Peserta Tahfidz Camp #6 SMP Muhammadiyah 1 Gresik (Spemutu) tidak hanya menghabiskan waktu dengan hafalan dan murajaah. Jumat (18/9/2026), mereka diajak mengikuti Tadabbur Alam melalui permainan edukatif berbasis al-Qur’an di kawasan Wisata Alam Gosari (WAGOS).
Kegiatan Tadabbur Alam dikemas dalam lima pos yang harus dilalui peserta secara bergantian. Setiap pos menghadirkan tantangan berbeda yang memadukan keseruan, kerja sama, hafalan, dan kecintaan terhadap al-Qur’an.
Kepala Spemutu, Rosyidul Arifibillah, S.Pi., S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran al-Qur’an yang menyenangkan.
“Anak-anak perlu mendapatkan pengalaman belajar yang beragam. Melalui Tadabbur Alam, mereka bisa belajar al-Qur’an sambil bermain, bekerja sama, dan menikmati suasana alam. Harapannya, kegiatan ini menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menguatkan kecintaan mereka terhadap al-Qur’an,” ujarnya.
Menurut Rosyidul, konsep tersebut sejalan dengan pesan yang disampaikan saat pembukaan Tahfidz Camp #6, yakni kegiatan harus menyenangkan, mengislamkan, dan mengesankan.
“Kita ingin Tahfidz Camp ini menyenangkan, tetapi tetap mengislamkan dan memberikan kesan yang mendalam. Permainan-permainan seperti ini bukan sekadar hiburan, karena di dalamnya ada hafalan, bacaan al-Qur’an, kerja sama, dan pembentukan karakter,” tambahnya.
Lima Pos, Lima Tantangan
Pos pertama menjadi pembuka dengan tantangan “Gema Semangat Qurani”. Setiap kelompok diminta menampilkan yel-yel kreasi terbaik mereka dengan penuh semangat. Suara sorakan, gerakan, dan kekompakan peserta membuat suasana WAGOS semakin meriah.
Setelah membangkitkan semangat, peserta bergerak menuju Pos 2 untuk mengikuti permainan “Abatajaha”. Permainan ini terinspirasi dari permainan ABC lima dasar, tetapi menggunakan huruf hijaiyah.
Setiap kelompok mendapatkan huruf hijaiyah tertentu. Peserta kemudian harus menyebutkan ayat al-Qur’an yang diawali dengan huruf sesuai pilihan tersebut. Permainan ini menguji daya ingat sekaligus pengetahuan peserta terhadap ayat-ayat al-Qur’an.
Di Pos 3, tantangan berubah menjadi “Estafet Ayat”. Panitia membisikkan sebuah ayat secara acak kepada peserta pertama. Peserta pertama kemudian membisikkan ayat tersebut kepada peserta kedua, begitu seterusnya hingga peserta terakhir.
Peserta terakhir bertugas membacakan ayat yang diterimanya. Jika ayat yang disampaikan tidak tepat, peserta tersebut mendapatkan konsekuensi berupa wajah yang dicoret menggunakan bedak bayi.
Suasana semakin ramai di Pos 4 melalui permainan “Sambung Ayat”. Panitia membacakan satu ayat dari surat tertentu, kemudian peserta dalam kelompok harus melanjutkan ayat tersebut dengan benar.
Jika terdapat peserta yang salah ketika melanjutkan ayat, hanya peserta yang melakukan kesalahan yang mendapatkan tantangan berupa coretan bedak bayi di wajah.
Ditutup dengan Refleksi
Setelah menyelesaikan empat tantangan, seluruh peserta berkumpul di Pos 5 yang berada di Aula WAGOS. Di tempat tersebut, suasana berubah lebih tenang.
Peserta diajak melakukan refleksi diri, kemudian menyampaikan kesan dan pesan selama mengikuti Tahfidz Camp #6. Momen tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk melihat kembali pengalaman yang mereka dapatkan selama kegiatan.
Arjad, S.Sos., selaku Penanggung Jawab Tadabbur Alam, menjelaskan bahwa lima pos tersebut dirancang untuk membuat peserta berinteraksi dengan al-Qur’an melalui cara yang lebih dekat dengan dunia mereka..
“Kami ingin anak-anak merasakan bahwa belajar al-Qur’an itu bisa menyenangkan. Setiap pos kami buat dengan tantangan yang berbeda, tetapi semuanya tetap memiliki keterkaitan dengan hafalan, bacaan, dan pemahaman mereka terhadap al-Qur’an,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan juga dirancang untuk melatih kekompakan antarpeserta.
“Mereka belajar bahwa dalam satu kelompok harus saling membantu. Ada yang kuat dalam hafalan, ada yang berani tampil, ada yang cepat mengingat. Semua bisa saling melengkapi. Di akhir kegiatan, mereka kami ajak refleksi agar pengalaman yang didapat tidak berhenti sebagai permainan saja,” tambah Arjad.
Belajar Sambil Bermain
Salah satu peserta, Zhafran Aqila Hasim, mengaku menikmati rangkaian Tadabbur Alam karena setiap pos memberikan pengalaman berbeda.
“Yang paling seru karena setiap pos permainannya berbeda. Kami tidak hanya bermain, tetapi juga harus mengingat ayat dan bekerja sama dengan teman satu kelompok. Bagian sambung ayat dan bisik ayat juga membuat kami lebih fokus,” ungkapnya.
Sementara Fathan El Fatih Rezid Hanani mengatakan kegiatan tersebut membuat suasana Tahfidz Camp menjadi semakin berkesan.
“Tadabbur Alam sangat menyenangkan karena kami bisa belajar al-Qur’an sambil bermain di alam. Ada tantangan yang membuat kami tertawa, tetapi juga membuat kami lebih ingat dengan ayat-ayat yang sudah dipelajari,” tuturnya.
Rangkaian Tadabbur Alam kemudian ditutup dengan refleksi bersama di Aula WAGOS. Dari yel-yel penuh energi hingga perenungan dalam suasana tenang, peserta mendapatkan pengalaman belajar yang memadukan al-Qur’an, alam, permainan, kerja sama, dan refleksi diri.
Di tengah alam, ayat-ayat tidak hanya dihafalkan, tetapi dihidupkan melalui tawa, kebersamaan, dan pengalaman yang meninggalkan kesan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments