Buya Hamka pernah berkata, “Cermin paling jujur adalah mata seorang ibu.” Di seberang lautan, Victor Hugo, sastrawan besar Prancis, juga pernah mengungkapkan kehangatan seorang ibu melalui gambaran tentang pelukan yang membuat anak-anak merasa aman dan tenteram.
Dua ungkapan dari dua peradaban berbeda itu bertemu pada satu titik: ibu adalah tempat kejujuran dan kelembutan berpadu.
Buya Hamka menggambarkan ibu melalui tatapan matanya yang jujur. Victor Hugo menghadirkannya melalui pelukan yang menenangkan. Yang satu berbicara tentang tatapan, yang lain tentang sentuhan. Namun keduanya bermuara pada pengalaman yang sama: rasa aman yang lahir dari kasih seorang ibu.
Menariknya, sains modern, psikologi, dan ajaran Islam memberikan penjelasan dari sudut yang berbeda tentang mengapa sosok ibu begitu penting dalam kehidupan seorang anak.
Ketika seorang ibu memeluk, menyentuh, atau menenangkan anaknya, terjadi berbagai proses biologis dalam tubuh yang berkaitan dengan rasa nyaman dan keterikatan. Salah satu yang banyak dibahas adalah oksitosin, hormon yang berperan dalam ikatan sosial, kepercayaan, dan hubungan antara ibu dengan anak.
Oksitosin memiliki peran penting dalam proses kehamilan dan persalinan, serta berkaitan dengan interaksi ibu dan bayi, termasuk menyusui dan sentuhan penuh kasih.
Hubungan ibu dan anak juga bukan sekadar perkara biologis. Kehamilan, persalinan, menyusui, dan pengalaman merawat anak berkaitan dengan berbagai perubahan pada tubuh dan otak ibu. Proses tersebut turut mendukung kemampuan seorang ibu untuk merespons kebutuhan dan isyarat anak.
Itulah sebabnya pelukan ibu sering kali terasa lebih dari sekadar sentuhan fisik. Bagi seorang anak, pelukan dapat menjadi pesan tanpa kata: “Kamu aman. Kamu dicintai. Ibu ada di sini.”
Dalam kehidupan sehari-hari, rasa aman semacam ini sangat penting. Seorang anak yang menangis tidak selalu membutuhkan nasihat. Kadang ia hanya membutuhkan pelukan. Anak yang takut tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang. Kadang ia cukup melihat wajah ibunya dan mendengar suara yang dikenalnya.
Di situlah kelembutan seorang ibu menemukan maknanya.
Ibu sebagai “Secure Base”
Dalam teori attachment yang dikembangkan psikolog John Bowlby, figur pengasuh yang memberikan rasa aman berperan sebagai secure base atau tempat berpijak yang aman bagi anak.
Dari tempat yang aman itulah anak belajar mengenal dunia. Ia berani bermain, bertanya, mencoba, bahkan sesekali menjauh. Namun ketika merasa takut, sedih, atau menghadapi sesuatu yang belum dikenalnya, ia tahu ke mana harus kembali.
Ibu, dalam banyak pengalaman anak, menjadi sosok penting dalam proses tersebut.
Tatapan ibu pun dapat menjadi semacam cermin pertama bagi seorang anak. Jauh sebelum ia mengenal cermin di dinding, ia belajar mengenali dirinya melalui respons orang-orang yang merawatnya.
Dari mata ibunya, ia belajar: apakah aku dicintai? Apakah aku diterima? Apakah aku berharga? Apakah kehadiranku di dunia ini berarti?
Karena itu, kalimat Buya Hamka tentang mata ibu terasa begitu dalam. Mata seorang ibu tidak hanya memantulkan wajah anaknya, tetapi juga sering memantulkan cinta yang membuat seorang anak belajar mencintai dirinya sendiri.
Islam Menempatkan Ibu pada Kedudukan Mulia
Jika sains menjelaskan hubungan ibu dan anak dari sisi biologis dan psikologis, Islam memberikan dimensi yang jauh lebih dalam: pengorbanan seorang ibu adalah alasan bagi anak untuk berbakti dan bersyukur.
Allah Ta’ala berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu.” (QS Luqman, 31:14)
Perhatikan ungkapan Al-Qur’an: wahnan ‘ala wahn—kelemahan di atas kelemahan.
Al-Qur’an secara khusus mengingatkan manusia tentang beratnya perjuangan seorang ibu dalam mengandung dan menyusui. Ada tubuh yang berubah, tenaga yang terkuras, rasa sakit yang harus ditanggung, waktu tidur yang berkurang, dan begitu banyak pengorbanan yang sering tidak terlihat oleh anak.
Karena itu, berbakti kepada ibu bukan sekadar membalas jasa. Ia adalah bagian dari perintah Allah.
Kedudukan ibu juga ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad saw.
Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ, siapa orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik darinya.
Beliau menjawab, “Ibumu.”
Sahabat itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”
Beliau menjawab, “Ibumu.”
Ketika ditanya untuk ketiga kalinya, Rasulullah saw kembali menjawab, “Ibumu.”
Barulah ketika ditanya untuk keempat kalinya beliau menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Tiga kali ibu disebut sebelum ayah. Bukan untuk mengecilkan kedudukan ayah, melainkan untuk menunjukkan betapa besar dan berlapisnya pengorbanan seorang ibu.
Mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, menjaga, dan mendampingi tumbuh kembang anak adalah rangkaian pengorbanan yang tidak selalu dapat dihitung dengan angka.
Ketika Sains, Psikologi, dan Wahyu Bertemu
Pada titik tertentu, sains, psikologi, dan wahyu seperti berbicara dalam bahasa yang berbeda tentang satu pengalaman manusia yang sama.
Sains membantu menjelaskan bagaimana sentuhan dan kedekatan dapat berkaitan dengan rasa nyaman serta ikatan antara ibu dan anak.
Psikologi menjelaskan pentingnya rasa aman dan hubungan yang sehat dalam perkembangan anak.
Sementara Islam memberikan makna spiritual yang lebih tinggi: ibu adalah sosok yang pengorbanannya harus dihormati dan dibalas dengan bakti.
Maka, pelukan seorang ibu bukan sekadar pelukan.
Di dalamnya ada sejarah panjang tentang kehamilan, kelahiran, air susu, malam-malam tanpa tidur, kecemasan, doa, kesabaran, dan cinta yang sering diberikan tanpa meminta balasan.
Begitu pula mata seorang ibu.
Ia mungkin menjadi cermin paling jujur yang pernah kita miliki. Ketika dunia menilai kita berdasarkan pencapaian, seorang ibu sering kali tetap melihat kita sebagai anak yang harus dijaga dan didoakan.
Ketika kita gagal, ia mungkin menjadi orang yang pertama kali menguatkan.
Ketika kita berhasil, ia pula yang diam-diam paling bahagia.
Mungkin karena itu, ada saatnya kita berhenti mengejar kesibukan dan pulang.
Peluklah ibu, selagi masih ada kesempatan.
Pandanglah matanya. Dengarkan ceritanya, meski mungkin sudah pernah kita dengar berkali-kali. Duduklah di sampingnya meski hanya beberapa menit.
Sebab suatu hari nanti, yang paling kita rindukan mungkin bukan rumah masa kecil, bukan makanan yang biasa ia masak, bahkan bukan suara nasihatnya.
Melainkan sepasang mata yang selalu melihat kita dengan cinta.
Dari sanalah cinta pertama kita bermula.
Dan dari doa seorang ibu, sering kali kita menemukan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan hidup.
Ibu adalah cermin yang jujur, pelukan yang menenangkan, dan doa yang tidak pernah lelah menyertai anaknya. (*)
Catatan: Disarikan antara lain dari Tafsir Al-Qurthubi, Organela Cinta karya Tauhid Nur Azhar, dan pembahasan John Bowlby tentang Attachment Theory.





0 Tanggapan
Empty Comments