Belakangan ini media sosial diramaikan dengan kembali munculnya istilah “londo ireng”. Pada masa kolonial, istilah tersebut digunakan untuk menyebut pribumi yang bekerja atau membantu kepentingan pemerintah Hindia Belanda, baik sebagai pegawai, tentara, maupun pihak yang mendukung kekuasaan kolonial.
Istilah itu kembali mencuat setelah disebut dalam sebuah pidato yang memicu beragam respons publik. Tak sedikit warganet kemudian menelusuri tokoh-tokoh sejarah yang pernah berada di pihak kolonial, bahkan mengaitkannya dengan silsilah tokoh masa kini. Akibatnya, diskusi sejarah bergeser menjadi perdebatan identitas yang kerap mengabaikan substansi.
Padahal, apabila ingin benar-benar belajar dari sejarah, perhatian kita semestinya tidak berhenti pada siapa yang diberi label “londo ireng”, tetapi kepada tokoh-tokoh yang berjuang melawan kolonialisme. Salah satu di antaranya adalah Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa yang menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda.
Perang Jawa atau Perang Diponegoro yang berlangsung pada 1825–1830 merupakan salah satu peperangan terbesar yang pernah dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Nusantara.
Perang tersebut menguras biaya sangat besar, menelan banyak korban dari pihak Belanda, serta memaksa pemerintah kolonial mengubah strategi kekuasaannya di Hindia Belanda. Dampak ekonominya bahkan ikut memengaruhi berbagai kebijakan kolonial pada masa berikutnya.
Keberhasilan Diponegoro bertahan selama lima tahun bukan semata karena kekuatan persenjataan, melainkan karena strategi perang gerilya yang memanfaatkan kondisi geografis serta dukungan masyarakat pedesaan.
Dengan memahami medan pegunungan dan hutan, Diponegoro mampu membuat pasukan kolonial yang memiliki perlengkapan militer lebih modern mengalami kesulitan menghadapi perlawanan rakyat.
Ironisnya, sosok sebesar Diponegoro sering kali hanya dipelajari secara singkat di bangku sekolah.
Banyak pelajar mengenal tanggal, nama perang, atau tahun penangkapannya, tetapi belum tentu memahami nilai perjuangan, kepemimpinan, dan strategi yang membuatnya dikenang sebagai pahlawan nasional.
Akibatnya, sejarah lebih sering dipahami sebagai kumpulan angka yang harus dihafalkan daripada kisah yang menyimpan pelajaran bagi kehidupan masa kini.
Penulis mengaku justru lebih mengenal sosok Diponegoro melalui kanal YouTube Ustaz Salim Fillah. Melalui pendekatan storytelling, sejarah disampaikan sebagai kisah yang hidup sehingga tokoh-tokohnya terasa lebih dekat dengan pembaca maupun pendengar.
Dalam penyajian seperti itu, Diponegoro tidak hanya dipahami sebagai nama dalam buku pelajaran, tetapi sebagai pemimpin yang memiliki prinsip, strategi, kegelisahan, dan keberanian menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar.
Selain melalui buku dan cerita, sejarah juga dapat dipelajari melalui karya seni.
Salah satu karya yang paling dikenal adalah lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” karya Raden Saleh, yang sering dibandingkan dengan lukisan bertema sama karya Nicolaas Pieneman.
Meski menggambarkan peristiwa yang sama, kedua lukisan tersebut menghadirkan sudut pandang berbeda.
Dalam karya Pieneman, Diponegoro digambarkan sebagai tokoh yang telah kalah dan menyerah kepada pemerintah kolonial.
Sebaliknya, Raden Saleh menampilkan Diponegoro tetap berdiri tegak dengan penuh martabat, sementara para pejabat Belanda digambarkan dengan gestur angkuh. Lukisan itu dipandang bukan sekadar karya seni, melainkan bentuk kritik terhadap narasi kolonial yang berkembang saat itu.
Bagi masyarakat yang ingin memahami makna di balik kedua karya tersebut, tersedia berbagai kajian sejarah, salah satunya melalui kanal YouTube Tangan Belang, yang membahas simbol dan perspektif dalam lukisan tersebut.
Belajar sejarah tidak cukup hanya mengetahui siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Sejarah juga mengajarkan bagaimana sebuah narasi dibangun, siapa yang menuliskannya, serta kepentingan apa yang mungkin melatarbelakanginya.
Dengan membandingkan berbagai sumber, masyarakat dapat mengembangkan sikap kritis dan tidak mudah menerima satu sudut pandang sebagai satu-satunya kebenaran.
Bagi generasi Z dan milenial, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan bekal untuk memahami berbagai persoalan masa kini.
Pola propaganda, polarisasi masyarakat, hingga perebutan narasi sering kali terus berulang, hanya medianya yang berubah. Jika dahulu melalui surat kabar dan selebaran, kini melalui media sosial dan algoritma digital.
Karena itu, ungkapan bahwa sejarah dapat berulang bukan sekadar pepatah. Yang berulang adalah pola berpikir, cara membangun opini, dan konsekuensi ketika masyarakat melupakan pelajaran dari masa lalu.
Momentum kembali populernya istilah “londo ireng” seharusnya menjadi pintu untuk memperdalam pemahaman terhadap sejarah perjuangan bangsa, bukan sekadar memperdebatkan label.
Sebab pada akhirnya, karakter bangsa tidak dibentuk oleh seberapa ramai memperbincangkan istilah tertentu, melainkan oleh seberapa dalam memahami nilai perjuangan para tokoh yang telah mewariskan teladan bagi generasi berikutnya.





0 Tanggapan
Empty Comments