Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 45 dan 46.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 19
***
Halaman 45
Menarik untuk dicatat bahwa seorang pemimpin Islam terkemuka dari Tunisia bernama Abd al-Aziz As-Sa’alaby pernah melawat ke dunia Islam. Ia sampai ke India menemui Maulana Muhammad ‘Ali dan Maulana Syaukat ‘Ali, dan juga sampai ke pulau Jawa. Ia tertarik dengan tokoh pembaharuan Islam di Jawa yang bernama K.H. Ahmad Dahlan.
Ia pun datang menemuinya. Waktu Muhammadiyah memperingati usianya yang ke-25, datang suatu tulisan indah dari pemimpin besar itu, memperingati pertemuannya dengan almarhum K.H. Ahmad Dahlan, dihargainya sebagai seorang yang keras hati, tenang pikiran, dan pembenci faham kolot. ‘Abd al-Aziz As-Sa’alaby meramalkan bahwa kelak Muhammadiyah akan mendapat kedudukan istimewa dalam sejarah pembangunan Islam.(9)
Untuk memenuhi asas legalitas, pada 20 Desember 1912, K.H. Ahmad Dahlan mengajukan surat permintaan “Rechpersoon” kepada pemerintah Hindia Belanda untuk Muhammadiyah sebagai organisasi yang sah. Dalam perjalanannya, Muhammadiyah sebagai organisasi yang legal secara hukum memiliki tiga besluit Rechtspersoonlijkheid, yaitu: Gouvernements Besluit 22 Agustus 1914 No. 81, diubah dengan Gouvernements Besluit 16 Agustus 1920 No. 40, diubah lagi dengan Gouvernements Besluit 2 September 1921 No. 36.(10)
Sikap, perilaku, cita-cita dan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan sebelum dan sesudah mendirikan Muhammadiyah senantiasa berada dalam delapan acuan, yaitu:
1. Keimanan dan tauhid yang bersih kepada Allah.
2. Beribadat yang wajar menurut tuntunan Rasulullah saw.
Halaman 46
3. Bermusyawarah dan bermufakat.
4. Perikemanusiaan.
5. Bebas berpikir untuk menegakkan kebenaran.
6. Beramal saleh dan beramar ma’ruf nahi munkar.
7. Kerukunan dan gotong-royong menuju Ukhuwah Islamiyah.
8. Kesediaan berkorban untuk menegakkan agama.(11)
- Tahap-Tahap Perkembangan
Selain sebagai seorang pembaharu Islam, K.H. Ahmad Dahlan juga adalah seorang pedagang batik(12) dan Penasehat Central Sarikat Islam (CSI). Perjalanannya ke lain daerah di luar Jogjakarta tampaknya juga terkait dengan ketiga profesi itu, sehingga usahanya untuk menyebarkan paham agama Islam yang benar umumnya tersamar dengan aktivitasnya sebagai pedagang batik di pasar dan beriringan dengan jabatannya sebagai penasehat CSI.
Demikian pula perjalanan K.H. Ahmad Dahlan ke Jawa Timur agaknya tidak terlepas dari adanya jaringan perdagangan batik. Kehadirannya di Surabaya, Banyuwangi, dan dua kota kecil di daerah Malang, yaitu Kepanjen dan Sumberpucung, tampaknya juga berkaitan dengan adanya pedagang batik di tempat-tempat tersebut yang berasal dari Jogjakarta atau pelanggan perusahaan batik di kota itu. Sedangkan kunjungannya ke Ponorogo dan Madiun, seperti yang akan diungkapkan kemudian, terkait dengan kapasitasnya sebagai penasehat CSI.
Kehadiran K.H. Ahmad Dahlan di Surabaya disaksikan oleh Ir. Soekarno (yang kemudian menjadi Presiden RI 1945-1967) dan Roeslan Abdulgani (tokoh Jawa Timur). Kedua tokoh ini tidak hanya menyaksikan, bahkan mengikuti pengajiannya di langgar Peneleh, Plampitan, dan di langgar dekat rumah H. Mas Mansur (kawasan Ampel).(13) K.H. Ahmad Dahlan datang ke Surabaya dan memberikan tablighnya di tiga tempat, yaitu di Kampung Peneleh, Plampitan, dan Ampel (sekarang Jl. Kalimas). Kedatangannya ke Surabaya setidak-tidaknya sebanyak tiga kali.(14)
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments