Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran menjadi tema utama dalam Kajian Fajar Shodiq Ahad pertama Juni 2026 yang digelar di Masjid Nurul Azhar Porong, Kabupaten Sidoarjo, Ahad (7/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 06.30–08.00 WIB itu menghadirkan Wakil Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Achmad Jainuri, M.A., Ph.D, sebagai narasumber.
Dalam kajian bertema “AS-Israel versus Iran: Perang Agama?”, Prof. Achmad Jainuri mengulas berbagai aspek yang melatarbelakangi konflik tersebut, mulai dari narasi agama, sejarah negara-negara yang terlibat, hingga pandangan Al-Qur’an mengenai pergiliran kekuasaan dan perang.
Menurut Jainuri, isu agama sengaja dimunculkan oleh sejumlah tokoh politik Amerika Serikat dalam membaca konflik yang terjadi antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Dia menyinggung pernyataan Senator senior Amerika Serikat dari Carolina Selatan, Lindsey Olin Graham, dari Partai Republik, yang menyebut perang antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat sebagai perang agama. Pandangan serupa, kata dia, juga disampaikan oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth.
“Semua pernyataan tersebut pada dasarnya mengulang narasi yang lebih dahulu disampaikan oleh Benjamin Netanyahu. Pertanyaannya, mengapa isu agama dimunculkan?” ujar Guru Besar UIN Sunan Ampel itu.
Jainuri lalu menjelaskan, munculnya narasi perang agama memiliki tujuan politik tertentu. Pertama, ditujukan kepada negara-negara sekutu Iran yang bukan negara Muslim, seperti China, Rusia, dan Korea Utara, agar tidak memberikan dukungan kepada Iran.
Kedua, menurutnya, narasi tersebut juga dimaksudkan agar negara-negara Muslim Sunni tidak ikut terlibat dalam konflik dengan memberikan dukungan kepada Iran.
“Dengan kata lain, isu agama digunakan untuk kepentingan geopolitik dan strategi internasional,” kata mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo itu.
Jainuri juga mengulas latar belakang negara-negara yang terlibat dalam konflik. Menurutnya, dibandingkan Iran yang memiliki sejarah panjang peradaban, Amerika Serikat dan Israel merupakan negara yang relatif baru.
Dia menilai keberadaan Amerika Serikat dan Israel tidak lepas dari peran Inggris sebagai kekuatan yang mendukung lahirnya kedua negara tersebut.
“Amerika Serikat berdiri di atas wilayah yang sebelumnya dihuni masyarakat Indian, sedangkan Israel lahir di tengah konflik yang menyebabkan rakyat Palestina mengalami pengusiran dan kekerasan,” jelas alumnus McGill University itu.
Jainuri menilai kondisi tersebut menjadi ironi ketika Amerika Serikat dan Israel mengklaim diri sebagai negara demokrasi dan pembela hak asasi manusia.
Kejayaan dan Kehancuran Dipergilirkan Allah
Dalam perspektif Islam, Prof. Achmad Jainuri mengutip Surah Ali Imran ayat 140 yang menjelaskan bahwa kejayaan dan kehancuran merupakan sunnatullah yang dipergilirkan di antara manusia.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari ujian bagi manusia serta menjadi sarana bagi Allah untuk membedakan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berbuat zalim.
“Sejarah menunjukkan bahwa tidak ada kekuatan yang akan terus berjaya. Pergiliran kekuasaan adalah bagian dari ketetapan Allah SWT,” ujarnya.
Jainuri juga menjelaskan pandangannya mengenai alasan yang menjadi legitimasi keterlibatan Iran dalam konflik Teluk tahun 2026.
Pertama, dia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 190 yang memerintahkan umat Islam untuk memerangi pihak yang memerangi mereka, namun tidak melampaui batas.
Kedua, menurutnya, bangsa Iran meyakini bahwa sikap yang mereka ambil merupakan bagian dari upaya mempertahankan kebenaran sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 147 dan Surah Al-Isra ayat 81.

“Kebenaran harus diperjuangkan. Kebatilan, sekuat apa pun, pada akhirnya akan lenyap,” ungkapnya.
Ketiga, dia menilai Iran telah mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan yang muncul akibat konflik.
Dalam konteks tersebut, Jainuri mengutip ungkapan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib bahwa kebatilan yang terorganisasi dapat mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisasi.
Alasan keempat, menurutnya, Iran merupakan bangsa yang tangguh dan memiliki semangat untuk menjaga perdamaian.
Dia mengutip Surah Muhammad ayat 35 serta hadis riwayat Muslim yang menyatakan bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.
“Larangan menunjukkan kelemahan atau meminta perdamaian karena rasa takut menjadi salah satu pesan penting dari ayat tersebut. Allah menegaskan bahwa umat Islam memiliki kedudukan yang mulia dan Allah senantiasa bersama mereka,” terangnya.
Jainuri menyampaikan, berbagai perang dalam sejarah sering kali dibangun di atas narasi dan informasi yang tidak sepenuhnya benar.
Karena itu, dia mengajak umat Islam untuk bersikap kritis dalam membaca perkembangan geopolitik dunia dan tidak mudah terjebak pada propaganda yang berkembang.
“Perang sering kali didasarkan pada kebohongan. Karena itu, umat Islam harus memiliki kemampuan membaca realitas secara lebih jernih dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang dibangun oleh berbagai pihak,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments