Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 71

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 71

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab V berjudul “Muhammadiyah Masa Kebangkitan (1956-2004)”, halaman 203 s/d sebagian 208.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 70

***

Halaman 203

  1. Kabupaten dan Kota Kediri

Tokoh-tokoh penggerak Muhammadiyah pada masa itu antara lain M. Shohib, S.A. Suwito, M.C. Kasimo (Pare), Trisno Wardoyo, H. Mashadi (Kediri). Kegiatan yang dilakukan antara lain menggalang dana untuk menghidupkan kembali amal usaha Muhammadiyah. Penggerak kebangkitan ini adalah H. Trisno Wardoyo, ketua PCM Kediri (1956-1971). Setelah status cabang Kediri pada 1967 berubah menjadi daerah, kota Kediri dikembangkan menjadi tiga PCM di Kecamatan Mojoroto, Kecamatan Kota, dan Pesantren. {78}

Pasca Dekrit Presiden 5 Juli 1959 para tokoh Masyumi yang berasal dari Muhammadiyah pulang “kandang”, sebagai muballigh dan aktivis Muhammadiyah. Banyak tokoh terkenal, seperti Dipowardoyo dari Gurah, Moh. Syamlan dari Tulungagung, dan Syamsuddin dari Kandat. Mereka umumnya adalah orator yang mampu memukau umat, digunakan untuk memperkuat barisan Muhammadiyah yang terancam oleh aksi pihak-pihak yang takut kepada Islam, terutama PKI dan onderbow-nya seperti BTI, Gerwani, Pemuda Rakyat, dan Lekra.

Dalam keadaan sulit, Muhammadiyah tetap menggelar dakwah. Tokoh-Tokoh penting dihadirkan, seperti A.W. Suyoso dari Surabaya, dan Buya Hamka dari jakarta. Untuk menyiasati sulitnya perizinan, sering nama A.W. Suyoso diubah menjadi Abdul Wahid atau Abd. Wahid S. {79}

Pada 1961 pertama kali dilaksanakan shalat Idul Fitri di lapangan Setono Betek (sekarang Pasar Setono Betek) Kota Kediri. Jama’ahnya hanya 3 shaf pendek, sementara yang menonton lebih banyak. Setelah kegiatan diadakan rutin setiap tahun, jama’ahnya terus bertambah.

Tetapi dampaknya, ketua PCM Kediri, H. Mashadi dilarang shalat rawatib di mushalla dan juga tidak disapa tetangganya. Pada periode Trisno Wardoyo-Ripto Darmono ini Muhammadiyah Kediri membangun Masjid Baiturrahman di Kompleks Perguruan

Halaman 204

Jalan Penanggungan. Pada masa Orde Baru (1966-1998), gerak Persyarikatan relatif cepat. Pada masa ini didirikan Bapelruzam (Badan Pelaksana Urusan Zakat Muhammadiyah (Bapelruzam), yang dikelola masing-masing cabang.

Antara 1967-1971, Muhammadiyah diberi status ormaspol, karena itu Muhammadiyah diberi jatah kursi anggota DPRD-GR. Di antara tokoh yang aktif dalam bidang politik tercatat nama Sjamsudduha. Ia ditunjuk Muhammadiyah Cabang Kota menjadi anggota DPRD-GR Kotamadya Kediri. Untuk Kabupaten Kediri ditujuk Drs. Soeparno (waktu itu Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Kediri). Pada masa ini kegiatan pengajian umum harus mendapatkan izin dari Kantor Depag dan Muspida untuk Kabupaten/Kotamadya, dan Muspika untuk tingkat kecamatan.

Berdasarkan penetapan PP Muhammadiyah tanggal 10 Rabiul Awal 1387 H/18 Juni 1967, status Muhammadiyah Kediri berubah menjadi Daerah, tetapi baru setahun kemudian (1968-1971) kepengurusan PDM Kediri terbentuk, dengan susunan: Mardono Sastro Admodjo (Ketua) dan Trisno Wardoyo, Drs. A. Chotib, Drs. Soeparno, Drs. Kasmuri, A. Djaelani Cholik, Moh. Amin, B.A., M.S. Poeloengan, Dahlan Bakar, M. Chuzaini, Machrus Ihsan (Anggota). Saat itu belum ada pemisahan antara kepengurusan PDM Kabupaten dan PDM Kotamadya.

Halaman 205

Mardono Sastro Atmodjo, {80} pejabat di lingkungan Jawatan Pendidikan Agama Jawa Timur, tidak dapat melanjutkan kepemimpinannya sampai selesai (1971), karena ia diangkat menjadi Kepala Perwakilan Jawatan Pendidikan Agama pada Depag Propinsi Jawa Timur (1971-1974). Penerusnya adalah Trisno Wardoyo. Ia dipercaya memimpin PDM selama 3 periode berturut-turut, yaitu periode 1971-1974, periode 1974-1978, dan periode 1978-1985. {81}

Dengan mempertimbangkan efektivitas kinerja, luas wilayah dan jumlah penduduk yang besar, Musyda pada 3 Nopember 1991 memutuskan untuk melakukan pengembangan PDM Kotamadya dan Kabupaten. Ketua PDM Kota periode 1990-1995 adalah Ripto Darmono, dengan Anggota-anggota: M. Drs. Amin Sudiro, Drs. Komarudin Dar, Drs. Ismuji, Zainul Arifin AS, BA., Arief Mualifin, BBA, Imam Muslim BA., Drs. Masroeki, Drs. Soedjoko, Moedjio Slamet, Drs. Ibnu Mustofa, dan M. Chambali. Untuk membantu tugas-tugas bidang dibentuk Majelis Tabligh, Tarjih, Dikdasmen, PKS, PK, Ekonomi, Wakaf, Pustaka, Kebudayaan, Perkaderan, dan Lembaga Pembinaan dan Pengawasan Keuangan.

Kepemimpinan Ripto Darmono, dilanjutkan Drs. Qomaruddin Dar (1996-2000), dengan susunan: Qomaruddin Dar (ketua), A. Thoyfur, Dr. Sentot Imam Suprapto, Drs. Amin Sudiro (ketua I, II, dan III), Drs. M. Sholeh Suradi, M.Pd., Drs. Abu Bakar, MS., (sekretaris I,II), Drs. Basyiruddin, Ir. Darsono (bendahara I,II), Ripto Darmono, Imam Muslim, S. Ag., Drs. Masroeki, BBA., Drs. Ismuji, dan Mursono (Anggota).

Pada periode ini juga melibatkan tokoh-tokoh muda, intelektual, baik dari AMM maupun kader-kader yang memang aktif di organisasi-organisasi lain seperti HMI dan pada Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang tersebar di berbagai PTN/PTS, dan Pondok Pesantren. Aisyiyah, NA, Pemuda Muhammadiyah, IRM, berhasil dibentuk.

PDM Kotamadya Kediri membawahi 3 cabang: Mojoroto, Kota dan Pesantren, serta 21 ranting. Cabang Kota terdiri dari 6 ranting, dan 3 ranting persiapan. Selama tiga tahun PCM Kecamatan Kota berhasil menghimpun zakat maal sekitar empat puluh lima juta rupiah. Cabang Mojoroto memiliki 10 ranting, sementara Pesantren terdiri dari 5 ranting. {82} Pada periode 2000-2005, dipimpin

SMPM 5 Pucang SBY

Halaman 206

Drs. H. Muslikhin sebagai ketua, dengan sekretaris M. Fauzan B. Joesoef, S.Ag. Sementara Kapupaten Kediri memiliki 18 cabang dan 95 ranting. Pada periode 2000-2005 dipimpin Drs. Abu Abik Toiron (ketua) dengan sekretaris Ali Sa’roni.

  1. Kabupaten Nganjuk

Setelah lama stagnan, pada kepemimpinan H. Mawardi (Ketua) dan Isma’il (Wakil Ketua) tahun 1956-1962, dilakukan penyempurnaan pimpinan dan penggalangan dana guna mengaktifkan kegiatan.

Berkat pendekatan yang dilakukan Ahmad Hasjim yang dikenal memiliki jaringan luas, Nganjuk memperoleh perhatian dari lembaga-lembaga dakwah Islam di Jogjakarta. Masjid Sjuhada Jogjakarta, yang saat itu sangat kondang, mengirim Tim Dakwah ke Nganjuk.

Demikian pula Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) HMI mengirimkan tim dokter ke Muhammadiyah Nganjuk, melakukan pengabdian masyarakat. Oleh PDM Nganjuk tim tadi disebarkan ke cabang-cabang yang memerlukan dan ke daerah bencana banjir. Keberadaan tim di atas, selain membanggakan warga Muhammadiyah Nganjuk, juga membuat decak kagum bagi pihak

Halaman 207

pihak di luar Muhammadiyah. Orang mengenal Muhammadiyah sebagai organisasi modern karena saat itu belum ada satu pun organisasi lain yang mampu melakukan seperti yang dilakukan Muhammadiyah. {83}

Selain stigma buruk yang ditujukan pada warga Muhammadiyah, ada pula hal-hal positif yang menggembirakan di masa-masa sulit itu. Mereka secara obyektif mengakui bahwa Muhammadiyah berpikiran modern. Kelompok-kelompok di luar Muhammadiyah juga menaruh hormat kepada Muhammadiyah karena amal usahanya terus bergerak dan berkembang.

Pada 1963-1965, Majelis Dakwah mendatangkan LDMI (Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam) Jogjakarta dan disebarkan ke seluruh Cabang. Bahkan, Majelis PKU mempelopori Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di pelosok-pelosok pedesaan.

Pukesmas yang pada 1960-an lebih dikenal sebagai “klinik” oleh Muhammadiyah Nganjuk didirikan di desa Kecubung Pace, sekitar 10 km di selatan Nganjuk. Pendirian klinik atau Puskesmas tersebut apabila diukur dengan perkembangan sosial waktu itu, dapat dikatakan telah mendahului zamannya. Bahkan Pemerintah atau lembaga lain pun belum ada yang memikirkan apalagi melaksanakan masalah itu. {84}

Berdasarkan buku “Sejarah Singkat Muhammadiyah Daerah Kabupaten Nganjuk”, Ketua Muhammadiyah Nganjuk pada periode 1931-1934 (Sastrosudirdjo), 1935-1950 (Soeradi), 1951-1955 (Muh. Dardiri/Ismail Sjamsuddin), 1956-1962 (H. Mawardi/Ismail Sjamsuddin), 1963-1965 (Achmad Hasjim). Pada 1965-1967, Ahmad Hasyim (ketua), Slamet Lestari DS (sekretaris), dan Abdul Khanan (Bendahara); 1967-1970, Ismail Syamsuddin (ketua), Slamet Lestari DS (sekretaris), dan Hadiyuddin (bendahara); 1971-1985, M. Ichsan, BA (ketua), Slamet Lestari DS (sekretaris), dan Hadiyuddin (bendahara).

Pada 1985-1990, M. Ichsan BA terpilih sebagai ketua, Drs. Sudarmadji sekretaris, dan Hadiyudin bendahara. Pada periode berikutnya (1990-1995), M. Shodiq (ketua), Drs. Sudarmadji (sekretaris), Drs. Sur’an Abduh (bendahara). 1995-2000, Drs. Sur’an Abduh (ketua), Hadiyudin (sekretaris), Moh. Shodiq (bendahara); 2000-2005, Ust. Ali Hamdi Muda’im (ketua), Drs. M. Ridwan/Abd.

Halaman 208

Kholiq, S.Ag (sekretaris), dan Djahid (bendahara). {85} Majelis Tarjih (Imam Fachrurrazie, S.H.), Majelis Tabligh (Drs. Kusbani Asrar), Majelis Pustaka (M. Husen), Majelis Dikdasmen (M. Muthohar Hidayat, BA), Majelis Ekonomi (Subiyanto), Majelis Pembina Kesehatan (Sukoco HS, BA), Majelis Pembina Kesejahteraan Sosial (Hadiyudin), dan Lembaga Pembinaan dan Pengawasan Keuangan (M. Ilyas Syahri). {86}

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 18/07/2026 14:53
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu