Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketika Ranting Muhammadiyah Menjadi Lumbung Pangan Jamaah

Iklan Landscape Smamda
Ketika Ranting Muhammadiyah Menjadi Lumbung Pangan Jamaah
Jamaah PCM Dukun, Gresik membawa hasil pertanian. Foto: Istimewa
Oleh : Dr. Hasan Ubaidillan, Ketua LPCRPM PWM Jatim

Jumat pagi itu, sayuran datang bersama jamaah. Gedung Dakwah PCM Dukun, Gresik, Jumat (11/9/2026), dipenuhi hampir 400 orang. Mayoritas ibu-ibu. Mereka datang untuk mengikuti Kajian Jumat Pagi.

Tetapi pagi itu ada pemandangan yang sedikit berbeda. Sebagian jamaah membawa hasil pertanian dari Ranting masing-masing. Ada sayuran. Ada hasil kebun. Bukan untuk dijual. Usai kajian, hasil bumi itu dibagikan kepada jamaah.

Di gedung yang sama, pengobatan gratis juga berlangsung. Jamaah tidak hanya datang untuk mendengarkan kajian.

Mereka bertemu, berbincang, mendapatkan layanan kesehatan, lalu membawa pulang hasil bumi. Suasananya guyub. Akrab. Dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pagi itu saya seperti melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kegiatan rutin Jumat pagi. Ranting Muhammadiyah ternyata tidak hanya membawa jamaah ke ruang dakwah. Ranting juga membawa hasil kebun ke tengah jamaah.

Dari kebun ke jamaah. Dari jamaah kembali kepada jamaah. Di situlah sebuah gagasan penting muncul: ketahanan pangan bisa tumbuh dari gerakan Muhammadiyah paling bawah.

Kekuatan yang Ada di Ranting

Muhammadiyah sering kali dilihat dari gedung-gedung besarnya. Dari sekolah. Dari rumah sakit. Dari perguruan tinggi. Dari berbagai amal usaha yang tersebar di banyak daerah.

Padahal ada kekuatan lain yang tidak kalah penting. Ranting. Di sanalah Muhammadiyah bersentuhan langsung dengan kehidupan warga.

Ada masjid. Ada keluarga. Ada petani. Ada pedagang. Ada pelaku UMKM. Ada kader. Ada pengajian. Ada jaringan sosial. Ada pula kebun. Potensinya mungkin tidak besar jika dilihat sendiri-sendiri.

Seorang jamaah menanam sayuran di pekarangannya. Jamaah lain mengelola sawah. Yang lain membuat makanan.

Ada yang memiliki usaha kecil. Ada yang mempunyai keterampilan. Semuanya terlihat sederhana. Tetapi ketika potensi-potensi kecil itu dikumpulkan dan dihubungkan, ceritanya menjadi berbeda. Hasil kebun seorang jamaah bisa menjadi pangan bagi jamaah lain.

Produk UMKM Ranting bisa mendapatkan pasar dari lingkungan sendiri. Layanan kesehatan bisa hadir bersamaan dengan kegiatan dakwah.

Masjid tidak hanya menjadi tempat orang datang untuk beribadah. Ia bisa menjadi titik temu berbagai kebutuhan masyarakat. Di sinilah gerakan berbasis komunitas bekerja. Masyarakat bukan sekadar objek dakwah. Masyarakat adalah pelaku gerakan.

Bayangkan Jika Setiap Ranting Memiliki Kebun Jamaah

Ketahanan pangan sering dibayangkan sebagai urusan besar. Tentang produksi nasional. Tentang distribusi. Tentang kebijakan pemerintah. Tentang lahan yang luas.

Padahal ketahanan pangan juga bisa dimulai dari sesuatu yang sangat dekat. Pekarangan. Kebun. Jamaah. Ranting. Masjid.

Bayangkan jika setiap Ranting Muhammadiyah memiliki Kebun Jamaah. Tidak harus luas. Yang penting dikelola bersama.

Hasilnya bisa dikonsumsi jamaah. Bisa dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Bisa dijual melalui koperasi atau pasar jamaah. Bisa pula diolah menjadi produk dengan nilai tambah.

Dari cabai menjadi sambal. Dari singkong menjadi makanan olahan. Dari sayuran menjadi paket pangan. Dari hasil kebun menjadi sumber pendapatan.

SMPM 5 Pucang SBY

Maka Ranting tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan. Ia bisa menjadi simpul produksi. Simpul distribusi. Simpul ekonomi. Sekaligus simpul solidaritas sosial.

Ketika Dakwah Menjadi Sesuatu yang Bisa Dibawa Pulang

Dakwah tidak selalu harus berupa ceramah. Kadang dakwah hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Sebungkus sayuran. Satu paket sembako.

Layanan kesehatan. Secangkir kopi. Tangan yang membantu. Atau hasil kebun yang diberikan kepada tetangga. Pagi di Dukun memperlihatkan hal itu.

Dakwah mengajarkan kepedulian. Pangan menjadi salah satu cara mempraktikkan kepedulian itu. Gotong royong menjadi kekuatan produksinya. Dan jamaah menjadi ekosistemnya.

Di sini dakwah tidak berhenti ketika kajian selesai. Ia justru berlanjut ketika jamaah membawa pulang sesuatu yang bermanfaat.

Apa yang terjadi di PCM Dukun mungkin terlihat sederhana. Ibu-ibu membawa hasil pertanian. Jamaah mengikuti kajian. Kemudian hasil bumi dibagikan. Selesai. Tetapi hampir semua gerakan besar bermula dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Muhammadiyah memiliki ribuan Ranting. Masing-masing memiliki karakter dan potensi yang berbeda.

Ada Ranting yang dekat dengan sentra pertanian. Ada yang hidup di kawasan perdagangan. Ada yang memiliki banyak pelaku UMKM. Ada yang memiliki kader kesehatan. Ada yang mempunyai lahan wakaf. Ada yang memiliki sekolah dan masjid yang menjadi pusat aktivitas warga.

Pertanyaannya bukan apakah setiap Ranting memiliki potensi. Hampir pasti punya. Pertanyaannya adalah: apakah potensi itu sudah dikenali, dihubungkan, dan digerakkan?

Jika jawabannya iya, Ranting bisa menjadi kekuatan ekonomi dan sosial yang luar biasa. Bukan karena setiap Ranting harus menjadi besar. Justru karena setiap Ranting menghidupkan potensi yang ada di sekitarnya.

Dari Jamaah, Kembali kepada Jamaah

Inilah menariknya gerakan dari bawah. Ia tidak harus menunggu proyek besar. Tidak harus menunggu gedung baru. Tidak harus menunggu program yang rumit. Bisa dimulai dari jamaah. Dari kebun. Dari masjid. Dari Ranting.

Hasilnya berputar di lingkungan sendiri. Yang menanam mendapatkan manfaat. Yang membutuhkan terbantu. Yang memiliki usaha mendapatkan pasar. Yang sehat membantu yang sakit. Dan semua bertemu dalam satu ekosistem: jamaah.

Karena itu, Ranting jangan hanya dilihat sebagai ujung struktur organisasi Muhammadiyah. Ranting justru bisa menjadi ujung tombak kebermanfaatan.

Di sanalah dakwah tumbuh. Di sanalah masyarakat berdaya. Di sanalah pangan diproduksi. Di sanalah hasil bumi berputar. Dan di sanalah solidaritas sosial dirawat.

Pagi di PCM Dukun memberi pelajaran yang sederhana. Tetapi mungkin justru karena kesederhanaannya ia menjadi penting.

Ketika hasil kebun seorang jamaah menjadi manfaat bagi jamaah lainnya, sesungguhnya Ranting sedang melakukan lebih dari sekadar berbagi sayuran. Ia sedang membangun ketahanan pangan. Sekaligus menjalankan dakwah. Dari kebun ke jamaah. Dari jamaah kembali kepada jamaah. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 11/09/2026 16:54
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu