Sound Horeg semakin mewarnai perayaan kemerdekaan di berbagai daerah. Dentuman musik yang mengiringi karnaval dan kegiatan warga bukan sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga menunjukkan perubahan cara masyarakat mengekspresikan kegembiraan, kebersamaan, dan kebebasan di ruang publik.
Fenomena tersebut menjadi bagian dari dinamika budaya masyarakat yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman.
Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si., melihat Sound Horeg sebagai fenomena budaya pop yang mencerminkan karakter masyarakat postmodern.
Menurutnya, perubahan bentuk perayaan kemerdekaan merupakan sesuatu yang wajar karena masyarakat memiliki cara yang semakin beragam dalam mengekspresikan identitas dan kegembiraannya.
“Sound Horeg menjadi ruang rindu sebagian anak bangsa untuk bertemu di ruang terbuka, melepas kepenatan ekonomi, politik, dan kehidupan sehari-hari, sekaligus mengekspresikan diri secara bebas. Meski menimbulkan pro dan kontra, secara sosiologis Sound Horeg tetap menjadi ruang bagi masyarakat untuk merasakan kebersamaan,” ujarnya 12 Agustus lalu pada Humas UMM.
Perubahan tersebut memperlihatkan adanya pergeseran dari bentuk perayaan yang sebelumnya lebih banyak menampilkan seni dan budaya tradisional menuju ekspresi yang lebih populer dan mengikuti perkembangan zaman.
Sound Horeg kemudian menjadi ruang perjumpaan masyarakat untuk berkumpul, menikmati hiburan, sekaligus menunjukkan eksistensi kelompoknya.
Namun, perubahan ekspresi budaya tersebut juga menghadirkan persoalan. Dentuman suara Sound Horeg kerap dinilai mengganggu kenyamanan masyarakat, terutama ketika berlangsung dengan intensitas tinggi di ruang publik.
Karena itu, kebebasan berekspresi tetap perlu berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap hak masyarakat lain untuk mendapatkan kenyamanan.
“Memang harus kita akui dentumannya mengganggu kemampuan normal manusia, khususnya pada suara dan rasa keindahan seni budaya. Namun, masyarakat tetap memperoleh keuntungan psikologis, ekonomi, dan relasional dari kegiatan tersebut,” jelasnya.
Di balik fenomena tersebut, terdapat pula aktivitas ekonomi yang ikut bergerak. Kehadiran Sound Horeg dapat mendorong penyewaan kendaraan dan perangkat suara, aktivitas parkir, hingga penjualan produk UMKM di sekitar lokasi kegiatan.
Artinya, Sound Horeg tidak hanya menciptakan ruang hiburan, tetapi juga membentuk ekosistem sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Lebih jauh, Wahyudi menilai Sound Horeg dapat dipahami sebagai bagian dari budaya pop yang bersifat dinamis.
Budaya pop tidak selalu bertahan dalam bentuk yang sama karena masyarakat terus mencari cara baru untuk mengekspresikan jiwa, rasa, pikiran, seni, dan identitas mereka.
“Budaya pop akan terus berganti dan setiap orang akan selalu mencari jati diri. Sound Horeg merupakan subvarian budaya yang mengikuti era postmodernisme dan menjadi salah satu bentuk pencarian identitas kolektif masyarakat,” tuturnya.
Dengan demikian, Sound Horeg tidak cukup dipahami hanya dari kerasnya suara yang dihasilkan. Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat menciptakan ruang baru untuk berkumpul, melepas kepenatan, mengekspresikan diri, sekaligus memperoleh manfaat sosial dan ekonomi.
Di tengah pro dan kontra yang muncul, keberadaan Sound Horeg menunjukkan bahwa wajah perayaan kemerdekaan terus mengalami perubahan.
Bentuk perayaan mungkin akan kembali berganti seiring munculnya tren baru. Namun, kebutuhan masyarakat untuk merayakan kebebasan, membangun kebersamaan, dan menemukan identitas kolektif akan tetap menjadi bagian dari kehidupan sosial.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments