Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 24

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 24

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″,  Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 53, 54, dan sebagian 55.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 23

***

Halaman 53

  1. Tahap Persebaran

Selain ke Surabaya, Banyuwangi, Kepanjen, Sumberpucung dan Ponorogo, K.H. Ahmad Dahlan juga berkunjung ke Madiun. Banyaknya tempat yang dikunjungi K.H. Ahmad Dahlan ini dicatat oleh Solichin Salam. Pada 30 Januari 1922, bersama dengan H. Fachruddin dan M. Abdullah, Dahlan pergi ke Probolinggo dalam rangka menyerahkan ijazah kepada para ulama.

Pada 14 Juni 1922, bersama Nyai Dahlan dan Ny. Umamah, ia hadir di Pengulon, Nganjuk, dalam rangka rapat dengan para ulama. Pada 7 Agustus 1922, bersama H. Hisyam ia datang lagi ke Kepanjen untuk membantu mendirikan sekolah. Pada 12 September 1922, datang ke Bangil dalam rangka tabligh yang diselenggarakan oleh CSI.

Pada 29 Nopember 1922, bersama Nyai Dahlan, ia datang ke Tosari, Pasuruan, dalam rangka mengusahakan berdirinya Muhammadiyah. Di sini KH. Ahmad Dahlan tetirah karena sakit.

Halaman 54

Tidak lama kemudian, tepatnya pada 23 Pebruari 1923, tokoh besar pembaharu ini berpulang ke rahmatullah di Jogjakarta. (40 )

Pada tahap ini Muhammadiyah tersebar ke berbagai tempat di Jawa Timur, yaitu Madiun, Jombang, Malang, Ngawi, Situbondo, Gresik, Jember, Lumajang, Probolinggo, Trenggalek, Bondowoso, Bangkalan, Sumenep dan Sampang.

Madiun. Di Madiun, ada seorang muda berbakat dan kreatif yang peduli terhadap pentingnya pengajian. Dia adalah seorang pelajar kelas 2 Opleiding School yang baru berusia 19 tahun, bernama Moh. Thoyib. Ia bercita-cita memajukan dan meningkatkan pengetahuan agama Islam yang benar. Moh. Thoyib ingin menyelenggarakan tabligh akbar. Keinginannya ini didukung oleh tokoh-tokoh CSI, seperti Raden Tjokro Adi Suryo, Patih Madiun, yang kemudian menjadi Bupati Madiun. (41)

Tabligh akbar akhirnya diselenggarakan di Pendopo Kabupaten dengan mengundang K.H. Ahmad Dahlan. Pengajian ini penting untuk dicatat karena pada waktu itu merupakan sesuatu yang langka. Tabligh akbar seperti itu baru pertama kali diadakan di Madiun yang diselenggarakan di gedung resmi dan disampaikan dalam forum terbuka.

Kehadiran K.H. Ahmad Dahlan di Madiun itu terjadi pada tahun 1922. Selain dalam kapasitasnya sebagai penasehat CSI, ia datang sebagai ketua Hoofdbestuur Muhammadiyah. Dapat diduga dalam rapat umum itu ia juga berbicara tentang paham pembaharuan yang menjadi misi Muhammadiyah. Setelah K.H. Ahmad Dahlan berpidato, ada pertanyaan dari hadirin.

SMPM 5 Pucang SBY

Pertanyaan itu menurut anggapan Wedana Madiun cukup riskan apabila dijawab, karena dapat menimbulkan permusuhan. Maka, Wedana minta agar tidak dijawab. K.H. Ahmad Dahlan menjamin tidak akan timbul apa-apa. Setelah dijawab ternyata memang tidak terjadi apa-apa, tidak timbul keributan apalagi permusuhan. (42 )

Atas prakarsa Abdul Rozak Chaghir Salim (A.R.C. Salim), pejabat Depotbouder O/R Madiun, yang didukung oleh 11 orang yang mempunyai persamaan tekad, sepakat untuk mendirikan Muhammadiyah di Madiun. Pendukungnya berkembang cepat, menjadi 40 orang yang siap menjadi anggota Muhammadiyah. Pada 28-29 Agustus 1924, diadakan rapat anggota. Selain dihadiri oleh

Halaman 55

40 orang tersebut, juga oleh perwakilan dari Desa Jatisari bernama R.M. Hadikusumo dan Sulaeman yang mewakili Kyai Komar dari desa Banjarsari. Rapat itu sedianya menghadirkan Hoodbestuur Muhammadiyah dari Jogjakarta, tetapi ternyata berhalangan hadir.

Namun demikian, rapat berjalan terus dan berhasil menyusun calon pengurus Muhammadiyah Madiun. Adapun susunan pengurus Muhammadiyah adalah sebagai berikut: ARC Salim (ketua), R. Yudodikusumo (wakil ketua), Abdullah Faqih (sekretaris), R.M. Prawirosudirjo (wakil sekretaris), dan Komisaris terdiri dari: R. Prawirodimulyo, M. Suhadi, Sastrosutomo, Notoprayitno dan Harwiryono. (43 )

Di Madiun hadir seorang tokoh perintis Muhammadiyah yang aktivitas dan pengaruhnya amat besar. Tokoh itu bernama Abdul Mu’thi, lahir di Jombang. Ia pernah merantau di Eropa dan pernah belajar ilmu agama Islam di Turki. Sepulang dari perantauannya, pada 1920, ia belajar di pesantren Jamsaren dan Madrasah Mambaul ‘Ulum, Solo, pimpinan K.H. Abu Omar.

Ia langsung duduk di tingkat terakhir. Setamat dari pesantren Jamsaren dan Madrasah Mambaul Ulum, ia aktif berdakwah di Madiun sekitar tahun 1925. Pada 1927, Muhammadiyah Madiun sudah eksis dengan status sebagai cabang. (44 )

Pada 1933 Muhammadiyah Madiun sudah tercatat sebagai Daerah yang menaungi: a. 3 cabang, yaitu Ponorogo, Madiun dan Ngawi; b. 15 groep (ranting), yaitu Pacitan, Walikukun, Uteran, Goranggareng, Magetan, Caruban, Glodok, Nganjuk Barat, Jetis, Siman, Ngunut, Maospati, Balong, Padas, Kertosono dan Sumoroto. (45 ) Konsul HB pertama Daerah Muhammadiyah Madiun (1934) adalah K.H. Abdul Mu’thi. (46 )

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 04/06/2026 16:18
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu