Prestasi internasional kembali ditorehkan guru SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik.
Nur Aini Ochtafiya, M.Pd., atau yang akrab disapa Ustazah Fiya, terpilih mengikuti Specialist Certificate in Teaching English Language Teaching (TELT) di SEAMEO Regional Language Centre (RELC), Singapura, pada 1–18 September 2026.

Program tersebut menjadi salah satu bentuk pengembangan profesional bertaraf internasional yang diikuti Fiya melalui kesempatan beasiswa kerja sama dengan SEAMEO. Keikutsertaannya merupakan bagian dari perjalanan panjang dalam mengembangkan kompetensi yang telah ia bangun sejak 2024.
Kesempatan belajar di Singapura itu bermula dari keberhasilannya mengikuti program IPTE Microcredential hasil kerja sama Ohio University dan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan pada 2024.
Setelah menyelesaikan program dan dinyatakan lulus, para awardee memperoleh penawaran berbagai program pengembangan profesional yang bekerja sama dengan SEAMEO. Dari kesempatan tersebut, Fiya kemudian mengikuti program Specialist Certificate in Teaching English Language Teaching (TELT) di SEAMEO RELC, salah satu pusat pendidikan bahasa yang menjadi bagian dari jaringan SEAMEO.
Fiya menjelaskan, pencapaian tersebut bukan sesuatu yang diperoleh secara instan. Kesempatan belajar di Singapura merupakan hasil dari proses pengembangan diri yang dijalani secara bertahap.
“Bagi saya, kesempatan belajar di Singapura ini bukan sim salabim. Semuanya berawal dari keberanian untuk terus belajar dan menyelesaikan satu proses sebelum melangkah ke proses berikutnya,” ujarnya.
Perjalanan tersebut dimulai dari program microcredential pada 2024. Setelah menyelesaikan program itu, kesempatan mengikuti program internasional melalui SEAMEO menjadi salah satu kelanjutan dari proses pengembangan profesional yang telah dijalaninya.
“Ketika kita mau belajar dan menyelesaikan setiap kesempatan dengan sungguh-sungguh, ternyata satu pintu bisa membuka pintu berikutnya,” tambahnya.
Selama mengikuti program TELT di Singapura, Fiya mendalami berbagai isu dalam pembelajaran bahasa Inggris. Materi yang dipelajari antara lain perkembangan Computer-Assisted Language Learning (CALL) menuju Artificial Intelligence in Education (AIED), evaluasi teknologi pembelajaran, hingga perancangan intervensi pembelajaran.
Pembelajaran tersebut semakin memperkuat pandangannya mengenai pentingnya teacher agency dalam pemanfaatan teknologi dan kecerdasan artifisial di lingkungan pendidikan.
“AI bukan pengganti guru. AI membantu memperluas kemungkinan, tetapi guru tetap menjadi pengambil keputusan. Guru yang menentukan apa yang dibutuhkan siswa, teknologi apa yang relevan, apa yang perlu dimodifikasi, dan apa yang harus ditolak,” jelasnya.
Menurut Fiya, perkembangan teknologi justru menuntut guru untuk semakin reflektif dan kritis dalam menentukan penggunaannya di kelas.
Guru tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga perlu memahami tujuan penggunaannya agar tetap sesuai dengan kebutuhan siswa dan konteks pembelajaran.
Keikutsertaan dalam program internasional tersebut juga menjadi ruang bagi Fiya untuk membawa pengalaman pembelajaran dari SDMM ke lingkungan pendidikan yang lebih luas.
Pengalaman mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi, AI, deep learning, serta integrasi budaya lokal menjadi bekal bagi Fiya untuk berdiskusi dan merefleksikan praktik pembelajaran bersama peserta dari berbagai latar belakang.
“Belajar di lingkungan internasional membuat saya semakin yakin bahwa inovasi pendidikan tidak harus meninggalkan identitas dan konteks lokal. Justru pengalaman dari kelas kita di Indonesia bisa menjadi sesuatu yang dibagikan dan dipelajari bersama,” tuturnya.
Bagi Fiya, kesempatan tersebut bukan sekadar tentang belajar di luar negeri atau memperoleh sertifikat. Lebih dari itu, program internasional tersebut menjadi bagian dari perjalanan seorang guru untuk terus meningkatkan kompetensi dan membawa pulang pengalaman baru ke ruang kelas.
“Semoga apa yang saya pelajari di Singapura tidak berhenti pada diri saya. Saya ingin membawa pulang pengetahuan, pengalaman, dan jejaring ini untuk terus bertumbuh bersama sekolah dan anak-anak di SDMM,” ungkapnya.
Perjalanan Fiya menjadi gambaran bahwa pengembangan profesional guru dapat dibangun secara bertahap. Proses tersebut dapat dimulai dari ruang kelas, berlanjut melalui program microcredential, berkembang menuju kesempatan internasional, kemudian kembali ke sekolah untuk memberikan dampak dalam proses pembelajaran.





0 Tanggapan
Empty Comments