sudut kota.

Dulu, kunci menjadi persoalan. Sekarang barcode menyelesaikannya.

Teknologi tidak menghilangkan sepeda. Teknologi justru membuat sepeda semakin mudah digunakan.

Barangkali di situlah pelajarannya. Kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan yang lama.

Kadang-kadang kemajuan justru terjadi ketika teknologi membantu sesuatu yang sederhana bekerja lebih baik.

Setiap kali melihat deretan sepeda itu, saya teringat satu hal. Kota yang baik bukan kota yang membuat semua orang harus memiliki kendaraan. Kota yang baik adalah kota yang memberi pilihan.

Jarak dekat tidak perlu mobil. Jarak menengah bisa sepeda. Jarak jauh bisa MRT. Sederhana.

Tetapi membutuhkan perencanaan yang tidak sederhana. Membutuhkan jalur. Membutuhkan aturan. Membutuhkan kedisiplinan. Dan membutuhkan kesediaan untuk berbagi ruang.

Mungkin itu sebabnya sepeda masih bertahan di tengah kota-kota China yang bergerak begitu cepat. Ia tidak kalah oleh kemajuan. Ia justru ikut menjadi bagian dari kemajuan.

Di trotoar, sepeda-sepeda itu tampak sederhana. Diam. Tidak banyak suara. Tetapi dari sana kita bisa melihat bagaimana sebuah kota memikirkan warganya.

Kadang, kemajuan memang tidak selalu datang dengan suara mesin. Kadang ia datang dalam dua roda. Dan dikayuh pelan-pelan. (*)

SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu