Kemandirian ranting tidak cukup dibangun dengan menghidupkan organisasi. Ia membutuhkan amal usaha yang mampu tumbuh, dikelola secara berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Hal itulah yang dipelajari Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Karangagung, Palang, Tuban, saat melakukan studi tiru ke PRM Wage, Sidoarjo, Sabtu (19/9/2026).
Sebanyak 17 anggota rombongan PRM Karangagung mengikuti kunjungan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 17.00 WIB tersebut.
Rombongan dipimpin Ketua PRM Karangagung Ustaz Fifin Kurniawan. Mereka diterima Ketua PRM Wage Ivan Poerwanto bersama jajaran serta para pengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Ustaz Fifin Kurniawan menuturkan, ada beberapa hal yang ingin dicapai dari kunjungannya. Pertama, ingin melihat aktivitas sebuah ranting. Kedua, mempelajari bagaimana sebuah ranting mengembangkan berbagai AUM.
“Kami ingin melihat apa yang sudah berjalan, belajar memahami proses, lalu mengembangkan sesuai dengan potensi yang ada,” katanya.
Pembelajaran diawali dari sektor pendidikan. Rombongan mendapatkan penjelasan tentang pengelolaan SD Muhammadiyah 3 Ikrom Wage melalui pemaparan Kepala Sekolah Ustazah Suci.
Selain mendengarkan profil sekolah, rombongan berdialog mengenai pengalaman pengelolaan lembaga pendidikan.
Mereka tidak hanya mendapatkan gambaran tentang lembaga yang sudah berjalan, tetapi juga proses yang menyertainya.
Kunjungan dilanjutkan ke TK ABA 25 Wage. Profil lembaga disampaikan Kepala Sekolah Ustazah Dzurodatul Maknun yang pada kesempatan tersebut diwakili Ustazah Farida. Rombongan juga mengenal TPA Cahaya Aisyiyah melalui pemaparan Ustazah Mufidah.
Ketiga lembaga tersebut memberikan gambaran tentang bagaimana Muhammadiyah dan Aisyiyah membangun layanan pendidikan dan pengasuhan sejak usia dini hingga pendidikan dasar.
Tidak Berhenti pada Pendidikan
Yang menarik dari studi tiru ini, pembelajaran tidak berhenti pada sektor pendidikan. PRM Karangagung juga menggali pengalaman PRM Wage dalam mengembangkan bidang ekonomi.
Materi Majelis Ekonomi PRM Wage yang semestinya disampaikan Ir. Saryono diwakili Nanda Dwi Febrianto Putra.
Dalam sesi tersebut, rombongan diperkenalkan dengan sejumlah unit usaha, seperti Toko Mandiri, PT ISM (Ikrom Surya Mandiri), Catering Mandiri, dan Mandiri Tehnik.
Yang menjadi perhatian bukan semata-mata jenis usaha yang dikembangkan, melainkan bagaimana unit-unit tersebut dikelola agar dapat bertahan dan terus memberikan manfaat bagi persyarikatan.
“Kemandirian ekonomi menjadi bagian penting dalam memperkuat gerakan. Amal usaha bukan hanya tentang usaha yang berkembang, tetapi tentang bagaimana keberadaannya menghadirkan manfaat,” terang Saryono.
Dia menjelaskan, AUM dipahami bukan hanya sebagai aset organisasi.
“AUM harus jadi instrumen untuk menopang keberlangsungan gerakan sekaligus menghadirkan manfaat sosial,” timpal Saryono.
Ruang belajar kemudian meluas ke sektor keuangan, filantropi, dan kesehatan. Pengelolaan BTM Ikrom (Baitul Tamwil Muhammadiyah IKROM) dipaparkan Hoiru Rozik Sabki.
Rombongan PRM Karangagung mendapatkan gambaran mengenai lembaga keuangan Muhammadiyah dan perannya dalam mendukung pemberdayaan ekonomi.
Sementara itu, pengelolaan LAZISMU diperkenalkan Ustaz Nadir. Melalui lembaga ini, rombongan mempelajari bagaimana zakat, infak, dan sedekah dikelola sebagai bagian dari gerakan filantropi Muhammadiyah.
Di bidang kesehatan, Klinik Aisyah menjadi objek pembelajaran berikutnya. Ariadi Sas menjelaskan layanan kesehatan yang dikembangkan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
Jika dirangkum, apa yang dilihat PRM Karangagung di Wage menunjukkan satu hal: kekuatan ranting dapat dibangun melalui ekosistem AUM yang bergerak di berbagai bidang.
Pendidikan menjadi salah satu pintu masuk. Ekonomi menopang kemandirian. BTM menguatkan sektor keuangan.
Lazismu menggerakkan filantropi. Klinik menghadirkan pelayanan kesehatan. Semuanya berada dalam satu ekosistem gerakan.
Ketua PRM Wage Ivan Poerwanto menegaskan, pengalaman yang dibagikan dalam studi tiru tidak dimaksudkan untuk disalin begitu saja.
“Setiap ranting memiliki potensi dan tantangan yang berbeda. Karena itu, pengalaman yang dibagikan bukan untuk sekadar ditiru, tetapi menjadi inspirasi untuk menemukan langkah terbaik sesuai potensi masing-masing,” jelasnya.
“Kondisi setiap ranting tidak sama. Apa yang berhasil dikembangkan Wage belum tentu dapat diterapkan secara persis di Karangagung,” imbuh Ivan.
Justru dari proses melihat, bertanya, dan berdiskusi itulah, menurut Ivan, setiap ranting dapat menemukan model pengembangan yang sesuai dengan kekuatan wilayah dan sumber daya yang dimilikinya.
Bagi PRM Karangagung, pengalaman sehari di Wage menjadi bekal untuk melihat kemungkinan pengembangan AUM di rantingnya sendiri.
Bagi PRM Wage, kunjungan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus memperluas jejaring antarranting Muhammadiyah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments