Mahasiswa Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) mendorong pengembangan layanan telemedicine pascastroke sebagai bagian dari transformasi digital pelayanan kesehatan di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur.
Gagasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Digital Movement: Transformasi Layanan Pascastroke Menuju Era Smart Hospital di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur”, yang digelar di Auditorium Jabbal Ilmi Lantai 7 RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan ini diikuti 10 mahasiswa MARS Angkatan 2025 bersama jajaran manajemen RSUD Haji serta sekitar 30 tenaga kesehatan yang terdiri atas dokter spesialis, dokter umum, perawat, fisioterapis, dan tenaga administrasi rumah sakit.
Ketua panitia, dr. Ariesta Wira Permana, menegaskan bahwa digitalisasi pelayanan kesehatan kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk meningkatkan akses layanan bagi masyarakat.
“Digitalisasi bukan merupakan suatu pilihan, namun di era yang berkembang ini merupakan suatu kebutuhan. Pasien bisa mendapatkan akses cepat dan kebutuhan pasien terhadap pelayanan kesehatan dapat dipenuhi secara maksimal,” ujarnya.
Ketua Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Umsura, Prof. Pipit Festi Wiliyanarti, S.KM., M.Kes., menjelaskan bahwa pengembangan telemedicine menjadi salah satu kebutuhan yang teridentifikasi melalui diskusi antara mahasiswa dengan RSUD Haji Provinsi Jawa Timur.
“Berdasarkan analisis awal mahasiswa dengan bidang Diklat RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, bahwa ingin sekali mengembangkan terkait telemedicine. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini, mahasiswa kami dapat berinteraksi untuk mewujudkan hal tersebut,” terangnya.
Wakil Direktur Penunjang Medik dan Diklat RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, dr. Afan Fatkhur Akhmad, Sp.P., FISR., MARS., menjelaskan bahwa pengembangan telemedicine di RSUD Haji berawal dari kebutuhan pelayanan saat pandemi Covid-19.
Menurutnya, rumah sakit tersebut ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan sebagai rumah sakit pengampu layanan telemedicine sehingga memiliki tanggung jawab mendukung pelayanan kesehatan hingga ke daerah dengan akses terbatas.
“Perkembangan telemedicine di RSUD Haji Surabaya bermula ketika pandemi COVID-19. Kementerian Kesehatan menunjuk RSUD Haji Provinsi Jawa Timur sebagai rumah sakit pengampu sarana telemedicine ini. Kami berupaya menjangkau pelayanan hingga ke daerah-daerah terpencil,” ungkapnya.
Ia berharap layanan telemedicine dapat terus dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi pasien.
“Mudah-mudahan nanti ada titik terang sehingga telemedicine bisa dimanfaatkan oleh pasien dan bisa disiapkan oleh rumah sakit agar lebih baik,” tutupnya.
Materi mengenai pengembangan telemedicine dipaparkan oleh dr. Theresia Agussalim, perwakilan mahasiswa MARS Umsura.
Ia menjelaskan bahwa pasien pascastroke memerlukan pemantauan berkelanjutan. Namun, banyak pasien mengalami keterbatasan mobilitas maupun kesulitan mengakses rumah sakit secara rutin.
Karena itu, telemedicine dinilai menjadi solusi untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada pasien setelah menjalani perawatan.
Konsep layanan tersebut dibangun melalui tiga pilar utama, yaitu:
- Tele-Monitoring, untuk memantau tekanan darah, kadar gula darah, dan kepatuhan minum obat secara berkala.
- Tele-Konsultasi, yang memungkinkan pasien berkonsultasi secara daring dengan dokter spesialis saraf maupun rehabilitasi medik.
- E-Rehab Guideline, berupa panduan latihan fisioterapi yang dapat dilakukan pasien secara mandiri di rumah bersama keluarga.
Selain itu, sistem juga dilengkapi skrining menggunakan Stroke Specific Quality of Life Scale (SS-QOL) sebagai dasar penentuan tindak lanjut pelayanan, mulai dari edukasi mandiri, konsultasi daring, layanan home care, hingga rujukan kembali ke rumah sakit apabila diperlukan.
Menurut dr. Theresia Agussalim, penerapan telemedicine berpotensi memberikan berbagai manfaat, seperti mengurangi biaya transportasi pasien, menekan antrean pelayanan rumah sakit, meningkatkan efisiensi administrasi, serta menurunkan risiko rawat inap ulang melalui pemantauan kondisi pasien secara berkelanjutan.
Inovasi tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah strategis RSUD Haji Provinsi Jawa Timur dalam mewujudkan konsep Smart Hospital, sekaligus menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih mudah diakses, efektif, dan berorientasi pada kebutuhan pasien, khususnya penyintas stroke.





0 Tanggapan
Empty Comments