Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

MA Muhammadiyah 1 Karangasem Paciran Cetak Generasi Ahli Falak Berbasis Teknologi

Iklan Landscape Smamda
MA Muhammadiyah 1 Karangasem Paciran Cetak Generasi Ahli Falak Berbasis Teknologi
Dari Madrasah Menatap Semesta : MA Muhammadiyah 1 Karangasem Paciran Cetak Generasi Ahli Falak Berbasis Teknologi Modern (Nailul Khoir/PWMU.CO)
Oleh : Nailul Khoir

Di hadapan layar komputer, para siswa MA Muhammadiyah 1 Karangasem Paciran Lamongan tidak sekadar mengerjakan soal ujian. Mereka diminta menganalisis data astronomi, mengoperasikan perangkat lunak falak, hingga menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan penentuan arah kiblat, waktu salat, dan kalender Hijriah melalui Ujian Ilmu Falak berbasis Computer Based Test (CBT).

Bagi MA Muhammadiyah 1 Karangasem Paciran, Ilmu Falak tidak diposisikan sekadar sebagai mata pelajaran keagamaan. Melalui program Islamic Technology and Computer Program (ITCP), materi tersebut dikembangkan menjadi ruang belajar yang mempertemukan kajian syariah, astronomi, matematika, dan teknologi digital.

Suasana ruang ujian tampak berbeda dari pelaksanaan ujian pada umumnya. Di hadapan layar komputer, peserta didik tidak hanya mengerjakan soal pilihan ganda atau menghafal konsep teoritis. Mereka juga dihadapkan pada soal yang menuntut kemampuan menganalisis data astronomi, mengoperasikan perangkat lunak falak, serta menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan praktik ibadah umat Islam.

Bagi madrasah tersebut, Ilmu Falak diposisikan sebagai disiplin ilmu yang mempertemukan kajian agama dan sains. Karena itu, sistem evaluasi dirancang untuk mengukur penguasaan konsep sekaligus kemampuan penerapan teknologi.

Pada tingkat kelas X, peserta didik mempelajari dasar-dasar Ilmu Falak, mulai dari sejarah astronomi Islam, struktur tata surya, pergerakan benda langit, hingga fenomena gerhana. Pembelajaran juga diperkuat dengan penggunaan aplikasi astronomi seperti Stellarium dan Google Earth untuk membantu siswa mengenali posisi benda langit secara visual.

Memasuki kelas XI, materi pembelajaran berkembang ke aspek yang lebih aplikatif. Peserta didik mempelajari metode penentuan arah kiblat, perhitungan azimut kiblat, metode Rashdul Kiblat, serta penyusunan waktu salat berdasarkan data astronomi. Mereka juga mempelajari sistem kalender Hijriah, konsep hisab dan rukyat, perhitungan ijtimak, serta observasi hilal.

Kegiatan observasi lapangan turut menjadi bagian dari pembelajaran. Melalui pengamatan matahari dan bulan menggunakan teleskop sederhana, peserta didik dilatih menghubungkan teori dengan hasil pengamatan langsung.

Pada tingkat kelas XII, peserta didik mulai memasuki kajian yang lebih mendalam. Mereka mempelajari teori hisab-rukyat kontemporer, berbagai kriteria imkanur rukyat, perbedaan metode penetapan awal bulan Hijriah, serta fenomena astronomi seperti gerhana matahari, gerhana bulan, ekuinoks, dan solstis.

Selain itu, pembelajaran Ilmu Falak juga dikaitkan dengan literasi digital. Peserta didik diperkenalkan pada pengolahan data astronomi menggunakan spreadsheet, penyusunan kalkulator falak sederhana, pengembangan aplikasi jadwal salat berbasis Excel maupun Python, hingga berbagai bentuk inovasi digital yang berkaitan dengan kajian falak.

Kepala MA Muhammadiyah 1 Karangasem Paciran, Purwanto, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pelaksanaan ujian berbasis CBT merupakan bagian dari pengembangan sistem pembelajaran yang diterapkan madrasah.

“Ilmu Falak merupakan salah satu warisan intelektual Islam yang sangat kaya. Melalui sistem CBT, kami ingin memastikan bahwa peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan nyata,” ujarnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Pandangan serupa disampaikan Guru Ilmu Falak MA Muhammadiyah 1 Paciran, Dr. Drs. H. Sriyatin Shodiq, S.H., M.Ag., M.H., yang juga Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Divisi Hisab dan IPTEK.

“Ilmu Falak pada hakikatnya adalah ilmu harmonisasi kosmik. Fenomena langit yang bergerak secara presisi melalui hukum-hukum matematis dan fisika menjadi dasar berbagai aktivitas ibadah manusia di bumi, mulai dari penentuan arah kiblat, waktu salat, awal bulan Hijriah, hingga gerhana. Karena itu, mempelajari Ilmu Falak berarti memahami bagaimana Allah menata alam semesta dengan keteraturan yang luar biasa,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa pembelajaran Ilmu Falak juga menjadi sarana untuk memahami keterkaitan antara syariat dan fenomena alam.

“Syariah menjadi pedoman dalam menentukan sah atau tidaknya suatu ibadah, sementara sains membantu menjelaskan dan menghitung fenomena-fenomena alam secara presisi. Di sinilah Ilmu Falak menjadi jembatan yang mempertemukan keduanya. Ketika siswa mempelajari pergerakan matahari, bulan, dan bintang, sejatinya mereka sedang membaca ayat-ayat kauniyah yang Allah bentangkan di alam semesta,” tegasnya.

Pengalaman belajar tersebut juga dirasakan oleh peserta didik. Hamuda Faidlur Rahman, siswa kelas X asal Desa Brengkok, Kecamatan Brondong, Lamongan, mengaku memperoleh pemahaman baru setelah mempelajari Ilmu Falak.

“Awalnya saya mengira Ilmu Falak hanya tentang menghitung waktu salat dengan rumus yang rumit. Setelah mempelajarinya, saya justru menemukan bahwa ilmu ini membuka pemahaman tentang keteraturan alam semesta dan kaitannya dengan kehidupan seorang Muslim. Kami belajar menggunakan aplikasi astronomi, menganalisis data, dan memahami fenomena langit secara ilmiah. Saya merasa belajar Falak membuat saya lebih dekat dengan sains sekaligus lebih memahami agama,” ungkapnya.

Menurut Hamuda, sistem ujian berbasis CBT memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan evaluasi konvensional.

“Soalnya tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga kemampuan berpikir, menganalisis, dan menggunakan teknologi. Saya jadi semakin yakin bahwa generasi muda Muslim harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu melanjutkan warisan intelektual para ulama,” tambahnya.

Melalui pembelajaran dan evaluasi berbasis teknologi tersebut, peserta didik tidak hanya mempelajari teori falak, tetapi juga berlatih memanfaatkan teknologi dalam memahami fenomena astronomi yang berkaitan dengan praktik keagamaan. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana kajian keislaman dan perkembangan teknologi dapat dipadukan dalam proses pendidikan di lingkungan madrasah. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 07/06/2026 16:37
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu