Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Intip Masjid Unik di Tengah Gang Peneleh Surabaya

Iklan Landscape Smamda
Intip Masjid Unik di Tengah Gang Peneleh Surabaya
Bagian depan Masjid Al-Akbar Pandean yang terletak di tengah-tengah gang. Foto: Muh. Kholid AS/PWMU.CO
Oleh : Wildan Nanda Rahmatullah

Di tengah rapatnya permukiman Kota Surabaya, tepatnya di Jalan Pandean II, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, berdiri sebuah masjid dengan kisah yang tak biasa. Namanya Masjid Al-Akbar. Bukan masjid megah dengan kubah menjulang atau halaman luas, melainkan bangunan sederhana yang justru berada tepat di tengah gang sempit perkampungan. Lokasinya menyisakan jalan selebar 1,5 dan 1 meter di kanan dan kirinya yang bisa dilewati oleh 2 motor saja.

Bagi orang yang pertama kali melintas, keberadaan masjid ini mungkin terasa janggal. Bagaimana mungkin sebuah masjid 2 lantai berdiri di tengah jalan gang? Namun, di balik keunikannya, tersimpan sejarah panjang tentang gotong royong warga, semangat dakwah, dan jejak Muhammadiyah yang tumbuh di tengah masyarakat.

Masjid Al-Akbar telah ada sejak tahun 1884. Pada awal berdirinya, bangunan ini hanyalah mushalla kecil berukuran sekitar 10 x 4 meter. Keberadaannya bermula dari sebidang lahan kosong di tengah jalan lingkungan. Daripada terbengkalai, warga setempat bersepakat menjadikannya fasilitas umum berupa mushalla untuk kebutuhan ibadah bersama.

Keputusan sederhana itu ternyata meninggalkan jejak panjang. Mushalla kecil tersebut perlahan menjadi pusat aktivitas warga. Seiring bertambahnya kebutuhan masyarakat, bangunan itu kemudian berkembang hingga resmi berubah menjadi masjid pada tahun 1982.

Menurut Budi Irawan, pemerhati sejarah sekaligus anggota Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) PDM Surabaya, perjalanan Masjid Al-Akbar juga diwarnai proses renovasi penting. Pada tahun 1993, masjid direnovasi hingga ukurannya menjadi sekitar 5 x 15 meter.

Renovasi itu diprakarsai tokoh Muhammadiyah Surabaya, Haji Dahan, yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan tempat ibadah di lingkungan tersebut.

“Masjid ini dulunya memiliki bedug. Namun setelah sekitar tahun 1970-an, bedug itu rusak dan sudah tidak terpakai. Karena di lingkungan ini banyak orang Muhammadiyah, salah satunya Pak Husni Thamrin, suami Bu Ninik yang merupakan kepala sekolah Muhammadiyah,” terang Budi.

Nuansa Muhammadiyah memang terasa kuat di sekitar Masjid Al-Akbar. Bahkan, pengaruh itu pernah melahirkan dinamika unik dalam pelaksanaan ibadah tarawih.

SMPM 5 Pucang SBY

Intip Masjid Unik di Tengah Gang Peneleh Surabaya
Bagian dalam lantai 1 Masjid Al-Akbar Pandean. Foto: Wildan/PWMU.CO

Pada sekitar tahun 1970-an, warga terbagi dalam pelaksanaan tarawih 11 rakaat dan 23 rakaat. Situasi itu membuat Ketua RW saat itu mengambil kebijakan yang cukup bijak demi menjaga kerukunan warga.

Mereka yang menjalankan tarawih 11 rakaat dipersilakan beribadah di Masjid Al-Akbar, sedangkan jamaah 23 rakaat diarahkan ke mushalla di Gang 3. Pemisahan itu dilakukan bukan untuk membelah masyarakat, melainkan menjaga keharmonisan agar perbedaan tata cara ibadah tidak memicu kesalahpahaman di tengah warga.

“Ketua RW saat itu khawatir orang luar melihat umat Islam tidak sefrekuensi beribadah di tempat yang sama,” ujar Budi.

Meski ukurannya tidak besar, denyut kehidupan Masjid Al-Akbar terus berjalan hingga kini. Kegiatan pengajian, pelaksanaan kurban, hingga kajian keislaman masih rutin mewarnai aktivitas masjid. Ketika tim PWMU.CO berkunjung ke masjid ini, tampak sudah ada kode Qris yang bisa di-scan oleh jamaah yang menunjukkan masjid ini sudah menerapkan konsep digital dalam infaknya.

Sejumlah tokoh Muhammadiyah juga pernah singgah di tempat ini, seperti Buya Arifin dan Kiai Mahnun dari Yogyakarta. Hingga sekarang, kader-kader Muhammadiyah tetap aktif mengisi kajian maupun khotbah Jumat di masjid tersebut seperti Ustaz Musa Abdullah dan Ustaz Zunahar. Selain pengajian, ada juga TPQ yang biasa digunakan anak-anak mengaji. Namun, jumlahnya tidak banyak karena hanya ada sekitar 10 meja untuk belajar.

Masjid Al-Akbar memang bukan masjid resmi milik Muhammadiyah. Namun, denyut perjuangan dan nilai-nilai Muhammadiyah terasa hidup di dalamnya. Di tengah gang kecil Surabaya, masjid ini berdiri sebagai saksi bahwa tempat sederhana pun bisa menyimpan sejarah besar tentang kebersamaan dan dakwah. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 07/06/2026 12:14
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu