Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Cara Muhammadiyah Memaknai Maulid Nabi

Iklan Landscape Smamda
Cara Muhammadiyah Memaknai Maulid Nabi
Oleh : Bagas Avicienna Subagyo Kader Muhammadiyah

Anggapan bahwa Muhammadiyah mengharamkan atau menolak perayaan Maulid Nabi merupakan pemahaman yang kurang tepat. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah memandang peringatan Maulid Nabi sebagai perkara ijtihadiyah yang hukum asalnya mubah atau boleh. Tidak ada dalil syar’i yang mewajibkannya, tetapi tidak ada pula dalil yang secara tegas melarangnya.

Namun, Muhammadiyah memiliki cara atau sudut pandang dan pendekatan tersendiri dalam memperingatinya. Bentuk perayaan tidak hanya sekadar seremoni ritualistis menuju refleksi pemikiran (tajdid) dan aksi nyata (amaliyah) yang memberikan manfaat bagi kehidupan umat dan masyarakat.

Menekankan Substansi di Atas Seremonial

Cara Muhammadiyah memaknai dan memperingati Maulid Nabi yang pertama adalah menekankan substansi di atas seremonial. Muhammadiyah menghindari perayaan yang berisi ritual tanpa dasar dalil yang kuat atau mengarah pada pengultusan figur Nabi secara berlebihan.

Perayaan kembali pada esensinya, yakni penguatan akidah dan peneladanan sifat uswatun hasanah Rasulullah SAW.

Dalam konteks waktu, Muhammadiyah juga memandang penguatan sirah atau perjalanan hidup Nabi tidak harus terikat secara kaku pada tanggal 12 Rabiul Awal. Momentum pengajian sirah, tabligh akbar, maupun kajian tentang Rasulullah SAW dapat dilaksanakan kapan saja sesuai kebutuhan dakwah dan kondisi masyarakat di daerah masing-masing.

Muhammadiyah juga mentransformasikan keteladanan terhadap sifat Rasulullah SAW yang rahmatan lil ‘alamin dalam bentuk aksi konkret. Para kader Muhammadiyah kerap mengisi momentum tersebut dengan kegiatan pengobatan gratis, pembagian sembako, penyaluran santunan, dan berbagai aksi kemanusiaan lainnya.

Dengan demikian, cara kader Muhammadiyah merayakan Maulid Nabi tidak berhenti pada seremoni, tetapi melalui tindakan nyata yang dapat langsung bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Menterjemahkan cinta kepada Rasulullah SAW dalam bentuk kepedulian dan keberpihakan kepada sesama.

SMPM 5 Pucang SBY

Memperkuat Intelektual dan Menghidupkan Risalah

Penguatan intelektual dan edukasi menjadi bagian penting dalam refleksi Maulid. Momentum tersebut dapat diisi dengan pengajian, seminar, kajian ilmiah, serta penguatan pendidikan. Mempelajari Piagam Madinah dan strategi dakwah Rasulullah SAW dapat menjadi acuan untuk membangun peradaban modern yang berkeadilan, menghargai, serta menjunjung tinggi keberagaman.

Pada akhirnya, Maulid Nabi bagi Muhammadiyah merupakan momentum untuk meneladani akhlak sekaligus menghidupkan risalah. Ukuran keberhasilannya bukan meriahnya panggung acara atau banyaknya lantunan zikir dan selawat yang berhenti di tenggorokan.

Peringatan dinilai berhasil apabila mampu mengubah perilaku umat menjadi lebih berakhlak, jujur, peduli kepada sesama, dan siap berkontribusi bagi kemajuan peradaban.

Cinta kepada Nabi Muhammad SAW diwujudkan dengan menghidupkan risalahnya. Salah satunya melalui upaya membebaskan manusia dari kebodohan lewat pendidikan, mengentaskan kemiskinan melalui pelayanan sosial, serta menanamkan nilai perdamaian dan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam kehidupan bernegara.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 27/08/2026 23:44
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu