Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kelas Jurnalis SMP Muhammadiyah 6 Surabaya Ajak Siswa Menulis tentang Air

Iklan Landscape Smamda
Kelas Jurnalis SMP Muhammadiyah 6 Surabaya Ajak Siswa Menulis tentang Air
Jurnalis SMP Muhammadiyah 6 Surabaya: Aura Savina Adela Zahra, Fatimah Azzahra, Hafiza Vira Aulia, Shakila Nurila Arianto, Qaanitah Lutfia Salsabila. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Air menjadi objek liputan siswa Kelas Talenta Jurnalis SMP Muhammadiyah 6 Surabaya. Melalui kegiatan ekstrakurikuler yang berlangsung Jumat (18/9/2026), siswa kelas IX B diajak mengamati fenomena air dari berbagai perspektif, mulai dari nilai spiritual, kelestarian lingkungan, teknologi, hingga potensi laut.

Kegiatan tersebut tidak sekadar melatih kemampuan menulis. Siswa juga diajak mengenali objek liputan, mengamati lingkungan sekitar, mencari referensi, dan mengembangkan fenomena yang mereka temukan menjadi tulisan.

Kepala SMP Muhammadiyah 6 Surabaya Husein mengatakan Kelas Talenta menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk mengembangkan potensi siswa sesuai dengan minat dan kemampuannya.

“Potensi diri siswa perlu terus dikembangkan sehingga proses belajar menjadi menyenangkan,” kata Husein saat meninjau kegiatan Kelas Talenta Jurnalis.

Pembina Kelas Talenta Jurnalis Andi Hariyadi menjelaskan, dalam kegiatan tersebut siswa terlebih dahulu berdiskusi tentang cara mengenali objek liputan sebagai bahan tulisan. Setelah itu, mereka melakukan pengamatan terhadap lingkungan sekitar sekolah.

“Setiap peserta diberi tugas menulis tentang fenomena air sebagai salah satu karunia Allah yang sangat berarti bagi kehidupan. Dari sana siswa belajar bersyukur sekaligus memahami pentingnya menjaga kelestarian air,” ujarnya.

Salah satu siswa, Fatimah Azzahra, mengangkat air zamzam. Ia tidak hanya melihat air zamzam sebagai sumber air yang dapat menghilangkan dahaga, tetapi juga mengaitkannya dengan kisah perjuangan Hajar ketika mencari air untuk Ismail.

Dalam tulisannya, Fatimah juga menelusuri perhatian dunia ilmiah terhadap air zamzam. Ia menggunakan berbagai referensi untuk membahas kandungan mineral dalam air tersebut dan penelitian yang pernah dilakukan terhadapnya.

Sementara itu, Qaanitah Lutfiah Salsabilah memilih persoalan daerah resapan air. Ia menyoroti pesatnya pembangunan yang beriringan dengan semakin berkurangnya ruang terbuka dan lahan yang mampu menyerap air ke dalam tanah.

Menurut Qaanitah, pembangunan memang penting bagi perkembangan suatu wilayah. Namun, pembangunan tidak semestinya mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

“Pembangunan memang menjadi salah satu bagian dari perkembangan bangsa, tetapi kelestarian lingkungan tidak seharusnya menjadi sesuatu yang dikorbankan,” tulisnya.

Ia menilai edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan perlu terus ditingkatkan, terutama kepada generasi muda.

Gagasan serupa disampaikan Shakila Nurita Arianto. Ia menulis tentang pentingnya menjaga sumber air dan manfaatnya bagi kehidupan.

SMPM 5 Pucang SBY

“Sebagai pelajar dan generasi muda, kita harus lebih bijak dan bertanggung jawab menjaga air tetap bersih. Mulailah dari hal kecil seperti tidak membuang sampah di sungai dan tidak boros menggunakan air,” ujarnya.

Berbeda dengan teman-temannya, Hafiza Vira Aulia memilih menelusuri hubungan air dengan perkembangan teknologi. Ia mengangkat sejumlah ilmuwan dan teknologi yang memanfaatkan air untuk membantu kehidupan manusia.

Hafiza antara lain menyinggung Ismail Al-Jazari, ilmuwan Muslim abad ke-12 yang dikenal melalui berbagai karya di bidang mekanika dan teknologi air.

Dia juga mengaitkannya dengan perkembangan teknologi pengolahan dan penyediaan air pada masa kini, termasuk Atmospheric Water Generator (AWG) dan sistem pengolahan air berbasis sensor serta kecerdasan buatan.

Adapun Aura Savina Adela Zahra memilih air laut sebagai objek tulisannya. Ia membahas luasnya peran laut bagi kehidupan, mulai dari pengaruhnya terhadap iklim dan siklus air hingga potensinya sebagai sumber daya bagi manusia.

Melalui beragam tulisan tersebut, siswa tidak hanya belajar membuat kalimat dan menyusun paragraf. Mereka belajar melihat satu objek dari berbagai sudut pandang.

Andi Hariyadi mengatakan pendekatan semacam itu penting dalam pembelajaran jurnalistik karena siswa perlu memiliki kepekaan terhadap fenomena di sekitarnya sebelum menulis.

“Jurnalistik mengajarkan siswa untuk mengamati, bertanya, mencari informasi, kemudian menyusunnya menjadi tulisan,” katanya.

Kegiatan Kelas Talenta Jurnalis tersebut sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk menghubungkan pembelajaran dengan persoalan kehidupan sehari-hari.

Air yang selama ini mudah dijumpai di sekitar mereka menjadi bahan untuk belajar tentang lingkungan, sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi, dan tanggung jawab manusia.

Bagi para siswa, belajar jurnalistik akhirnya bukan hanya soal menghasilkan tulisan. Mereka belajar menemukan cerita dari sesuatu yang selama ini dianggap biasa. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 19/09/2026 20:52
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu