Bayangkan sebuah organisasi yang tim medisnya sudah lebih dulu sampai di lokasi bencana, sebelum kabar soal bencana itu sendiri ramai di media sosial. Itulah gambaran Muhammadiyah hari ini. Tapi ironisnya, kecepatan menolong itu tidak selalu berbanding lurus dengan kecepatan mengabarkan.
Selama ini, kapasitas kebencanaan Muhammadiyah tidak perlu diragukan lagi. Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) memiliki jaringan relawan hingga tingkat kabupaten. Organisasi ini juga mengelola ratusan fasilitas kesehatan, mulai dari rumah sakit, klinik, hingga perguruan tinggi kesehatan.
Bahkan, Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah mencatat sejarah sebagai tim medis darurat non-pemerintah pertama dan satu-satunya di Indonesia yang resmi tersertifikasi berstandar internasional oleh WHO pada Oktober 2025. Dari sisi pendanaan, Lazismu selalu siap mendukung, ditambah instruksi infak Jumat yang kerap digulirkan setiap kali terjadi bencana.
Banjir Bandang Sumatera, Kebakaran Hutan di Kalimantan serta Gempa NTT adalah bencana terupdate yang Muhammadiyah selalu melakukan respon terdepan. Singkatnya, “emergency room” Muhammadiyah sudah sangat kuat.
Kekuatan yang Belum Terhubung
Namun, di era informasi, kekuatan lapangan saja tidak cukup. Di sinilah peran media menjadi penentu. Muhammadiyah sebenarnya memiliki aset besar: Media Afiliasi Muhammadiyah. Dari Suara Muhammadiyah, muhammadiyah.or.id, Suara Aisyiyah, tvMu, hingga media-media di tingkat wilayah dan daerah—total sekitar 57 media online. Sayangnya, selama ini mereka cenderung bergerak sendiri-sendiri.
Saat bencana datang, tim respon bencana dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah kadang sering membawa tim media sendiri, baik untuk kebutuhan penyebaran melalui portal berita maupun sosial media. Sayangnya, mereka hanya mempublis pada akunnya sendiri. Sangat disayangkan.
Andaikan data dan berita serta visual yang didapat bisa diolah oleh media yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, maka akan menjadikan respon kebencanaan Muhammadiyah menjadi lebih paripurna.
MDMC sepertinya belum menseriusi kekuatan media yang dimiliki Muhammadiyah untuk dalam satu gerakan respon yang biasa disebut One Muhammadiyah One Respon (OMOR).
Kekuatan media sendiri dalam kebencanaan kalau diintegrasikan dengan tim respon kebencanaan yang lain seperti MDMC sangatlah dahsyat. Karena wartawan sudah memiliki keahlian dalam memetakan masalah dan ini sangat cocok apabila para wartawan media Afiliasi Muhammadiyah juga dijadikan sebagai tim asesmen.
Terjun pertama mencari data, mengidentifikasi serta membuat jejaring dengan potensi lokal. Keahlian wartawan yang mampu menembus narasumber, memperoleh data dan mengolah data secara cepat menjadikan proses respon bencana semakin terarah, cepat dan akurat.
Nantinya wartawan Muhammadiyah tidak saja menulis, namun juga mendapatkan amanah kemanusiaan.
Saat Media Turun Tangan
Menariknya, momentum perubahan muncul dalam Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah #3 pada 12–13 Agustus 2026 di Aula Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Lebih dari 50 media sepakat membentuk Newsroom Muhammadiyah, jejaring informasi bersama yang diharapkan menjadi pusat koordinasi pemberitaan, terutama saat bencana dan isu-isu kemuhammadiyahan lainnya.
Model semacam ini sebenarnya sudah dipraktikkan lembaga internasional. PBB melalui OCHA memiliki ReliefWeb, Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC) mengoperasikan sistem informasi kemanusiaan, sementara BNPB memiliki pusat data dan informasi kebencanaan.
Namun, newsroom berbasis media afiliasi ormas dengan jaringan akar rumput seluas Muhammadiyah relatif unik.
Bayangkan, saat bencana tiba, Mobil Poskord berlogo MDMC meluncur yang di dalamnya sudah ada perangkat komunikasi mobile, beberapa komputer, ada perangkat audio video yang bisa melakukan live streaming di lokasi bencana untuk melaporkan kegiatan respon Muhammadiyah.
Bisa wawancara langsung dengan korban. Mengolah data di dalam satu mobil, baik untuk data respon maupun data publikasi. Hasil editing data, berita, foto dan video dikirim ke server LabMu.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah bisa melihat langsung pergerakan respon MDMC. Sementara puluhan media serta ratusan sosial media afiliasi Muhammadiyah memproduksi konten dengan sumber yang sama, tetapi dengan rasa sesuai media masing-masing.
Agar berjalan efektif, Newsroom Muhammadiyah perlu menyiapkan beberapa hal: standard operating procedure (SOP) peliputan bencana, protokol verifikasi data, pelatihan jurnalis tanggap darurat, serta platform teknologi yang tetap bisa diakses saat listrik dan internet terbatas.
Koordinasi dengan MDMC dan Lazismu juga harus diperkuat agar data korban, kebutuhan logistik, dan penyaluran donasi bisa disampaikan secara transparan.
Tentu ada kendala. Ego sektoral antar media, keterbatasan sumber daya, sulitnya akses lapangan saat bencana, serta tarik-menarik antara kecepatan dan akurasi menjadi tantangan klasik. Belum lagi persoalan listrik dan sinyal di lokasi bencana.
Semua ini sebenarnya bagi Muhammadiyah bukan pekerjaan sulit, karena organisasi ini sudah banyak makan garam perjuangan.
Namun, kelebihannya jauh lebih besar. Dengan newsroom, Muhammadiyah bisa menyajikan informasi terpusat, tercepat, memerangi hoaks, dan membangun transparansi donasi.
Dampaknya pun signifikan: publik akan menjadikan Muhammadiyah sebagai rujukan informasi kebencanaan, kepercayaan masyarakat meningkat, dan gerakan kemanusiaan menjadi lebih terkoordinasi.
Dari ruang gawat darurat ke ruang berita, Muhammadiyah tidak hanya berupaya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menyelamatkan kebenaran. Itulah wajah baru kemanusiaan Muhammadiyah. Ini bukan mimpi, tapi ikhtiar yang harus disegerakan.***





0 Tanggapan
Empty Comments